HomeBeritaEks-Teroris Bersatu Kampanyekan Perdamaian

Eks-Teroris Bersatu Kampanyekan Perdamaian

Kecamatan Tenggulun di Selokuro, Lamongan, Jawa Timur, pernah terkenal karena penangkapan tiga tersangka pelaku Bom Bali, tiga bersaudara Ali Gufron, Amrozi dan Ali Imron, dikenal sebagai Trio Tenggulun, pada Oktober 2002.
Kini, 15 tahun sesudahnya, kecamatan tersebut kembali menarik perhatian publik setelah lebih dari 40 mantan narapidana teroris dan kombatan dari berbagai daerah konflik, termasuk Afghanistan dan Mindanau Filipina, berkumpul di sana untuk bersumpah setia kepada Indonesia dan berjanji untuk membantu memerangi ekstremisme.
“Saya telah berjanji untuk berdakwah, menyuarakan damai. Saya ingin membantu pemerintah, membujuk orang lain untuk bertobat dan bersama-sama membangun Indonesia,” kata Agus Martin alias Hasan (36) baru-baru ini. Agus dipenjara karena melakukan aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah, dan Ambon, Maluku.
Agus mengatakan bahwa dia memilih untuk tidak kembali ke kampung asalnya di Bekasi, Jawa Barat, untuk menghindari pertemuan dengan jaringan ekstremis lamanya karena takut kembali ke radikalisme.
“Dengan siapa kita berteman itu menentukan kita akan menjadi apa,” kata Agus, yang menghabiskan enam tahun penjara karena kasus kepemilikan senjata ilegal dan pembuatan bom.
Mantan pembuat senjata dan bom Khoirul Ihwan (36) dari kelompok teroris Tangerang yang dibebaskan dari penjara Porong di Jawa Timur awal bulan ini setelah menjalani hukuman empat tahun, juga menyatakan kesetiaannya. “Saya berjanji untuk membayar kesalahan saya dengan membebaskan orang lain dari radikalisme.”
Saiful Arif, alias Abid, mantan kombatan di Ambon dan Poso yang kehilangan kaki kirinya saat baku tembak dengan anggota Brigade Mobil (Brimob) pada tahun 2003, mengatakan, “Saya ingin menjadi duta perdamaian.”
Adalah Ali Fauzi Manzi, adik dari pembom Bali yang juga mantan anggota pasukan elit khusus Moro Islam Liberation Front, yang telah memainkan peran besar dalam membujuk mantan teroris dan kombatan untuk bertobat.
Dia mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian yang mendapat pengakuan pemerintah pada bulan November 2016.
“Mudah-mudahan masyarakat mau menerima kita lagi,” kata Ali Fauzi, yang juga mantan pembuat bom jaringan Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Timur.
Dia mengatakan, yayasan tersebut telah menyiapkan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk men-deradikalisasi para pejuang muda. Salah satu caranya adalah dengan mengirimkan sukarelawan ke lembaga pemasyarakatan di mana narapidana teroris menjalani hukuman untuk melakukan “kontra-narasi” radikalisme. Dia menggunakan uangnya sendiri untuk membiayai yayasan tersebut.
Sementara itu, Menteri Sosial, Kofifah Indar Parawansa, menyampaikan harapan agar masyarakat mengampuni dan menerima mantan narapidana teroris yang telah bertobat.
Dia mengingatkan masyarakat agar tidak men-stigmatisasi mantan narapidana teroris dan kombatan untuk membantu mereka bergabung kembali ke dalam masyarakat.
“Jangan mengasingkan mereka. Biarkan anak-anak mereka bersekolah. Mereka memiliki hak yang sama untuk warga negara lain,” kata dia setelah mengunjungi sejumlah mantan narapidana dan kombatan teroris di yayasan tersebut.
Dia mengatakan bahwa kementeriannya akan menawarkan pengawasan psikososial untuk membantu memulihkan kepercayaan mantan narapidana teroris dan kombatan serta keluarga mereka. (SWD)
Sumber: The Jakarta Post, edisi 24 Agustus 2017

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...