Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman.
Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten, Jawa Tengah, akhir November 2025 lalu. Pengajian yang diselenggarakan AIDA bekerja sama dengan Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Solo Raya yang diselenggarakan sebelumnya.
Pengajian dimaksudkan untuk menguatkan kesadaran masyarakat dan aktivis keagamaan akan pentingnya merawat perdamaian dengan menyerap ‘ibroh (pembelajaran) dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme.
Baca juga: Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni
“Bayangkan seperti di negara lain, ketika mereka sedang salat tidak bisa khusyuk karena tahu-tahu bom meledak. Mereka tidak bisa belajar dan sekolah dengan tenang. Bahkan, di rumah sakit saja tahu-tahu bom jatuh. Kondisi demikian tidak aman dan tidak nyaman,” ujar Ismail.
Ia menegaskan bila suatu negara terjadi konflik atau perang maka setelahnya harus membangun bangsanya kembali seperti Suriah. Menurut dia, bangsa Suriah memiliki pekerjaan rumah yang sangat panjang untuk membangun bangsanya, menyediakan infrastruktur yang sangat banyak dan sangat mahal.
Baca juga: Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri
“Apa kita menginginkan seperti itu. Tentu saja tidak. Yang kita inginkan adalah Indonesia damai. Ketika dalam keadaan damai maka kita harus menjadi duta perdamaian,” tegasnya. [AS]
