HomeBeritaDialog Mahasiswa Universitas Peradaban...

Dialog Mahasiswa Universitas Peradaban dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- AIDA bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Peradaban Bumiayu menggelar Diskusi dan Bedah Buku “La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya” pada Jumat (16/04/2021). Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme (Napiter). Kurnia berkisah tentang sepak terjangnya di jaringan ekstremisme kekerasan dan pertobatannya.

Menanggapi paparan Kurnia, salah seorang peserta bertanya tentang faktor yang membuat kelompok teror melancarkan aksinya. Menurut pengalaman Kurnia, faktor utama adalah karena doktrin jihad. Kelompok ekstrem menganggap mereka tengah berada dalam ‘penjajahan kekafiran’ sehingga tidak segan menyerang aparat negara yang dianggap murtad karena membela negara.

Baca juga Mengenalkan Perspektif Korban kepada Mahasiswa

Di samping itu, kelompok ekstrem juga tidak segan-segan menghabisi nyawa umat non-muslim karena terobsesi dengan dendam. “Aksi tersebut mereka anggap sebagai bentuk pembalasan atas konflik di tempat lain (yang menyasar umat Islam). Mereka membawa ketidakadilan di tempat lain ke sini, yang justru menimbulkan ketidakadilan baru,” ujar Kurnia.

Peserta lain lantas merespons dengan pertanyaan lanjutan. Dia menanyakan alasan di balik keyakinan kelompok ekstrem bahwa aksi bom bunuh diri sebagai upaya meraih kesyahidan.

Baca juga Belajar dari Kehidupan Korban Kekerasan

Kurnia menjelaskan, kelompok teror sering mengutip peristiwa di masa lalu, di mana ada salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw yang memasuki benteng lawan seorang diri. Hal ini lantas dianalogikan dengan aksi bom bunuh diri. Jika dia meninggal, maka Allah akan memberinya pahala syahid.

Namun Kurnia mengkritisi konsep itu. Menurut dia, jihad harus memertimbangkan niat, target, dan momentum secara tepat, tidak boleh dilakukan secara serampangan. Jihad yang keliru hanya akan menimbulkan lebih banyak kerusakan dan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain. Kurnia tidak setuju jihad hanya bermakna perang. “Banyak amalan jihad lainnya yang juga bernilai surga,” katanya.

Baca juga Membangun Perdamaian di Universitas Peradaban Bumiayu

Kurnia lalu meminta para peserta yang seluruhnya berstatus mahasiswa agar mewaspadai perekrutan kelompok teror. Karena itu sangat penting mengenali ciri-cirinya. Dalam hematnya, identitas kelompok ekstrem tidak dilihat dari cara mereka berpakaian, tetapi lebih ke ideologi.

“Cadar, jenggot, celana cingkrang bukanlah identitas terorisme. Terorisme lebih kepada pemikiran. Mereka mudah sekali mengkafirkan baik orang maupun sistem negara. Demokrasi dianggap syirik, yang ikut pemilu dianggap musyrik. Paham kelompok mereka dianggap kebenaran mutlak,” tutur Kurnia.

Baca juga Dialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta dengan Penyintas Terorisme

Bagi mereka yang sudah terlanjur terpapar paham ekstrim, Kurnia menyarankan agar orang tersebut dijauhkan dari kelompoknya. Pemahaman ekstremnya kemudian dikonfrontasi dari berbagai sisi; dalil, logika, dan wawasan kemanusiaan. [FAH]

Baca juga Generasi Intelektual Duta Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...