HomeBeritaKekerasan sebagai Reaksi Ketertinggalan...

Kekerasan sebagai Reaksi Ketertinggalan Umat

Aliansi Indonesia Damai- AIDA bekerja sama dengan Pondok Pesantren Sayang Ibu, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menggelar Pengajian dan Diskusi Film “TANGGUH” pada pertengahan Oktober lalu. Kegiatan yang dihadiri 80 peserta ini diselenggarakan oleh alumni kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian AIDA yang juga pimpinan Pondok Pesantren Sayang Ibu, Jamaludin.

Jamaludin menilai kegiatan kampanye perdamaian AIDA sangat penting karena ekstremisme kini menjadi isu besar di tanah air maupun dunia. Bahkan, menurutnya, Universitas Al-Azhar Kairo Mesir menegaskan sikap bahwa Islam yang dijunjung adalah Islam yang menjunjung tinggi perdamaian.

“Aksi kekerasan terjadi sebagai bentuk reaksi karena sampai saat ini masih terjadi hal-hal buruk yang kita (Muslim) tidak inginkan. Itu memengaruhi psikologi umat di seluruh dunia,” tutur Jamaludin.

Jamaludin menjelaskan reaksi yang dimaksud berkaitan dengan kondisi umat Islam saat ini. Dalam satu dekade terakhir, umat Islam tertinggal dalam pelbagai bidang. Bangsa Barat mendominasi segala lini, sedangkan umat Islam masih sibuk menjadi penonton, bahkan tidak mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri.

“Sains dan teknologi adalah kunci peradaban. Umat Islam tidak punya alasan untuk tidak menguasai dua hal itu. Kalau kita masih begini, kita akan terbelakang terus. Ketika merasa tidak mampu, maka kita akan marah dalam hati, dan menunggu waktu kapan akan membalas,” tegas Jamaludin.

Ironisnya, kata dia, balasan tersebut justru menimbulkan korban jiwa. Misalnya, dalam kasus terorisme di Indonesia, aksi pengeboman yang sejatinya ditujukan kepada simbol-simbol Barat, justru yang terluka dan menjadi korban adalah sesama anak bangsa dan sesama Muslim. Orang-orang tak bersalah ikut menjadi korban.

Dia menegaskan dalam Alquran dinyatakan barang siapa yang membunuh seorang manusia maka seolah dia telah membunuh seluruh manusia. Begitu mulianya nyawa seorang manusia, sehingga tidak boleh nyawa dihilangkan begitu saja.

“Jangan pernah terpikir membunuh seseorang. Kecuali kalau konteksnya perang, itu masalah lain. Tapi kita di Indonesia tidak perang, kita baik-baik saja di sini. Apapun itu, langkah terkecil yang kita lakukan di pesantren ini menghindari kekerasan,” tegas Jamaludin.

Jamaludin juga mengapresiasi AIDA yang berhasil merekonsiliasi korban terorisme dengan mantan pelaku terorisme. Dia merasa salut dengan kebesaran hati para korban yang mampu memaafkan mantan pelaku terorisme. “Dengan kesabaran dan cinta kasih, korban ikhlas dipersatukan dengan mantan pelaku,” tuturnya. [FAH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal,...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...