HomeInspirasiAspirasi DamaiBela Perdamaian Indonesia

Bela Perdamaian Indonesia

Minggu pagi 19 Desember 1949, pasukan militer Belanda berhasil menduduki Yogyakarta, yang kala itu menjadi ibukota RI. Soekarno, Hatta, dan beberapa pemimpin RI lain berada dalam status tawanan militer Belanda. Belanda dengan segera menyiarkan berita kepada dunia internasional bahwa RI sudah bubar.

Maklumat ini tentu membahayakan status RI. Sebagai negara baru yang belum mendapat pengakuan internasional, ia perlu memenuhi beberapa syarat hukum internasional, di antaranya penguasaan wilayah, penduduk, dan pemerintahan.

Baca juga “Himne” Pejuang Perdamaian

Agar tidak kehilangan eksistensi, Sjafruddin Prawiranegara, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran berinisiatif mengeksekusi rencana yang pernah disusunnya bersama dengan Hatta, yaitu Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Setelah melalui musyawarah kilat, berdirilah PDRI di Halaban (Limapuluh Koto) Sumatra Barat pada 22 Desember 1948, dua hari setelah Belanda menguasai ibukota Yogyakarta.

Agresi militer yang memicu lahirnya PDRI lantas diperingati secara resmi sebagai Hari Bela Negara melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006. Tanpa harus diformalisasikan, sejatinya bela negara merupakan tanggung jawab bersama setiap warga negara RI untuk ikut serta dalam menjaga keutuhan, kedaulatan, dan keselamatan negara.

Baca juga Pertobatan Mantan Ekstremis untuk Indonesia Damai

Salah satu ancaman terhadap keutuhan dan keselamatan negara adalah ekstremisme kekerasan. Berdasarkan fakta, ekstremisme kekerasan telah menyulut terjadinya konflik dan aksi-aksi tak berperimanusiaan yang menumpahkan darah anak-anak bangsa. Oleh karena itu, upaya untuk menanggulangi ekstremisme kekerasan merupakan bagian integral dari semangat bela negara.

Fondasi utama pembangunan dan kemajuan bangsa adalah perdamaian dan ketentraman. Tanpa kedamaian, upaya pembangunan akan terhambat, aktivitas perekonomian tersendat, dan masyarakat akan terus menerus hidup dalam ketakutan. Walhasil menjaga perdamaian merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga negara.

Baca juga Belajar Bersyukur dari Kisah Korban Bom

Sebagai bagian dari semangat bela Negara, setiap warga memiliki peran dalam menanggulangi ekstremisme kekerasan . Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain:

  1. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya ekstremisme melalui pendidikan dan sosialisasi, seperti halnya yang dilakukan oleh AIDA dalam menyebarkan pesan perdamaian melalui kisah korban dan mantan pelaku terorisme. 
  2. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam memantau dan melaporkan aktivitas yang mencurigakan terkait dengan ekstremisme. 
  3. Membangun kultur toleran dan menghormati perbedaan SARA di masyarakat.

Baca juga Aspirasi Damai Maulid Nabi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengorbanan Tanpa Batas

Hari Ibu, yang diperingati setiap 22 Desember, adalah momen istimewa untuk...

Menjaga Keharmonisan di Tengah Masyarakat

Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjaga persaudaraan atau perdamaian antarsesama. Dalam kehidupan...

Menemukan Kedamaian di Tengah Kegelapan

Aliansi Indonesia Damai- Memaafkan mudah diucapkan, namun tidak semua orang mampu...

Hari Internasional bagi Korban Terorisme: Mengenang dan Menguatkan Semangat Kemanusiaan

Setiap 21 Agustus, dunia memperingati Hari Internasional Peringatan dan Penghormatan bagi...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...