HomeBeritaMerangkul Mereka yang Bertobat

Merangkul Mereka yang Bertobat

Aliansi Indonesia Damai- “Bagaimana kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal Bapak ketika Bapak keluar dari penjara? Apakah menjauhi atau menerima kehadiran Bapak setelah tahu Bapak adalah mantan anggota teroris?”

Pertanyaan ini terlontar dari salah seorang mahasiswa IAIN Purwokerto dalam kegiatan Diskusi dan Bedah Buku La Tay’asIbroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya yang diselenggarakan AIDA beberapa waktu lalu. Kegiatan ini hasil kerja sama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Purwokerto.

Baca juga Menyerap Ibroh dari Kehidupan Penyintas Bom Bali I

Sosok yang ditanya adalah Choirul Ihwan, mantan narapidana terorisme, yang menjadi narasumber kegiatan. Ia mengungkapkan, saat bebas dari lembaga pemasyarakatan, dirinya diantarkan oleh pihak TNI, Polri, dan petugas Lapas yang membinanya ke rumah orang tuanya.

Para aparat negara itu menjelaskan kepada masyarakat bahwa dirinya telah sembuh dan ingin kembali hidup bermasyarakat secara baik. Walhasil Irul, sapaan akrabnya, dapat diterima kembali oleh masyarakat. Penerimaan dan dukungan masyarakat semakin membantu proses disengagement-nya dari kelompok ekstrem.

Baca juga Menumbuhkan Iklim Perdamaian di Kampus

Tantangan lain yang muncul dari pertobatan Irul adalah intimidasi dari kelompok lamanya. Sejumlah orang yang mengetahui kemampuan Irul dalam merakit senjata api, menyesalkan keputusan dirinya. “Saya divonis murtad, bahkan dikatakan halal darah dan hartanya untuk direnggut,” katanya.

Ancaman tersebut tak membuat Irul surut. Komitmen pertobatannya sangat kuat. “Saya ingin bertobat dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat di jalan perdamaian,” ujarnya.

Baca juga Dialog Mahasiswa Universitas Peradaban dengan Mantan Napiter

Dalam kesempatan ini, Ni Luh Erniati, korban Bom Bali 2002, menyatakan apresiasinya atas pertobatan Irul. Ia mengaku pernah sangat marah terhadap para pelaku terorisme. Akibat ulah mereka, nyawa suaminya terenggut sehingga membuatnya harus menjadi orang tua tunggal. Namun seiring waktu ia menyadari bahwa memendam amarah tidak akan membuat perasaannya menjadi lebih baik. “Saya tahu persis, ketika saya sedih, marah, ketika saya tidak menerima kenyataan, saya justru menjadi semakin sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Erni mengaku bahwa ia dan keluarganya telah memaafkan pelaku. Bahkan ia bersahabat dengan para mantan pelaku yang kini telah bertobat, termasuk Ali Fauzi, adik dari trio bomber Bali. “Saya menitipkan harapan kepada mereka agar tidak terjadi lagi bom-bom berikutnya, agar tidak ada lagi korban bom seperti saya ini. Semua adalah untuk kebaikan kita semua,” ucapnya. [FL]

Baca juga Mengenalkan Perspektif Korban kepada Mahasiswa

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....