HomeBeritaMembumikan Islam Wasathiyah di...

Membumikan Islam Wasathiyah di Lombok Timur

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan kegiatan Pengajian dan Diskusi Film “TANGGUH” di Pondok Pesantren Darul Abidin Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada pertengahan Oktober lalu. Kegiatan terselenggara atas kerjasama AIDA dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian AIDA, Al-Azhari.

Dalam kegiatan, Azhari menekankan pentingnya menerapkan Wasathiyatul Islam atau moderasi dalam beragama. Menurutnya, dalam moderasi beragama, seorang Muslim dilarang memaksa penganut agama lain untuk memeluk Islam. Seorang Muslim sejatinya hanya ditugaskan untuk berdakwah, sedangkan hidayah merupakan ketetapan Allah Swt.

“Manusia itu berinteraksi dan berkomunikasi antar sesama. Makanya perlu diwanti-wanti, jangan sampai mengikuti langkah teroris. Padahal kita mengajarkan wasathiyah. Kalau ada orang berbuat buruk, sudah tinggalkan. Tapi tidak perlu dimusuhi, ditinggalkan saja,” tutup Azhari.

Baca juga AIDA Gelar Dialog Perdamaian di Universitas Muhammadiyah Mataram

Alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini juga menekankan bahwa misi besar Rasulullah Saw sejak awal adalah menyebarkan rahmat. Rahmat tersebut tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, melainkan kepada seluruh ekosistem di alam semesta. “Menyayangi makhluk yang ada di bumi akan mendatangkan kasih sayang dari penduduk langit,” ujarnya.

Menurut Azhari, Film ‘TANGGUH’ memberikan banyak pembelajaran tentang dampak dan bahaya kekerasan ekstremisme. Islam mengajarkan pemeluknya untuk membantu saudara yang zalim ataupun yang dizalimi. Semua orang berpotensi menjadi korban, begitupun sebaliknya, semuanya berpotensi menjadi pelaku.

“Bagaimana supaya kita tidak terpapar? Itu yang perlu kita ambil dari Film ‘TANGGUH’ supaya kita mendapatkan ibroh (pembelajaran). Ibroh itu supaya kita mengambil pelajaran dari suatu kejadian. Setiap peristiwa pasti ada pelajarannya,” tegas Azhari.

Baca juga Mensyukuri Indonesia dari Lombok Timur

Menurut dia cerita yang ada di Film ‘TANGGUH’ merupakan kisah nyata bukan fiksi atau hoaks. Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan informasi yang diperoleh dari media sosial, apalagi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya.

Azhari menyadari bahwa mencari kebenaran memang bukan langkah yang mudah. Apalagi jika dihadapkan pada kebiasaan masyarakat yang mudah sekali melupakan banyak kebaikan orang lain hanya karena satu keburukan. “Harusnya dibalik. sembilan keburukan dengan satu kebaikannya, baru waspada. Kalau keburukannya lebih banyak, berarti kebaikannya hanya modus,” tegas Azhari. [FAH]

Baca juga Kekerasan sebagai Reaksi Ketertinggalan Umat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....