1 week ago

Merangkul Mereka yang Bertobat

Aliansi Indonesia Damai- “Bagaimana kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal Bapak ketika Bapak keluar dari penjara? Apakah menjauhi atau menerima kehadiran Bapak setelah tahu Bapak adalah mantan anggota teroris?”

Pertanyaan ini terlontar dari salah seorang mahasiswa IAIN Purwokerto dalam kegiatan Diskusi dan Bedah Buku La Tay’asIbroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya yang diselenggarakan AIDA beberapa waktu lalu. Kegiatan ini hasil kerja sama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Purwokerto.

Baca juga Menyerap Ibroh dari Kehidupan Penyintas Bom Bali I

Sosok yang ditanya adalah Choirul Ihwan, mantan narapidana terorisme, yang menjadi narasumber kegiatan. Ia mengungkapkan, saat bebas dari lembaga pemasyarakatan, dirinya diantarkan oleh pihak TNI, Polri, dan petugas Lapas yang membinanya ke rumah orang tuanya.

Para aparat negara itu menjelaskan kepada masyarakat bahwa dirinya telah sembuh dan ingin kembali hidup bermasyarakat secara baik. Walhasil Irul, sapaan akrabnya, dapat diterima kembali oleh masyarakat. Penerimaan dan dukungan masyarakat semakin membantu proses disengagement-nya dari kelompok ekstrem.

Baca juga Menumbuhkan Iklim Perdamaian di Kampus

Tantangan lain yang muncul dari pertobatan Irul adalah intimidasi dari kelompok lamanya. Sejumlah orang yang mengetahui kemampuan Irul dalam merakit senjata api, menyesalkan keputusan dirinya. “Saya divonis murtad, bahkan dikatakan halal darah dan hartanya untuk direnggut,” katanya.

Ancaman tersebut tak membuat Irul surut. Komitmen pertobatannya sangat kuat. “Saya ingin bertobat dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat di jalan perdamaian,” ujarnya.

Baca juga Dialog Mahasiswa Universitas Peradaban dengan Mantan Napiter

Dalam kesempatan ini, Ni Luh Erniati, korban Bom Bali 2002, menyatakan apresiasinya atas pertobatan Irul. Ia mengaku pernah sangat marah terhadap para pelaku terorisme. Akibat ulah mereka, nyawa suaminya terenggut sehingga membuatnya harus menjadi orang tua tunggal. Namun seiring waktu ia menyadari bahwa memendam amarah tidak akan membuat perasaannya menjadi lebih baik. “Saya tahu persis, ketika saya sedih, marah, ketika saya tidak menerima kenyataan, saya justru menjadi semakin sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Erni mengaku bahwa ia dan keluarganya telah memaafkan pelaku. Bahkan ia bersahabat dengan para mantan pelaku yang kini telah bertobat, termasuk Ali Fauzi, adik dari trio bomber Bali. “Saya menitipkan harapan kepada mereka agar tidak terjadi lagi bom-bom berikutnya, agar tidak ada lagi korban bom seperti saya ini. Semua adalah untuk kebaikan kita semua,” ucapnya. [FL]

Baca juga Mengenalkan Perspektif Korban kepada Mahasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *