HomeBeritaSatukan Langkah Menuju Indonesia...

Satukan Langkah Menuju Indonesia Damai

Sore itu setibanya di tempat tujuan, tim Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bergegas memastikan kenyamanan semua pihak yang akan terlibat dalam program safari kampanye perdamaian di sekolah di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Hal itu dilakukan mengingat dalam program tersebut AIDA berencana mempertemukan sejumlah korban aksi terorisme dengan mantan pelaku dalam acara Pelatihan Tim Perdamaian.

Sempat muncul kekhawatiran akan kemungkinan adanya korban terorisme yang kurang mampu mengontrol perasaan ketika bertemu dengan mantan pelaku dalam satu ruang dan waktu. Namun, kekhawatiran itu sirna setelah korban dan mantan pelaku terorisme bertemudan saling mengenal secara utuh dalam Pelatihan Tim Perdamaian AIDA di Surakarta.

Pelatihan Tim Perdamaian merupakan langkah awal AIDA dalam upaya membentuk satu tim solid yang terdiri dari unsur korban dan mantan pelaku terorisme untuk mengampanyekan pentingnya perdamaian kepada generasi muda. Pelatihan ini digelar sebelum pelaksanaan safari kampanye perdamaian bertajuk Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di lima sekolah di Surakarta atau Kota Solo.

Lima korban dan seorang mantan pelaku aksi terorisme dengan khidmat mengikuti Pelatihan Tim Perdamaian AIDA yang berlangsung di Hotel Novotel Solo pada Sabtu-Minggu (14-15/11/2015). Mereka adalah Chusnul Chotimah, Endang Isnanik, I Wayan Sudiana, R. Supriyo Laksono (korban Bom Bali 2002) dan Dwi Welasih (korban Bom JW Marriott 2003), serta seorang mantan pelaku yang pernah terlibat dalam kelompok ekstremis, Iswanto.

Pada hari pertama, para korban dan mantan pelaku berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya. Mereka mengisahkan bagian-bagian yang paling menyenangkan dan yang paling menyedihkan dalam kehidupan masing-masing, tak terkecuali saat mengalami atau menjadi korban peristiwa peledakan bom terorisme belasan tahun silam.

Saat korban berbagi kisah, suasana ruangan pelatihan menjadi hening. Dengan perasaan berat, suara terbata-bata dan diselingi isak tangis, satu persatu korban berusaha kuat membagi kisahnya dalam pelatihan. Semua yang ada di ruangan pelatihan terharu mendengarkan kisah korban saat mengalami musibah terkena ledakan bom terorisme.

I Wayan Sudiana dan R. Supriyo Laksono kehilangan istri, Endang Isnanik kehilangan suami, dan Chusnul Chotimah mengalami luka bakar 70 persen di sekujur tubuhakibat ledakan bom berdaya ledak tinggi yang mengguncang kawasan Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober 2002 silam. Sementara itu Dwi Welasih mengalami luka bakar di bagian kaki akibat ledakan bom di Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, 5 Agustus 2003.

Mendengarkan kisah para korban, Iswanto yang pernah terlibat dengan jaringan teroris segera mengucapkan permohonan maaf. “Saya meminta maaf kepada bapak ibu semuanya, para korban, meski sebenarnya saya bukan pelaku dalam arti saya tidak terlibat dalam peledakan bom yang menimpa bapak dan ibu,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Iswanto juga menceritakan pengalamannya dari awal bergabung dengan kelompok prokekerasan sampai akhirnya memutuskan keluar dari jaringan tersebut. Ia terlibat ke dalam jaringan kelompok kekerasan pada usia 19 tahun. Setelah sekitar 5 tahun bergerilya dengan kelompok radikal akhirnya ia mengundurkan diri dari keanggotaan kelompok itu karena menyadari jalan kekerasan sesungguhnya bukan solusi.

Para korban secara naluriah merasa kesal dan kecewa terhadap mantan pelaku yang dinilai telah membuat mereka mengalami kecacatan atau mengakibatkan mereka kehilangan orang-orang tercinta. Salah satu korban sempat tak kuasa menahan perasaan dan bertanya kepada Iswanto setelah menceritakan pengalaman hidupnya. “Saya ingin tahu perasaan Bapak setelah melihat keadaan korban seperti saya atau teman-teman saya ini,” tutur Chusnul Chotimah.

Iswanto sebagai pihak mantan pelaku sangat memaklumi perasaan Chusnul yang menderita luka bakar permanen akibat aksi teror bom. Menanggapi pertanyaan Chusnul, Iswanto kembali mengucap maaf atas kekhilafan masa lalunya. Ia mengaku sangat sedih dan merasa sangat bersalah setiap mendengarkan kisah korban yang begitu menderita akibat aksi teror.

“Bapak dan ibu semua, saya mengetahui dan mendengarkan kisah korban seperti bapak ibu semua ini pertama kali di Lamongan (dalam kegiatan safari kampanye perdamaian AIDA di Lamongan-red). Sejak itu setiap mengikuti kegiatan yang mengharuskan saya bertemu dengan korban, saya langsung merenung, merasa sedih, merasa bersalah meski saya bukan termasuk pelaku peledakan bom,” kata dia.

Hari pertama Pelatihan Tim Perdamaian AIDA pada Sabtu siang itu sungguh penuh haru. Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, di tengah pelatihan mengatakan kegiatan ini diselenggarakan sebagai media untuk saling mengenal secara utuh satu sama lain, baik sesama korban maupun antara korban dan mantan pelaku kekerasan. “Kombinasi korban dan mantan pelaku akan sempurna untuk mengampanyekan perdamaian,” ujarnya.

Seiring waktu, sesi demi sesi hari pertama Pelatihan Tim Perdamaian pun berlalu.Secara perlahan suasana pelatihan berubah dari yang awalnya tegang menjadi lebih cair setelah para korban dan mantan pelaku semakin dalam saling mengenal sosok masing-masing. Pada hari kedua, mereka terlihat akrab bahkan jalinan kebersamaan dan kekeluargaan begitu terasa, seakan-akan tidak ada sekat antara korban dan mantan pelaku, begitu pula sesama korban. Mereka saling berbincang tentang berbagai hal, bergurau dan tidak jarang bercanda dengan lepas.

Pada hari kedua pelatihan, korban dan mantan pelaku kekerasan mendapatkan bimbingan menyusun materi presentasi tentang kisahnya masing-masing yang akan disampaikan dalam kegiatan kampanye perdamaian di sekolah. Selain itu, mereka juga mendapatkan pelatihan teknik berbicara di depan umum agar dapat menjadi narasumber yang baik dalam menyampaikan materi.

Secara umum Pelatihan Tim Perdamaian AIDA sukses menyatukan langkah korban dan mantan pelaku kekerasan menuju kehidupan Indonesia yang lebih damai. Mantan pelaku telah meminta maaf kepada korban dan menyesali aktivitas masa lalunya. Di lain pihak, korban pun telah mengikhlaskan kepedihan masa lalunya dan menerima permohonan maaf tersebut. Kini mereka bersaudara, menjadi “keluarga baru” dan saling berkomitmen untuk selalu menjalin komunikasi serta bersatu padu mewujudkan Indonesia yang lebih damai. (AS) [SWD]

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi VII Januari 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...