HomeOpiniGuru Besar Berdampak

Guru Besar Berdampak

Oleh Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Sekjen DPP Asosiasi Dosen Indonesia

Artikel ini dimuat di Kompas.id pada 07 Oktober 2025

Ketika seseorang mencapai puncak karier akademiknya sebagai guru besar (profesor), masyarakat sering melihatnya sebagai pencapaian prestisius. Sebuah jabatan tertinggi di dunia akademik yang hanya diraih oleh segelintir orang setelah melalui perjalanan panjang riset, pengajaran, dan pengabdian. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah guru besar hanya sekadar jabatan, ataukah ia harus menghadirkan dampak yang nyata?

Di tengah dinamika zaman yang ditandai dengan perubahan cepat, seperti revolusi industri 4.0, kecerdasan buatan, krisis iklim, dan tantangan kebangsaan, maka peran guru besar dituntut lebih dari sekadar menambah daftar gelar di belakang nama. Guru besar seharusnya menjadi penyambung ilmu dengan aksi, penghubung teori dengan praktik, serta penggerak perubahan sosial.

Tulisan ini berupaya menakar makna ”guru besar berdampak”, yaitu siapa dia, bagaimana seharusnya peran yang dimainkan, dan mengapa keberadaan mereka sangat menentukan arah masa depan bangsa.

Jabatan guru besar tidak lahir dari ruang kosong. Hal ini merupakan bagian dari tradisi akademik yang sudah berlangsung berabad-abad. Di Barat, istilah professor berasal dari kata Latin ’profiteri’, yang berarti menyatakan atau mengakui secara terbuka. Artinya, seorang profesor adalah mereka yang tidak hanya mengetahui, tetapi juga menyatakan, membagikan, dan memperjuangkan kebenaran ilmiah.

Jabatan akademik tertinggi

Di Indonesia, kedudukan guru besar diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Guru besar adalah jabatan akademik tertinggi yang diberikan kepada dosen tetap dengan tanggung jawab khusus, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya melalui penelitian, pengajaran, serta pengabdian kepada masyarakat.

Secara formal, guru besar memang memiliki otoritas keilmuan. Namun, dampak nyata mereka jauh melampaui ruang kuliah. Dalam sejarah bangsa, kita mengenal banyak guru besar yang juga menjadi pemimpin moral, intelektual, dan sosial.

Kata ”berdampak” mengandung makna luas. Dampak bisa berarti pengaruh langsung ataupun tidak langsung, baik dalam lingkup akademik maupun masyarakat luas. Untuk konteks guru besar, ”berdampak” setidaknya memiliki tiga dimensi.

Dimensi pertama ialah dampak terhadap keilmuan. Guru besar memperkaya khazanah ilmu melalui penelitian, publikasi, dan inovasi. Dampak ini bersifat jangka panjang, menembus batas negara, dan menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Dimensi berikutnya ialah dampak terhadap pendidikan. Sebagai pengajar, guru besar membimbing mahasiswa, mencetak calon-calon pemimpin, peneliti, dan profesional. Di sinilah peran mereka melahirkan efek pengganda dalam bentuk kualitas sumber daya manusia.

Dimensi terakhir ialah dampak terhadap sosial dan kebangsaan. Guru besar juga dituntut memberi kontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Misalnya, memberi masukan kebijakan publik, mengadvokasi masyarakat, atau menjadi teladan moral.

Dengan demikian, guru besar yang berdampak bukanlah mereka yang hanya menambah angka publikasi di jurnal bereputasi, melainkan yang sanggup menjembatani ilmu dengan kebermanfaatan nyata.

Walaupun memiliki posisi strategis, guru besar di Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Tantangan pertama ialah terkait beban administratif yang tinggi. Banyak guru besar justru tersandera oleh tumpukan birokrasi kampus dan urusan administratif sehingga waktu untuk meneliti dan mengabdi menjadi terbatas.

Masih belum kuatnya budaya akademik di Indonesia menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi. Tradisi riset dan debat akademik di Indonesia belum sekuat negara-negara maju. Akibatnya, kontribusi keilmuan sering kali stagnan.

Tantangan ketiga ialah keterbatasan dana riset dan pengembangan diri.  Anggaran penelitian masih jauh dari ideal. Padahal, riset adalah sumber utama lahirnya pengetahuan baru dan inovasi yang berdampak. Selain itu, para guru besar tidak dialokasikan dana untuk pengembangan diri yang memadai, seperti untuk sabbatical leavefellowship, ataupun kegiatan sejenis lainnya.

