HomeOpiniCatatan Guru untuk Melajukan...

Catatan Guru untuk Melajukan Pendidikan Indonesia

Oleh: Catur Nurrochman Oktavian,
Guru dan Pengurus Besar PGRI

Tidak ada satu negara dan bangsa di dunia yang memungkiri bahwa pendidikan merupakan fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia.

Pendidikan menjadi tiang utama bagi kemajuan suatu bangsa dan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Namun, sistem pendidikan Indonesia masih menghadapi beragam tantangan yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan semua pemangku kepentingan pendidikan.

Agar pendidikan Indonesia melaju lebih cepat dan sesuai dengan arah para pendiri bangsa, dibutuhkan kebijakan yang progresif, berkualitas, tidak linear, tidak business as usual, dan lebih berpihak pada masalah mendasar di dunia pendidikan kita. Guru yang berkualitas dan sejahtera merupakan kunci utama dari penyelesaian beragam masalah dunia pendidikan.

Baca juga Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Apabila masalah di seputar tata kelola guru berkurang, lebih dari separuh masalah pendidikan akan teratasi. Hal ini disebabkan guru merupakan aktor utama yang memainkan skenario penting dan menjalankan sistem pendidikan. Menyambut Hari Guru Nasional 2024 dan Hari Ulang Tahun Ke-79 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), ada beberapa catatan guru untuk melajukan dunia pendidikan nasional.

Tantangan Sisdiknas

Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) masih menghadapi berbagai tantangan yang beragam dan dinamis.

Tantangan itu, antara lain, pertama, kesenjangan akses, kecukupan, dan kualitas pengajar. Memang, sejak zaman Orde Baru telah ada upaya untuk memperluas akses pendidikan melalui program SD inpres, tetapi seiring dengan pertumbuhan penduduk, kondisi kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan perdesaan saat ini masih cukup signifikan.

Sekolah-sekolah di daerah terpencil sering kali kekurangan fasilitas dan tenaga pengajar yang berkualitas. Hal tersebut diakibatkan oleh pengelolaan pendidikan di beberapa daerah Indonesia yang belum optimal. Guru-guru, terutama di daerah 3T (terpencil, tertinggal, dan terluar), menghadapi kondisi kerja yang kurang mendukung karena minimnya fasilitas serta keterbatasan akses pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan profesi.

Baca juga ”Golden Period” Perang Israel-Iran

Kesenjangan mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari rapor mutu pendidikan Indonesia. Misalnya, masih ada kesenjangan mutu yang terlihat dari performa satuan pendidikan terbaik di salah satu kabupaten di luar Pulau Jawa setara dengan performa satuan pendidikan terburuk di salah satu kabupaten atau kota di Jawa (Kompas.id, 2/5/2022). Selain itu, di satu daerah yang sama, antara satuan pendidikan terbaik dan terburuk juga menunjukkan kesenjangan mutu yang tinggi.

Kedua, kualitas pengajaran masih menjadi isu utama yang menjadi tantangan dalam dunia pendidikan kita.

Dunia pendidikan dan pengajaran bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Banyak guru kita belum mendapatkan pelatihan memadai untuk mengajar sesuai dengan metode pendidikan modern. Pola pikir (mindset) para guru juga harus berubah dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga kualitas pengajaran meningkat.

Baca juga Memperhatikan Ruang Aktual Pendidikan

Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan yang tidak memadai. Banyak sekolah masih kekurangan fasilitas mendasar pendidikan, seperti ruang kelas yang layak dan representatif, perpustakaan, serta laboratorium.

Menurut Portal Data Kemendikbudristek, masih ada 321.941 sekolah rusak ringan, 238.290 sekolah rusak sedang, dan 121.011 sekolah rusak berat (data cut off 30 November 2023). Masih banyaknya sekolah yang rusak sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan proses pembelajaran yang baik.

Keempat, kurikulum yang kurang relevan. Kurikulum sering kali dianggap jadi masalah dalam pendidikan nasional kita dan dianggap tidak relevan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi. Banyak lulusan sekolah yang merasa tak siap memasuki dunia kerja karena kurangnya keterampilan praktis yang dibutuhkan sesuai dengan kehidupan nyata. Ada kesenjangan antara apa yang disampaikan di sekolah dan yang ditemui di dunia nyata.

Langkah strategis

Menghadapi beragam tantangan tersebut, dibutuhkan langkah serius dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui kebijakan jitu dan berkualitas agar laju pendidikan nasional semakin cepat dan berkualitas, sejajar dengan negara-negara lain di lingkup regional dan global. Berikut beberapa langkah strategis yang dapat diambil.

Pertama, peningkatan kesejahteraan dan kualitas guru. Guru merupakan kunci dari keberhasilan pendidikan. Mengabaikan peran guru sama saja dengan merencanakan kegagalan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 menekankan bahwa kompetensi guru merupakan faktor penentu dalam kualitas pendidikan.

