HomeOpiniStrategi Lunak Penanganan Terorisme...

Strategi Lunak Penanganan Terorisme (Bagian II-terakhir)

Oleh: Novi, Lulusan Program Magister Kajian Terorisme, dan Laode Arham, Master Kriminologi, Universitas Indonesia.

Motivasi FTF yang kembali ke negeri masing-masing terbagi menjadi empat kategori, yaitu orang yang kecewa dan trauma; individu yang secara ideologi tidak kecewa oleh jihad tetapi dipaksa untuk pulang karena alasan keluarga, penyakit, luka, dan lainnya; individu yang hendak membangun jaringan ekstremisme di negeri asalnya; dan individu yang ingin kembali menjalankan sel-sel dan merencanakan aksi-aksi kekerasan (Boncio, 2017).

Memahami motivasi kepulangan eks-FTF sangat penting untuk menentukan strategi penanganan mereka. Pasalnya tidak menutup kemungkinan ketika FTF pulang ke Indonesia justru melakukan radikalisasi dan mengajak pengikutnya melakukan aksi kekerasan. Secara hukum, eks-FTF dapat dijerat hukuman pidana, sehingga pasti berakhir dengan penghukuman di lembaga pemasyarakatan.

Baca juga Strategi Lunak Penanganan Terorisme (Bagian I)

Melalui proses hukum dan pidana inilah, penanganan bisa dilakukan dengan pendekatan keras dan lunak. Namun pendekatan keras belum terbukti efektif untuk menangani eks-FTF. Penggunaan humanisme, konektivitas, dan keadilan sosial justru memberikan fondasi yang ideal untuk strategi pencegahan (Gaskew, 2009: 360).

Strategi lunak didasarkan pada terciptanya hubungan antara para pihak dengan eks-FTF yang direncanakan untuk jangka panjang yang tulus dan dapat dipercaya. Dalam hal ini, hubungan antarpribadi, tindakan, dan perilaku lembaga yang terkait, penegak hukum, dan organisasi kemasyarakatan memainkan peran penting dalam mencegah eks-FTF kembali dalam jaringan ekstremisme.

Melalui hubungan tersebut akan terjalin berbagai usaha dan kegiatan bersama dalam bidang sosial, ekonomi dan keagamaan. Pemerintah juga dapat memfasilitasi upaya-upaya penguatan ekonomi dan reintegrasi sosial eks-FTF.

Baca juga Desisten dari Terorisme

Melalui strategi penanganan ini, banyak contoh terbukti efektif. Para mantan narapidana teroris (napiter), kombatan, dan simpatisan JI, hingga eks pejuang/pendukung ISIS mulai mengikuti Upacara HUT Indonesia di Lamongan, sejak Agustus 2017 lalu. Penggeraknya adalah adik kandung Ali Imron, Ali Fauzi eks-FTF di Filipina. Bahkan Ali Fauzi dan rekan-rekannya mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang membina para mantan FTF, napiter, kombatan dan keluarga mereka, serta melakukan kampanye damai. 

Beberapa korban bom pernah bersilaturahmi ke markas YLP, berjumpa dan berdialog dengan Ali Fauzi dan kawan-kawan. Pihak YLP pun sudah berkunjung balik ke sejumlah korban di Bali dan Jakarta. Beberapa pengurus YLP yang sudah berdamai (saling memafkan dan rekonsiliasi) dengan beberapa korban terorisme, juga bahu membahu dalam kampanye damai, mencegah terjadinya, meminjam istilah Hasibullah Satrawi (2018)  zaaliman au mazluman: adanya pelaku  yang menzalimi dan korban terorisme yang terzalimi di masa yang akan datang.

Ali Imron pasti bahagia dengan adik-adik dan murid-muridnya itu. Aparat dan pemerintah pun dapat berbangga atas keberhasilan tersebut.

Baca juga Mewaspadai Propaganda Ekstremisme Saat Pandemi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...