HomeSuara KorbanKisah Perjuangan Penyintas (Bag....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot.

Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa demi mengubah kondisi perekonomian keluarga. Ia melamar kerja di bidang jasa keamanan ke sana-sini. Ia pernah menjadi tenaga pengamanan di sebuah pabrik di Serang, Banten, sebelum akhirnya jalan hidup membawanya ke ibu kota, menjadi sekuriti di Kedutaan Besar (Kedubes) Australia di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

Amanat yang diembannya sebagai petugas keamanan di salah satu objek vital ibu kota itu mewajibkannya untuk selalu disiplin dan waspada. Ia pun berusaha keras selalu menerapkan prinsip profesionalisme dalam sehari-harinya bekerja. Apel siaga pada pagi hari, pengecekan setiap kendaraan yang masuk atau meninggalkan kedutaan, sampai pengawasan terhadap situasi di lingkungan sekitar, selalu menjadi perhatiannya.

Baca juga: Belajar dari Semangat Sudirman Mengejar Mimpi

Kurang lebih baru tiga bulan bertugas di sana, peristiwa itu terjadi.

Sebuah mobil bak tertutup yang melintas tepat di pintu masuk gedung Kedutaan Besar Australia di Jakarta tetiba meledak. Ledakan besar itu menghempaskan apa saja yang di sekelilingnya. Makhluk hidup maupun benda mati. Pagar besi tebal Kedubes Australia roboh. Gedung-gedung pencakar langit di seberang Kedutaan pecah kaca-kacanya. Bus kota dan kendaraan-kendaraan yang melintas di Jl. HR Rasuna Said mendadak rusak. Deretan pohon penghijau di tengah adimarga berdebam patah batang dan cabangnya. Dedaunan beterbangan di udara. Jelaga putih pekat mengepul, menghalangi pandangan semua orang dari peristiwa yang terjadi secepat kilat itu.

Ratusan pasang mata yang menyaksikan kejadian pagi itu dibikin melongo dihadapkan pada lubang sekira tiga meter garis tengahnya, menganga di bawah rongsokan mobil yang habis terbakar.

Ledakan yang belakangan diketahui sebuah bom itu melukai sekujur tubuh Sudirman. Saraf-saraf di banyak bagian tubuhnya rusak. Ia mengaku kondisi itu tak bisa kembali normal. Sebelah bola matanya harus diangkat, diganti mata palsu.

Baca juga: Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Dia mengatakan, penanganan terhadap luka-lukanya mengharuskannya menjalani operasi puluhan kali. Dari ingatannya, total dia menjalani perawatan di rumah sakit pascakejadian kurang lebih empat bulan. Setelah keluar dari rumah sakit, ia langsung kembali bekerja di Kedutaan Australia. Belum sembuh benar. Namun, keputusan itu terpaksa diambil demi tanggung jawabnya kepada keluarga di kampung. Lebih dari itu, baginya semua cobaan yang dialaminya tidak boleh melunturkan tekad dan cita-cita. Dia justru menjadikannya sebagai penyemangat.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia...

Perdamaian di 2023: Harapan dan Tantangan

Pembangunan perdamaian menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia yang...

Kisah Korban Memperkuat untuk Tinggalkan Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Dahulu kala ketika ada aksi pengeboman (amaliyat) kami langsung meneriakan takbir Allahu Akbar dengan lantang berulang-ulang. Sama sekali tidak kepikiran bagaimana para korban dari aksi pengeboman tersebut. Demikian dinyatakan mantan anggota jaringan kelompok ekstrem, Kurnia Widodo dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...