Baca juga Pemuda Bela Negara dan Indonesia Emas 2045

Laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2021 menunjukkan, peningkatan kompetensi guru secara langsung berdampak pada prestasi siswa. Karena itu, investasi besar-besaran harus dilakukan dalam pelatihan dan pengembangan profesional guru serta perbaikan struktur gaji, tunjangan, dan pola karier guru.

Selain itu, penting bagi guru untuk terus mengembangkan diri agar dapat memenuhi tuntutan pendidikan yang semakin kompleks. Selama ini banyak guru digaji seadanya, tetapi diberi beban tanggung jawab yang besar dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kedua, perluasan akses dan peningkatan infrastruktur pendidikan. Pemerintah harus memastikan bahwa semua anak memiliki akses ke pendidikan berkualitas tanpa memandang lokasi geografis atau latar belakang ekonomi.

Baca juga Hari Santri dan Pemimpin Baru Indonesia

Pendidikan bermutu untuk semua harus dicanangkan secara masif dan progresif. Untuk itu, diperlukan investasi infrastruktur pendidikan, terutama di daerah terpencil. Teknologi dapat menjadi alat kuat untuk mengatasi berbagai tantangan dan hambatan pendidikan.

Pembelajaran daring dan penggunaan perangkat teknologi di kelas dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan menjangkau lebih banyak siswa di daerah pelosok.

Ketiga, perluas kerja sama dan kolaborasi dengan masyarakat, dunia usaha, dan lembaga-lembaga internasional. Pemerintah tentu tak dapat bekerja sendiri. Kerja sama dan kolaborasi dengan swasta, lembaga nonprofit, dan organisasi internasional bisa menjadi sumber daya tambahan dan inovasi praktik baik dalam sistem pendidikan Indonesia.

Baca juga Kewarasan Guru

Keempat, efektivitas dan efisiensi anggaran pendidikan. Konstitusi mengamanatkan anggaran pendidikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selama ini anggaran tersebut ternyata belum dioptimalkan untuk peningkatan kualitas pendidikan.

Hal itu terungkap dari data yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Pauddasmen) Kemendikbudristek RI (nomenklatur lama) dalam seminar internasional Go Public Fund Education, 25 April 2024, di Gedung Guru Indonesia Kantor PGRI, Jakarta.

Rincian alokasi 20 persen anggaran pendidikan di APBN adalah sebagai berikut. Sebanyak 11 persen ditransfer ke pemerintah daerah karena sistem tata kelola pendidikan di Indonesia yang terdesentralisasi. Sebanyak 5,5 persen untuk Kementerian Agama dan kementerian lain yang mengelola pendidikan. Sebesar 2-3 persen untuk dana abadi pendidikan dan 2 persen dikelola Kemendikbudristek (1 persennya untuk bantuan sosial pendidikan).

Baca juga Dibutuhkan Negarawan

Alokasi dana tersebut sudah termasuk untuk gaji, tunjangan profesi guru, dan dana bantuan operasional satuan pendidikan (BOSP).

Investasi pada guru

Pendidikan tidak semata mengenai transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter, keterampilan, dan kesiapan menghadapi kehidupan di masa datang. Sejalan dengan hal tersebut, peran guru menjadi sangat penting. Guru harus memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan personal yang mumpuni.

Saat ini, guru menghadapi berbagai tantangan, termasuk adaptasi terhadap teknologi baru, mengatasi ketidakminatan siswa, dan menjaga keseimbangan kehidupan. Berbagai program pelatihan berkelanjutan dan pengembangan keterampilan pedagogis modern harus diperluas dan menjangkau semua guru.

Melajukan pendidikan Indonesia memerlukan komitmen sangat serius pemerintah dan semua pihak, termasuk masyarakat dan swasta, untuk memberikan dukungan penuh pada tugas guru.

Baca juga Merdeka, Belajar, Merundung

Jangan ada lagi guru yang bergaji rendah tanpa kejelasan status dan jenjang karier. Jangan ada lagi guru yang mudah dipersekusi dan kena kasus hukum karena menjalankan profesinya dalam mendisiplinkan anak didik. Jangan ada lagi guru yang tidak mendapat pelatihan berkelanjutan.

Dengan langkah kebijakan yang tepat, kita dapat melajukan pendidikan nasional yang inklusif dan berkualitas serta mampu menghasilkan generasi yang siap menghadapi dinamika tantangan global. Pendidikan berkualitas akan membawa Indonesia emas menuju masa depan cerah dan berdaya saing tinggi di kancah internasional. Hal tersebut sangat bergantung pada keberadaan guru yang sejahtera dan berkualitas.

Selamat Hari Guru Nasional 2024, selamat Hari Ulang Tahun Ke-79 PGRI. Hidup guru, hidup PGRI!

*Artikel ini telah tayang di laman kompas.id edisi Senin 25 November 2024

Baca juga Kemerdekaan dan Pendidikan

Most Popular

1 COMMENT

  1. Sepakat! Kita masih memiliki banyak PR. Mudah-mudahan institusi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi melalui inovasi dan usaha yang keras dapat mengangkat derajat Indonesia melalui pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...