HomeBeritaPesan Perdamaian Pelajar Surakarta...

Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 2- Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar kampanye perdamaian di beberapa sekolah di Surakarta, Jawa Tengah, sejak akhir Agustus hingga awal September 2021. Kegiatan dikemas dalam bentuk Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh.” Pekan lalu AIDA menyelenggarakan kegiatan daring ini di SMAN 8, SMAN 1, dan SMKN 3.

Dalam kegiatan itu, AIDA menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri dari unsur mantan pelaku terorisme dan korbannya. Mereka berbagi cerita dan pengalaman hidup di hadapan sekitar 50 siswa di setiap sekolah. Melalui kisah itu, AIDA berharap generasi muda mengambil pembelajaran (ibroh) dan ikut membangun perdamaian Indonesia.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 1)

Setelah mengikuti kegiatan, beberapa peserta menyampaikan kesan dan pesannya. Berikut pesan-pesan ketangguhan yang terangkum dari pendapat para peserta kegiatan.

Tidak menebar kebencian

Siswi SMAN 8 Surakarta mengatakan, pembelajaran dari kisah narasumber adalah pentingnya menghadapi cobaan dan tidak berputus asa. Musibah harus diterima dengan ikhlas. Dalam hematnya, setiap musibah yang datang hendaknya disikapi dengan cara-cara damai bukan dengan aksi kekerasan ataupun menebarkan kebencian.

Baca juga Hikmah dari Kehidupan Penyintas dan Pelaku Terorisme

“Jika kita menerima cobaan hidup, maka jalani dan ikhlaskan saja. Jangan menebar kebencian untuk menciptakan kedamaian,” ujarnya.

Hikmah dari musibah

Pada kegiatan di SMAN 1 Surakarta, seorang siswa mengatakan, kisah korban yang dihadirkan AIDA dalam kegiatan ini membuatnya yakin bahwa dari tiap musibah terdapat hikmah. Menurut siswa kelas XI IPA ini, musibah adalah jalan agar manusia lebih kuat lagi daripada sebelumnya.

Baca juga Siswa SMAN 8 Surakarta Belajar dari Penyintas Bom Bali

“Musibah memiliki jalannya sendiri agar manusia menjadi yang lebih kuat lagi, lebih baik lagi daripada sebelumnya,” ucapnya.

Selektif menerima ajakan

Peserta Dialog Interaktif di SMKN 3 Surakarta menyatakan, sangat penting bagi generasi muda untuk memilah-milah ajakan dari orang lain. Hal tersebut sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terjerumus pada hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Kita harus memiliki filter dalam diri kita sendiri agar tidak mudah terpengaruh dan terjerumus pada hal yang tidak baik dan merugikan,” katanya.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Surakarta dengan Penyintas Bom Kuningan

Selain itu, ketangguhan penyintas aksi terorisme bangkit dari penderitaan dan bahkan menjadi duta perdamaian membuatnya sadar, bahwa seberapa berat hal yang terjadi dalam hidup, kita tidak boleh larut dalam kesedihan berkepanjangan.

“Tidak mengapa jika merasakan kesedihan. Namun jangan berlebihan dan berkepanjangan. Karena itu akan berpengaruh pada diri kita ke depannya dan juga orang-orang di sekitar kita juga,” tuturnya. [MSH]

Baca juga Ketangguhan Penyintas di Mata Siswa SMAN 2 Surakarta

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...