HomeOpiniNilai Kepahlawanan di Tengah...

Nilai Kepahlawanan di Tengah Perang Proksi Digital

Oleh I Wayan Suartana, Guru Besar Universitas Udayana

Artikel ini dimuat Kompas.id pada 10 November 2025

Nilai-nilai kepahlawanan selalu hidup dalam ruang dinamik yang bergerak seirama dengan turbulensi perubahan zaman. Makna pahlawan kini memasuki babak baru, saat dunia berada di titik kulminasi disrupsi akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. ‘

Dunia belum menemukan titik ekuilibrium (keseimbangan baru), tetapi satu hal pasti: kepahlawanan tetap hidup—ia hanya berganti multiwajah.

Dulu, para pejuang memanggul senjata bambu runcing dan peralatan modern pada masanya, menantang bahaya demi Merah Putih tercinta. Di era digital, senjata itu berubah menjadi pengetahuan, kebajikan, integritas, dan kejujuran. Dulu hanya mengenal aset berwujud, kini eranya aset tak berwujud yang memancarkan semangat energi perubahan dalam memandang organisasi dan realitas sosial. Pahlawan bangsa bukan hanya mereka yang bermimpi besar, tetapi juga tahu diri menjejakkan kaki di bumi—optimistis namun realistis dan memahami kebutuhan dasar bangsa di tengah tantangan global.

Perang hari ini bukan lagi perang di medan tempur, melainkan perang proksi digital: perang wacana, perang pembentukan opini, dan perang klaim kebenaran di dunia maya yang sunyi tetapi distruptif. Sumur tanpa dasar dengan ruang yang tak terbatas. Proksi digital merupakan wakil musuh yang tersembunyi dan ada pihak ketiga yang memediasinya. Pihak ketiga ini membawa misi untuk menguji keutuhan negara.

Pahlawan masa kini tidak selalu tampil di garis depan. Ia bisa seorang tenaga kesehatan seperti saat pandemi lalu yang berjibaku melawan virus tak kasat mata, seorang guru yang menyalakan peradaban ilmu di tengah keterbatasan, atau rakyat kecil yang tetap bekerja dengan hati meski badai PHK datang bertubi-tubi. Merekalah wajah alami kepahlawanan masa kini. Di sisi lain, anggaran alutsista pertahanan dan keamanan terus diperbaharui.

Kepahlawanan bukan sekadar gagah perkasa, tetapi keteguhan untuk tetap berintegritas di tengah dunia yang penuh kerandoman. Ia adalah ketenangan menghadapi badai, bukan dengan emosional, tetapi dengan kearifan. Ia adalah kemauan dan kemampuan untuk yakin percaya pada nilai kebaikan ketika banjir virtual mencoba menyeret nurani.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Dari sanalah kita belajar bahwa pahlawan tidak selalu lahir dari nama besar; banyak dari mereka hidup dalam diam, bekerja tanpa tepuk tangan. Mereka yang mencintai pekerjaannya, menjalankan tugasnya dengan hati, dan berbuat dengan tanggung jawab—itulah pahlawan sejati yang menyalakan obor di tengah kegelapan.

Metamorfosis kepahlawanan

Kepahlawanan hadir karena semangat bekerja tulus, mencintai pekerjaan dan mengikuti apa yang diyakininya secara bertanggung jawab. Sosok kepahlawanan memang tak lepas dari figur, ketokohan, dan popularitas, namun sesungguhnya banyak pahlawan ada di sekitar kita. Nilai-nilai kepahlawanan pada era ketidakpastian ini bersifat fungsional yaitu menjalankan kewajiban masing-masing secara professional secara berintegritas. Pahlawan yang tidak hanya dilihat dari sisi bentuk luarnya saja tetapi juga menyangkut nilai-nilai. Pandemi memberi pelajaran tentang nilai-nilai kesemangatan, saling menguatkan, gotong royong, menerima keadaan tanpa harus berpasrah diri, dan berjuang dalam kapasitasnya.

Kita diberi pelajaran untuk menghadapi risiko, sehingga kesiapan dini diperlukan baik secara ekonomi maupun keselamatan jiwa. Upaya mitigasi yang dilakukan seyogianya berbasis data, pengetahuan dan kearifan lokal. Karena itu, kepahlawanan memiliki logika, rasa, dan empati. Bila semuanya bisa berjalan meski dengan standar minimal maka daya tahan kita akan tetap kuat. Pahlawan era kini diharapkan memiliki modal sosial karakter gotong royong yang tidak pernah hilang.

Kesuksesan kita untuk bertahan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor termasuk memenuhi akuntabilitas perjuangan diri sebagai sebuah kewajiban moral. Tindakan berkarakter yang konsisten akan merawat kepercayaan antar sesama warga bangsa, suatu spirit yang dibutuhkan pada situasi saat ini. Karakter berkaitan dengan kapasitas tak terlihat. Katakanlah bahwa karakter dan kompetensinya ada, orang tersebut bisa dimuliakan dan bisa dapat dipercaya untuk memimpin sebuah perjuangan pada suatu ekosistem tertentu.

Pendidikan dan pembelajaran karakter secara alamiah melengkapi apa yang diberikan dalam pendidikan peningkatan kompetensi dan profesionalismenya. Kalau orang itu dipercaya maka pekerjaan dalam segala aspek kehidupan bisa efisien dan efektif. Efisien karena karakternya dan efektif karena kompetensinya. Banyak pendapat mengenai profesionalisme tidak hanya menyangkut bagaimana orang itu berlaku secara fisik lewat sentuhan inovasinya tetapi juga kemampuan melakukan interaksi dalam mengembangkan hubungan sosialnya.

