HomeBeritaMantan Teroris Sumpah Setia...

Mantan Teroris Sumpah Setia Kepada Indonesia, Kecam Terorisme Sebagai Penyakit

Tenggulun, Jawa Timur: Hal pertama yang dilakukan mantan teroris Ali Fauzi Manzi saat bertemu Fairfax Media adalah meminta maaf kepada Australia dan 88 warga Australia yang menjadi korban dari bom Bali I.
Ali Fauzi dikenal baik oleh orang Australia sebagai saudara pelaku bom Bali.
Pada tahun 2008 dia mengurus pemakaman jenazah Amrozi dan Mukhlas -yang dieksekusi di pulau pemasyarakatan Nusakambangan- dan mengirim pesan teks ke kerabat dalam bahasa Arab yang mengatakan: “Mereka bersama Yang Maha Kuasa”.
“Sekali lagi, saya ingin meminta maaf atas apa yang dilakukan saudara-saudara saya,” kata Ali Fauzi kepada Fairfax Media. “Mereka telah dieksekusi atau menghabiskan hidup mereka di penjara. Tindakan mereka menghilangkan banyak nyawa.”
Ali Fauzi mempelajari pembuatan bom antara tahun 2004 hingga 2007 dan dipenjara karena pelanggaran terorisme di Filipina, di mana dia telah membantu membangun sebuah kamp pelatihan militer untuk para ekstremis.
Sepuluh meter dari tempat dia berdiri di desa Tenggulun, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, adalah rumah milik Amrozi.
“Pemboman, di seluruh Indonesia, bisa Anda katakan berasal dari sini,” kata Ali Fauzi. “Di satu titik ada 13 ton bahan peledak di sini sebelum didistribusikan ke tempat lain seperti Ambon dan Poso.”
Lamongan, yang pernah dijuluki sebagai tempat kelahiran teroris, masih merupakan sarang ekstremisme.
Akan tetapi, Ali Fauzi berharap Yayasan Lingkar Perdamaian yang dia bentuk pada bulan November tahun lalu, yang menyediakan rumah transit dan kesempatan kerja bagi mantan teroris, dapat mulai meruntuhkan ideologi radikal.
Pada hari Kamis, beberapa mantan teroris dan kombatan beserta keluarga mereka bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia untuk pertama kalinya sebagai indikasi komitmen baru mereka kepada Indonesia dan ideologi Pancasila yang menjunjung tinggi kebhinnekaan.
Orang-orang yang bertugas mengibarkan bendera Indonesia termasuk putra pelaku bom Bali, Amrozi, Zulia Mahendra, yang telah lama menaruh rasa ingin balas dendam serta kemarahan terhadap negara yang mengeksekusi ayahnya.
Komandan upacara tersebut adalah mantan murid komandan ISIS di Suriah, sementara Ali Fauzi bertugas membaca teks proklamasi kemerdekaan 1945.
“Janji saya ke Indonesia itu nyata,” kata Ali Fauzi. “Ikrar saya adalah mencintai bangsa. Islam menghormati agama-agama lain, bahkan jika Indonesia menjadi negara Islam itu tidak berarti akan menyingkirkan agama-agama lain. Itulah yang saya percaya sekarang.”
Ali Fauzi menggambarkan terorisme sebagai penyakit, yang membutuhkan “dokter spesialis”. “Butuh waktu tujuh tahun untuk menjadi Ali Fauzi sekarang,” katanya. Enam bulan pertama proses deradikalisasinya -suatu pendidikan “setengah paksa” yang diterapkan kepadanya oleh polisi Indonesia setelah dia dideportasi dari Filipina pada 2007 adalah “penyiksaan bagi saya”.
“Awalnya saya menolak, saya tidak bisa melepaskan keyakinan saya sendiri, saya mengeluh, saya berdebat dengan ajaran Islam yang mereka ajarkan, yang disebut Islam moderat. Setelah enam bulan saya sadar, kemarahan saya berkurang.”
Salah satu titik baliknya adalah pertemuannya dengan korban serangan teror, termasuk warga negara Belanda, Max Boon, yang kehilangan kedua kakinya dalam pemboman Hotel Marriott di Jakarta.
“Saya meminta maaf padanya, dia seorang Katolik, dia berkata kepada saya: ‘Saya sudah memaafkan pelaku, apalagi Anda’. Dia memaafkan saya. Jika ternyata terbalik, jika saya berada di posisi dia, saya pikir tidak bisa memaafkan semudah itu.”
Ali Fauzi mengatakan keyakinan lamanya keliru bahwa orang kafir harus dibunuh di mana pun mereka berada, seperti yang didengungkan kelompok teroris.
Misi Yayasan Lingkar Perdamaian adalah untuk menyediakan komunitas baru bagi mantan teroris untuk mencegah mereka kembali ke jaringan lama karena mereka tidak memiliki alternatif lain.
“Mengajak mereka bergabung dengan yayasan bukan momen abracadabra. Ini dimulai saat mereka berada di penjara, saya mengunjungi mereka, saya membantu masalah yang mereka hadapi, finansial, keluarga mereka. Begitu mereka dibebaskan, kami membantu mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Sejauh ini kami telah membantu tujuh mantan teroris untuk mendapatkan pekerjaan dengan rekan-rekan bisnis saya. Ini perjalanan yang masih panjang.”
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius, bulan lalu meresmikan sebuah masjid dan pusat pembelajaran Alquran di Tenggulun, yang akan mengajarkan Islam moderat.
“Secara nasional ada 560 mantan narapidana terorisme,” katanya kepada Fairfax Media. “Artinya anak-anak mereka, istri mereka, komunitas mereka telah terpapar radikalisme.”
Dia mengatakan bahwa Lamongan adalah episentrum terorisme namun berkat Yayasan Lingkar Perdamaian: “Ssekarang ada 37 mantan narapidana teroris yang sekarang ada di pihak kita.”
“Secara keseluruhan mereka memiliki sekitar 100 anak-anak. Bisa dibayangkan berapa banyak nyawa yang dapat kita selamatkan dengan mengambil pendekatan ini?”
Sumber: The Sydney Morning Herald, edisi 17 Agustus 2017

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...

Menebar Benih Perdamaian di Jepara

Aliansi Indonesia Damai- Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustaz Hery Huzaery menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/01/2026). Sebanyak 56 asatidz/asatidzah...