HomeSuara KorbanBangkit Demi Buah Hati

Bangkit Demi Buah Hati

Usianya masih 33 tahun kala itu. Kedua anaknya masih terlalu muda; lima tahun dan tiga tahun. Rumah tangganya baru berjalan sekitar enam tahun. Namun peristiwa tragis membuatnya harus menyandang status janda sekaligus single parent. Masih lekat betul dalam ingatannya, siang hari 5 Agustus 2003, ia menerima telepon dari wartawan salah satu media massa yang mengabarkan bahwa suaminya, Slamet Heriyanto, petugas keamanan Hotel JW Marriott Jakarta telah meninggal dunia. Saat dihubungi, Yayuk, demikian sapaan akrabnya, masih sibuk dengan pekerjaannya di salah satu pabrik elektronik di Depok Jawa Barat.

Yayuk sempat tak percaya atas kabar tersebut. Namun sepulang kerja, saat melihat pemberitaan di salah satu stasiun televisi swasta, terpampang jelas nama suaminya sebagai salah satu korban meninggal aksi teror Bom JW Marriott. Seketika dia merasa lemas tak bertenaga. Sejumlah kerabat yang mendampingi di rumah tak mengizinkan Yayuk menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), lokasi di mana jasad suaminya sempat disemayamkan.
Pihak RSCM baru mengantarkan jenazah Slamet keesokan harinya, pukul 3 pagi. Yayuk tak diperbolehkan melihat jasad suaminya. Namun dari foto yang ia terima, tubuh ayah dari kedua anaknya itu tampak gosong dan sudah tidak utuh. Selama berhari-hari, Yayuk larut dalam kesedihan. Ia sangat sulit menerima kenyataan bahwa sosok terkasihnya telah tiada. Tetapi seiring waktu ia menyadari bahwa semuanya adalah takdir Tuhan. Ia memilih pasrah dan berupaya bangkit untuk membesarkan kedua buah hatinya.
Yayuk kembali bekerja di pabrik, namun saat ada kebijakan pengurangan karyawan, dia termasuk salah satu yang diberhentikan. Dia lantas diajak temannya untuk merintis usaha dengan sistem bagi hasil. Berbekal uang santunan dari beberapa pihak, ia memberikan sejumlah uang kepada rekannya sebagai modal usaha. Awalnya, setiap bulan ia rutin mendapatkan kiriman uang bagi hasil. Akan tetapi, itu tak berlangsung lama. Setelahnya tak ada lagi. Ia berusaha menagih kembali uang modalnya namun tak menuai hasil. Ia sempat meminta bantuan hukum dari salah satu lembaga tetapi justru dimintai uang dua juta rupiah. Yayuk lantas memilih bersikap pasrah.
Ia kemudian membuka warung kecil di dekat salah satu sekolah dasar di daerah Depok sebagai sumber penghidupan untuk menafkahi dua anaknya. Yayuk bersyukur beban hidupnya terbantu lantaran biaya pendidikan kedua anaknya ditanggung sepenuhnya oleh Hotel JW Marriott Jakarta hingga jenjang sekolah menengah atas.
Dalam membesarkan kedua anaknya Yayuk mengajarkan agar tidak menaruh dendam kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap almarhum ayahnya. “Perbuatan tidak baik, jangan dibalas dengan perbuatan tidak baik. Doakan saja agar ayah mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah,” kata dia saat menasihati putra-putranya yang kini beranjak dewasa.
Hingga kini, Yayuk enggan membuka hatinya untuk pria lain. Ia bertekad mengisi sisa hidupnya  untuk mengantarkan dua buah hatinya menjadi insan yang saleh, bermanfaat bagi agama dan negara.
Satu dekade lebih pascatragedi teror Bom JW Marriott 2003, Yayuk mengikuti sejumlah kegiatan kampanye perdamaian yang diinisiasi oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Dalam kegiatan-kegiatan tersebut dia berbagi pengalaman menjadi pihak yang terdampak dari serangan aksi terorisme. Kisah hidupnya dipadukan dengan kesaksian mantan pelaku terorisme, orang-orang yang pernah tergabung kelompok teroris namun kini telah meninggalkan jalan kekerasan. Melalui proses panjang yang difasilitasi AIDA, ia telah berekonsiliasi dengan mantan pelaku. Kepada mantan pelaku teror Yayuk berpesan, “Jangan lagi mengulangi perbuatan itu. Apa pun niatnya, itu tetaplah pembunuhan. Suami saya sedang bekerja untuk menafkahi keluarga namun menjadi korban.” [MSY]
*Disarikan dari penuturan Mahanani Prihrahayu dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian AIDA di Bukittinggi (10/4/2016).

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...