HomeOpiniIqra’ Literasi Kritis untuk...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina

Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026

Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi keilmuan dalam Islam. Ahli tafsir ternama M Quraish Shihab (1992) menafsirkan Iqra’ bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca realitas, diri, masyarakat, dan tanda-tanda zaman. Sedangkan bagi Nurcholish Madjid (1992), Iqra’ adalah dasar lahirnya etos intelektual Islam, keberanian berpikir, keterbukaan terhadap ilmu, dan kesediaan mengoreksi diri.

Di tengah terjadinya polarisasi politik, disrupsi digital, krisis kepercayaan publik, ketimpangan ekonomi dan sosial yang tinggi, Iqra’ menemukan relevansinya sebagai seruan literasi kritis untuk memahami situasi bangsa secara jernih dan bertanggung jawab. Iqra’ juga diartikan sebagai cara membaca konteks sosial, ekonomi dan kebangsaan dengan nalar yang jernih, terbebas dari tekanan dan rasa takut dari pihak mana pun, kecuali kepada Zat yang Maha Kuasa.

Dengan perkembangan media sosial yang sangat masif seperti saat ini, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan mengenali huruf dan menyerap informasi. Di era banjir data dan algoritma, literasi harus ditingkatkan menjadi literasi kritis, kemampuan memilah, menguji, dan menimbang informasi dalam bingkai etika dan kepentingan publik. Saat ini, lanskap komunikasi ditandai oleh kecepatan, sensasi, dan fragmentasi. Tanpa literasi kritis, masyarakat mudah terperangkap dalam pusaran hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda.

Baca juga Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Membaca tidak bisa dipisahkan dari membaca dunia (reading the word and the world), yang sudah lama diingatkan oleh Paulo Freire, seorang ahli pendidikan dari Brasil. Dalam karya monumentalnya, Pedagogy of the Oppressed (1970), Freire menegaskan bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan meninabobokan. Pendidikan yang membebaskan menumbuhkan kesadaran kritis akan struktur sosial, relasi kuasa, dan ketidakadilan.

Dalam membaca kondisi Indonesia hari ini, kesadaran kritis itu diperlukan untuk membaca isu-isu seperti korupsi, kemiskinan dan pengangguran struktural, bencana ekologis, serta kebijakan yang tidak relevan dengan realitas masyarakat hari ini. Di sini, Iqra’ sebagai etos spiritual dan intelektual bertemu dengan gagasan ruang publik dari Jurgen Habermas. Dalam The Structural Transformation of the Public Sphere (1989), Habermas menggambarkan pentingnya ruang publik rasional, ruang di mana warga berdiskusi secara setara, berbasis argumen, bukan manipulasi data dan fakta.

Media sosial, yang semestinya membuka ruang partisipasi, justru kerap terjebak dalam logika komersial dan politik yang mendorong terjadinya polarisasi antarkepentingan politik dan ekonomi tertentu. Selain itu, literasi kritis juga berkaitan dengan integritas demokrasi. Demokrasi bukan hanya soal pemilu lima tahunan, melainkan tentang kualitas percakapan publik sehari-hari. Ketika warga tidak memiliki kecakapan untuk memeriksa fakta, mengenali bias, dan memahami konteks, demokrasi menjadi rapuh. Populisme tumbuh subur di tanah yang minim literasi kritis. Narasi sederhana yang saling menyalahkan lebih mudah diterima ketimbang analisis kompleks tentang masalah struktural dan sistematis.

Baca juga Pentingnya Kecerdasan Multikultural dalam Masyarakat Plural

Iqra’ sebagai Metode Membaca Kritis Indonesia sesungguhnya memiliki warisan tradisi intelektual yang kaya dari NU dan Muhammadiyah untuk menopang literasi kritis. Hal ini terdapat dalam tradisi keilmuan pesantren dan perguruan tinggi umum, di mana praktik Iqra’ yang kontekstual membaca teks suci sekaligus membaca realitas sosial. Di perguruan tinggi, diskursus kritis berkembang dalam kajian hukum, ekonomi, politik, dan ilmu sosial lainnya.

Namun, tantangannya adalah bagaimana menjembatani menara gading dunia akademik dengan ruang publik yang bisa diakses secara luas. Ruang publik yang sehat akan melahirkan demokrasi yang berkualitas. Demokrasi membutuhkan warga yang mampu berdialog, bukan sekadar bersorak seperti yang terlihat dalam setiap pemilu. Polarisasi identitas yang mengeras dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan rapuhnya budaya baca dan budaya diskusi. Ruang publik sering dipenuhi ujaran kebencian dan simplifikasi persoalan.

Padahal, seperti ditekankan Cak Nur, kematangan beragama tercermin dari kemampuan menghargai perbedaan dan menempatkan agama sebagai sumber moral, bukan alat mobilisasi politik. Begitu pula, peran media massa sebagai arus utama juga krusial. Di tengah persaingan klik dan tekanan ekonomi, media perlu mempertahankan standar verifikasi dan kedalaman liputan. Jurnalisme yang investigatif dan kontekstual membantu publik memahami persoalan secara utuh, bukan sepotong-sepotong.

Di sinilah peran media yang kredibel dalam memainkan peran sebagai penjernih, menyampaikan data dan fakta yang sesungguhnya bukan sekadar penggaung yang sudah dikondisikan oleh kepentingan politik dan pemilik modal tertentu. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah literasi kritis yang menuntut adanya standar etika yang bisa dipertanggungjawabkan. Membaca dengan kritis bukan berarti sinis terhadap segala hal. Skeptisisme harus diimbangi dengan keterbukaan dan empati.

Baca juga Menakar Kurikulum Cinta

Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, literasi kritis harus berjalan seiring dengan literasi kebinekaan. Membaca situasi bangsa berarti juga membaca keragaman pengalaman dari kota hingga desa, dari pusat hingga daerah, semuanya tersaji secara proporsional. Dalam dinamika kebangsaan, Iqra’ dapat dimaknai sebagai panggilan untuk membaca ulang cita-cita pendiri bangsa.

Apakah kebijakan publik hari ini selaras dengan amanat konstitusi tentang keadilan sosial atau apakah pembangunan memperhatikan keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan serta menjaga martabat manusia. Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut warga yang terdidik secara kritis, bukan sekadar penonton dan menerima tanpa daya. Iqra’ perlu dijadikan sebagai sebuah gerakan kebudayaan, membentuk masyarakat yang gemar membaca kondisi dan realita yang ada, mendiskusikannya tanpa rasa takut, dan menuliskan gagasan itu.

Bangsa yang sehat memerlukan perpustakaan yang hidup, komunitas literasi yang aktif, dan dukungan kebijakan yang konsisten. Negara, sekolah, keluarga, media, dan komunitas harus bergandengan tangan menumbuhkan ekosistem literasi yang kuat. Seruan Iqra’ yang turun lebih dari empat belas abad lalu tidak pernah kehilangan daya gugahnya.

Di tengah kebisingan informasi dan kompleksitas persoalan bangsa, kita perlu membaca lebih dalam, berpikir lebih jernih, dan bertindak lebih bijak. Literasi kritis bukan kemewahan intelektual, melainkan kebutuhan demokrasi. Dengan Iqra’, tidak hanya sekadar membaca teks, tetapi juga menafsirkan perkembangan zaman dan masa depan.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...