HomeBeritaRemaja Penggerak Perdamaian

Remaja Penggerak Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sebenarnya sangat bangga kepada anak-anak muda dari AIDA ini karena mempunyai pemikiran cemerlang, mempunyai niat yang baik. Maka saya juga sangat berharap kepada anak- anakku semua untuk jadi promotor perdamaian di Indonesia, karena kita bisa bersekolah dengan aman dengan baik tanpa ada gangguan apa pun.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bambang Agus Santoso, Kepala SMAN 7 Surabaya, dalam kegiatan kampanye perdamaian di kalangan pelajar yang  digelar AIDA beberapa waktu lalu di sekolah tersebut. Kegiatan bertemakan “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” itu diikuti sekitar 80-an siswa perwakilan dari pelbagai kelas dan jurusan.

Baca juga Menyemai Damai di SMAN 2 Bima

Dalam kesempatan tersebut, AIDA mengajak para peserta untuk belajar dari kisah korban terorisme dan mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang telah berdamai satu sama lain. Ahmad Shiddiq, fasilitator kegiatan, menegaskan pentingnya belajar memaafkan dari korban dan menghindari paham kekerasan dari mantan pelaku terorisme.

Dalam hemat Shidiq, apa yang dilakukan oleh dua pihak tersebut merupakan potret ketangguhan yang  harus diteladani. “Generasi tangguh adalah generasi yang kuat, generasi yang tidak mudah menyerah dengan kondisi saat ini,” ujarnya.

Baca juga Pelajar SMAN 1 Belo: Junjung Tinggi Perdamaian

Selama acara berlangsung, para peserta mendengarkan kisah-kisah inspiratif dari penyintas dan mantan pelaku kekerasan. Salah satunya adalah kisah Sudirman, penyintas Bom Kuningan 2004. Ia sukses melewati masa sulit dengan penuh perjuangan. Saat ini ia telah memaafkan pelaku yang menyebabkannya menjadi seorang difabel.

Baginya, para pelaku terorisme hanya orang-orang yang khilaf dan keliru dalam memahami agama. Marah dan dendam tak mengembalikan apa pun darinya. Sudirman memilih melanjutkan hidup agar tercipta perdamaian. “Perdamaian bukan tanggung jawab pelaku, bukan tanggung jawab korban, tapi tanggung jawab kita semua,” tuturnya.

Baca juga Safari Perdamaian SMAN 1 Woha Bima

Kisah lain yang tidak kalah inspiratif adalah cerita mantan pelaku terorisme, Mukhtar Khairi. Perjalanan hidupnya di dunia kekerasan cukup panjang sampai akhirnya dihukum penjara karena kasus pelatihan militer. Perlahan ia mulai berubah menuju jalan yang benar, salah satu faktornya adalah korban.“Pertemuan saya dengan para penyintas membuat saya sadar. Bukan hanya saya, ikhwan-ikhwan teman saya menangis setelah mendengar keluh kesah dan duka para korban tersebut,” ujarnya tulus. [FKR]

Baca juga Dari Penyintas Bom untuk Al-Husainy Bima

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...