HomeOpiniStrategi Lunak Penanganan Terorisme...

Strategi Lunak Penanganan Terorisme (Bagian I)

Oleh: Novi, Lulusan Program Magister Kajian Terorisme, dan Laode Arham, Master Kriminologi, Universitas Indonesia.

Masih lekat dalam ingatan Ali Imron (terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002), semburan api yang lebih tinggi dari pohon kelapa akibat ledakan bom mobil seberat satu ton lebih di Jalan Legian, Kuta Bali, pada 12 Oktober 2002 malam. Ia tidak menyangka ledakan dan dampaknya sebesar itu. Dua ratus orang lebih menjadi korban seketika. “Saya saja yang melihatnya terasa sakit, apalagi para korban,” ujar Ali Imron dengan nada sangat menyesal. Ia pun memohon maaf pada sejumlah korban bom yang bersilaturahmi dengannya di Markas Polda Metro Jakarta. Tim AIDA menjadi salah satu saksi harunya perjumpaan itu.

Ali Imron dan kebanyakan mantan pelaku terorisme di Indonesia merupakan contoh nyata dari strategi lunak (soft approach) penanganan terorisme yang berhasil dilakukan aparat keamanan dan pemerintah yang melibatkan banyak aktor, termasuk kelompok masyarakat sipil. Ali Imron dan banyak profil lain yang sudah berubah pernah menimba ilmu perang di Afganistan dan  Filipina Selatan.

Baca juga Jalan Panjang Kebangkitan Korban Bom Bali 2002: Penyembuhan Luka (Bagian I)

Tidak sedikit pula yang “terbina” melalui perang lokal dalam konflik Poso dan Ambon di awal-awal reformasi (1999-2002), lantas terlibat dalam berbagai aski terorisme di tanah air. Adapun mereka yang pernah berperang di luar negeri disebut Foreign Terrorist Fighters (FTF), seperti Ali Imron yang tergabung dalam kelompok Jemaah Islamiyah (JI).

Dalam konteks keamanan global, perjalanan seseorang atau kelompok menuju wilayah-wilayah konflik dipandang sebagai hal yang “sangat serius”. Jurnal Foreign Terrorist Fighters: Trends, Dynamics, and Policy Response menyatakan, mereka yang pernah pergi ke negara konflik turut berkontribusi terhadap proses radikalisasi pemahaman ekstrem, memperluas pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan aksi-aksi kekerasan, serta memainkan peran penting dalam perpanjangan konflik (ICCT, 2016).

Selama periode 1980-an hingga 1990-an, sekitar 200 orang Indonesia, melakukan perjalanan ke perbatasan Pakistan–Afghanistan untuk mengikuti pelatihan militer bersama orang-orang dari berbagai belahan dunia lain di Afghanistan (Sumpter, 2018, Solahudin, 2011). Hal itu terulang kembali melalui munculnya Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) di tahun 2013 dan 2014. Terdapat peningkatan “hijrah”, dimana lebih dari 40.000 orang asing secara kolektif bergabung dengan Islamic State (IS). Kurang lebih 600 orang Indonesia menjadi FTF di Irak dan Suriah.

Baca juga Jalan Panjang Kebangkitan Korban Bom Bali 2002: Upaya Kebangkitan (Bagian II-Terakhir)

Jurnal Terror or Terrorism? Al-Qaeda and the Islamic State in Comparative Perspective (2018) menjelaskan, ada perbedaan motivasi antara individu yang hijrah ke Afghanistan dengan orang-orang yang berangkat ke Suriah dan Irak. Dulu, orang berangkat ke Afghanistan karena ingin terlibat membantu membebaskan negara tersebut dari invasi militer Uni Soviet. Usai peperangan berakhir, hampir semuanya pulang ke negerinya masing-masing, termasuk yang berasal dari Indonesia.

Sementara orang tertarik bergabung dengan ISIS memiliki tujuan untuk bernaung di bawah panji Khilafah. Selain itu, ada pula motivasi untuk misi kemanusiaan, kekecewaan akan negara yang mereka tinggali, mencari keluarga, atau mendapatkan penghasilan. Bagi orang-orang yang motifnya murni untuk bernaung di bawah pemerintahan Khilafah, kebanyakan mereka enggan kembali ke negerinya, kecuali mereka terpaksa pulang. (bersambung)

Baca juga Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...