HomeBeritaMenyerap Ibroh dari Kehidupan...

Menyerap Ibroh dari Kehidupan Penyintas Bom Bali I

Aliansi Indonesia Damai- Beberapa waktu lalu, AIDA bekerjasama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Purwokerto, menggelar Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya (13/4). Kegiatan yang digelar secara daring ini diikuti seratus lebih mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas.

Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Ni Luh Erniati, korban Bom Bali 2002. Suaminya, I Gede Badrawan, meninggal dunia dalam serangan bom di kawasan Legian Kuta Bali, 18 tahun silam. Ia sempat sangat terpuruk karena saat itu kedua anaknya masih sangat belia.

Baca juga Menumbuhkan Iklim Perdamaian di Kampus

Dalam kesempatan itu Erni berbagi kisah tentang lika-liku kehidupan keluarganya. Tak mudah untuk bangkit dari musibah itu, apalagi harus mengikhlaskan kepergian suami sekaligus melihat kenyataan bahwa anak-anaknya yang masih kecil harus kehilangan ayahnya. Kendati demikian, Erni mengaku belajar berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Dengan cara itu ia perlahan bangkit dan mampu keluar dari keterpurukan.

“Dengan demikian saya bisa bangkit kembali dan melawan semua ini serta bekerja dan menyembuhkan diri saya sendiri terlebih dahulu,” ujar perempuan yang tergabung dalam komunitas korban bom Bali Yayasan Isana Dewata itu.

Baca juga Dialog Mahasiswa Universitas Peradaban dengan Mantan Napiter

Erni mengatakan, awalnya sangat sulit untuk menerima kenyataan, terlebih kepada pelakunya. Namun perlahan tapi pasti, Erni mulai menemukan kedamaian hidup ketika belajar tentang makna permaafan. Ia lantas bertemu mantan pelaku. Ia memilih memaafkan, dan bahkan bersahabat dengan salah seorang pelaku yang telah insaf. Erni meyakini bahwa perdamaian tak mungkin terwujud dengan dendam.

“Kami bisa saling memaafkan dan saling menerima dan bekerja sama untuk masa depan kita semua. Karena itu satu hal yang paling penting dalam kehidupan kita adalah tidak menciptakan kekerasan di dalam kehidupan kita,” jelas Erni.

Baca juga Mengenalkan Perspektif Korban kepada Mahasiswa

Dalam kesempatan yang sama, ketua pengurus Yayasan AIDA, Hasibullah Satrawi mengatakan kisah korban adalah sumber utama ketika ingin melihat dampak dari aksi-aksi kekerasan. Menurutnya, kekerasan terhadap orang lain, apalagi sampai melukai dan menghilangkan nyawa adalah bentuk kezaliman yang nyata.

“Ada yang kena luka bakar, luka rahang, dan kehilangan kaki. Begitu juga ketika bicara tentang background mereka yang terkena, mereka terdiri dari berbagai latar belakang. Disebutkan dalam ajaran agama, barangsiapa yang membunuh satu orang, maka seakan membunuh banyak manusia,” tutur alumni Al-Azhar Kairo Mesir itu.

Baca juga Belajar dari Kehidupan Korban Kekerasan

Di akhir pemaparannya, Hasibullah mengajak mahasiswa untuk berfikir kritis dan berdiskusi tentang diskursus keagamaan seluas-luasnya. Namun, apabila diskusi itu sudah mengarah pada aksi-aksi kekerasan, Hasibullah mewanti-wanti mahasiswa untuk menghindarinya.

Tak lupa ia juga mengajak mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam pembangunan perdamaian. “Kita harus melakukan sesuatu untuk mereka, karena kita bisa saja menjadi orang-orang yang menjadi korban jika tidak melakukan sesuatu,” katanya, memungkasi penjelasannya. [FS]

Baca juga Membangun Perdamaian di Universitas Peradaban Bumiayu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...