Sumber kepercayaan berbasis multi dimensi dapat mempunyai dampak besar terhadap kesuksesan dan menciptakan suatu situasi yang secara signifikan memengaruhi validitas pengambilan keputusan. Efektif dan efisen sangat dekat dengan hikmah pandemi 2020 kemarin. Mentalitas kuat juga bisa tercermin dari anggapan bukan korban, bisa mengendalikan diri dan bisa bertahan dengan penuh perjuangan.

Kepahlawanan di era digital bermetamorfosis menjadi tindakan heroik yang berfokus pada pertahanan nilai, anti-manipulasi informasi, dan pertahanan kedaulatan negara dari perang siber. Perang proksi digital bisa jadi memanfaatkan aktor non-negara dan individu untuk mencapai tujuan ideologis, politik, dan ekonomi pihak tertentu tanpa terlihat secara langsung secara fisik-bergerak senyap. Di sinilah pahlawan digital berperan — mereka yang berjuang di dunia maya demi menjaga kedaulatan bangsa dan negara serta manipulasi data menyesatkan.

Pendidikan karakter dan humanisme digital

Media sosial dengan ruang lingkup berbagai level dapat menjadi media kepahlawanan baru: tempat menyuarakan kebenaran, keadilan, dan kepedulian sosial melalui kampanye literasi, anti-hoaks, anti-manipulasi, dan pro-kemanusiaan. Sistem pendidikan dan kurikulum perlu menekankan pentingnya pembelajaran karakter yang menumbuhkan sikap empati, tanggung jawab, dan keberanian untuk bertindak wajar. Pendidikan berbasis proyek sosial yang mengharuskan siswa/mahasiswa mempunyai ekosistem langsung dengan masyarakat.

Harus diakui, upaya tiada henti berselancar ”di atas langit ada langit” lomba kuda pacuan telah mengubah arsitektur dunia secara fundamental. Di tengah pusaran perubahan ini, konsep humanisme digital muncul sebagai obor penuntun menghadapi perang proksi, yang mendorong perspektif ulang hubungan dengan teknologi dengan cara yang lebih manusiawi menyentuh rasa.

Humanisme digital merupakan wahana untuk merevitalisasi tanggung jawab individu dan sebagai mahluk sosial dalam menghadapi kemajuan teknologi. Tanggung jawab etika, kejujuran dan moral menjadi platform bersama.

Pendidikan humanisme digital merespon sebuah karakter mendadak, mendalam dan keterkejutan sistemik. Proses bisnis organisasi mengalami transformasi struktural. Mereka bergerak ke arah saluran digital dengan melibatkan relatif sedikit orang. Provider hotel misalnya, dia tidak memiliki properti tetapi aset tak berwujud yang setiap waktu bisa dikapitalisasi.

Menurut Coeckelbergh (2024) ada enam komponen dalam humanism digital. Komponen pertama adalah tentang citra manusia di era digital. Humanisme digital melihat di era teknologi saat ini kecenderungan untuk melihat dan memperlakukan manusia sebagai mesin. Pandangan ini harus dihilangkan. Komponen kedua adalah gagasan bahwa manusia harus tetap mengendalikan teknologi digital. Keterlibatan manusia dengan logika dan rasa harus dipertahankan, sebagai pihak yang harus mengendalikan secara penuh.

Komponen ketiga adalah bahwa teknologi digital harus harmoni dengan tujuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam pengertian ini, etika yang berpusat pada manusia diperlukan. Nilai-nilai kemanusiaan harus diterapkan dalam pengembangan teknologi, pada tahap pertama. Jangan sampai menunggu teknologi digital diterapkan dan kemudian hanya mengatur setelahnya sebagai respons terhadap dampaknya, idenya adalah bahwa kita harus sudah intervensi dalam proses pengembangan. Teknologi digital harus dirancang sedemikian rupa sehingga selaras dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kemanusiaan seperti martabat manusia, demokrasi, inklusivitas, keadilan, akuntabilitas dan hak azasi.

Komponen keempat adalah tentang interdisiplineritas dan pendidikan. Hal ini bertujuan untuk menjaga sisi humanis dan mewujudkan perubahan-perubahan ini, tetapi juga pemahaman yang lebih holistik tentang masalah-masalah kemanusiaan. Komponen kelima adalah tentang komunitas. Pembangunan komunitas, para humanisme digital menggunakan teknologi digital baru seperti media sosial digital tidak hanya untuk penelitian dan penulisan mereka tetapi juga untuk membangun komunitas lokal dan global.

Terakhir, humanisme digital memiliki komponen politik yang jelas, yang menekankan aspek sistemik dan menyerukan reformasi politik yang lebih kuat. Teknologi digital harus dirancang untuk mempromosikan demokrasi dan inklusivisme.

Era digital menuntut bentuk baru dari kepahlawanan—pahlawan yang berlogika, lembut-gemulai dalam rasa, dan empati. Ia bukan hanya berpikir cepat-akurat, tetapi juga berpikir besar. Ia bukan hanya berprestasi dengan selesai sebagai ukuran.

Pahlawan sejati adalah cinta yang bekerja dalam diam, patriotis kalem—menjaga, melindungi, dan menyembuhkan dunia dengan tanggung jawab dan cinta. Rendah hati tetapi produktif.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...