HomeTajukDengan Puasa Mari Tingkatkan...

Dengan Puasa Mari Tingkatkan Etos Kerja

Bulan penuh ampunan, itulah ungkapan yang selalu melekat dengan Ramadhan. Dengan saling memaafkan maka kita sedang membuktikan bahwa kita adalah ciptaan puncak dan mulia. Nilai ini pulalah yang senantiasa dikembangkan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Nilai yang dipetik dari contoh baik para korban dan mantan pelaku terorisme, sebagian dari mereka bisa berdamai bahkan saling memaafkan.

Ramadhan diyakini sebagai bulan kudus oleh umat Islam. Bulan di mana makan, minum, dan pelampiasan hawa nafsu lainnya diharamkan kepada seluruh muslim yang berkewajiban serta mampu menjalankannya tanpa pandang identitas kelamin, ras, dan etnisnya, kecuali jika ada aral. Ritual puasa mendidik umat untuk melihat dan menghargai keragaman. Kita beragam, kita berbeda, tapi kita satu, sama-sama berpuasa.

Substansi puasa adalah pembelajaran kepada manusia atas pengendalian hawa nafsunya. Dengan mengendalikan hawa nafsu maka manusia akan mengarah pada kedamaian dan tidak melampaui harkat kemanusiaannya. Karena, demi pemenuhan kebutuhan nafsu, individu kerap menghalalkan segala cara, sehingga tak jarang memicu kemudaratan bahkan kekerasan. Manusia yang dikaruniai akal dan nafsu bisa terjerembab pada kehinaan setara binatang jika tak kuasa mengelola kebutuhan biologis itu. 

Mengapa puasa ditempatkan di siang hari, waktu ketika manusia termasgulkan pada pekerjaan-pekerjaan duniawinya? Ali Al-Jurjawi dalam Hikmatu al-Tasyri’ Wa Falsafatuhu (1994: 150) menyitir hadits Rasul  yang menegaskan bahwa sebaik-baik ibadaialah yang terberat perjuangan pelaksanaannya.

Manusia bekerja keras di siang hari kala terik matahari menyengat sehingga tubuh perlu asupan untuk reproduksi energi. Namun Islam justru melarangnya di bulan Ramadan dan baru menghalalkannya pascamentari terbenam. Puasa tidak diwajibkan saat sebagian besar orang terlelap dalam peristirahatan. Hal ini mengindikasikan, motif puasa tidak berhenti pada pengendalian hasrat, lebih dari itu sebagai ujian etos hidup manusia dan dorongan untuk berjuang mengarungi hidup kendati aral selalu melintang.

Puasa dilakukan secara serentak sebagai perwujudan perintah Tuhan bahwa manusia cuma dibedakan oleh aspek esoterisnya, yaitu ketakwaan kepadaTuhan (Qs. Al-Hujurot: 13). Ketakwaan secara umum sering didefinisikan dengan mengerjakan segala amal yang diperintahkan Tuhan dan meninggalkan larangan-Nya dalam situasi apa pun.

Selanjutnya kami keluarga besar Yayasan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), mengucapkan selamat menunaikan Ibadab Puasa Ramadhan 1437 H, semoga semangat perdamaian dan rasa saling memafkan dapat mengarahkan kita semua pada perwujudan Indonesia damai. [TS]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...