Tantangan keempat ialah kurangnya konektivitas dengan dunia industri dan kebijakan. Banyak hasil penelitian guru besar berhenti di rak perpustakaan atau jurnal akademik, tidak sampai ke tahap implementasi kebijakan atau produk industri. Tantangan terakhir ialah tuntutan globalisasi dan digitalisasi. Di era digital, kecepatan inovasi sangat tinggi. Guru besar harus mampu beradaptasi agar tetap relevan dan tidak tertinggal.

Untuk memahami makna guru besar berdampak, mari kita lihat beberapa hal yang dapat dilihat sebagai contoh nyata. Pertama, peran guru besar sebagai inovator. Di sejumlah kampus, guru besar teknik berhasil mengembangkan teknologi tepat guna untuk membantu petani meningkatkan produktivitas. Inovasi sederhana, tetapi berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Kedua, Guru Besar sebagai penjaga moral akademik. Di tengah krisis integritas intelektual, guru besar yang menolak plagiarisme, nepotisme akademik, dan praktik manipulatif menjadi pilar penting menjaga martabat pendidikan tinggi.

Contoh nyata ketiga ialah peran guru besar sebagai penasihat kebijakan. Banyak guru besar ekonomi, hukum, atau kesehatan yang diminta pemerintah menjadi penasihat kebijakan publik. Mereka memastikan keputusan politik tetap berpijak pada data dan ilmu pengetahuan.

Keempat ialah peran guru besar sebagai inspirator publik. Melalui tulisan, buku, ataupun kehadiran di media, guru besar mampu menjadi suara moral bangsa. Misalnya, guru besar pendidikan yang konsisten mengingatkan pentingnya investasi pada generasi muda.

Motor perubahan

Bagaimana agar gelar guru besar tidak hanya menjadi simbol, tetapi motor perubahan? Ada beberapa strategi yang dapat ditempuh. Pertama, para guru besar harus mampu membangun reputasi akademik global. Guru besar harus hadir di panggung internasional melalui publikasi, kolaborasi, dan jejaring global. Namun, publikasi tidak boleh berhenti di angka sitasi, tetapi harus ada transfer pengetahuan ke dalam negeri.

Strategi kedua ialah menguatkan riset terapan. Riset yang dilakukan harus menjawab persoalan nyata masyarakat, mulai dari kemiskinan, energi, kesehatan, hingga pendidikan. Strategi ketiga ialah menjadikan guru besar sebagai mentor yang membebaskan. Guru besar seharusnya tidak hanya menuntut mahasiswa menghasilkan publikasi, tetapi juga mendorong mereka menjadi intelektual kritis, kreatif, dan berintegritas.

Strategi berikutnya ialah guru besar harus aktif dalam ruang publik. Guru besar harus keluar dari ”menara gading” kampus. Menulis opini di media, berdiskusi di ruang publik, atau aktif di organisasi masyarakat adalah cara memperluas dampak. Strategi terakhir ialah mendorong kebijakan berbasis riset. Guru besar memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kebijakan publik berbasis data, bukan sekadar retorika politik.

Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045, bertepatan dengan satu abad kemerdekaan. Tantangan menuju Indonesia Emas sangat besar, yaitu meningkatkan produktivitas, menurunkan ketimpangan, menghadapi krisis iklim, hingga bersaing dalam ekonomi digital global.

Pertanyaan pentingnya ialah apa peran guru besar dalam perjalanan ini?

Jawabannya, sangat strategis. Guru besar bisa menjadi penggerak lahirnya kebijakan energi terbarukan, inovasi teknologi, sistem pendidikan yang inklusif, dan strategi ekonomi hijau. Tanpa kontribusi guru besar, visi Indonesia Emas hanya akan menjadi slogan.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru besar tidak hanya diukur dari panjangnya daftar publikasi atau banyaknya seminar internasional yang dihadiri. Keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang ditanamkan terus hidup dalam karya murid-muridnya, ketika risetnya menjadi solusi nyata, dan ketika kehadirannya memberi arah moral bagi bangsa.

Guru besar berdampak adalah mereka yang mampu mengubah jabatan akademik tertinggi menjadi warisan intelektual, sosial, dan kebangsaan. Bangsa yang besar tidak hanya ditopang oleh sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya. Di dalamnya, guru besar memiliki posisi istimewa sebagai arsitek peradaban.

Dalam dunia yang terus berubah, guru besar harus tampil sebagai pionir perubahan. Bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan penggerak transformasi. Sebab, pada akhirnya, sejarah tidak mengingat seberapa banyak gelar dan jabatan yang dimiliki seseorang, tetapi seberapa besar dampak yang ditinggalkan.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...