HomeBeritaHikmah dari Kehidupan Penyintas...

Hikmah dari Kehidupan Penyintas dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sejumlah siswa SMKN 3 Surakarta berbagi pesan, kesan, serta pembelajaran dari kisah hidup penyintas terorisme dan mantan pelakunya. Hal itu mengemuka saat AIDA menggelar Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh,” Jumat (10/09/2021).

Beberapa siswa mengatakan bahwa kisah kehidupan penyintas dan pertobatan mantan pelaku terorisme syarat akan hikmah dan pembelajaran bagi generasi muda. Pembelajaran yang dapat mereka serap antara lain tentang nilai-nilai ketangguhan, kesabaran, permaafan, dan keberanian diri untuk mengakui kesalahan sekaligus memperbaiki kesalahannya.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 1)

Dalam kesempatan itu AIDA menghadirkan korban tidak langsung bom Bali 2002, Ni Wayan Rasni Susanti, dan mantan pelaku terorisme, Sumarno. Rasni harus menanggung beban hidup keluarga setelah ditinggal seorang suaminya. Sementara Sumarno adalah keluarga dari para pelaku bom Bali I. Ia terlibat dalam kasus penyimpanan senjata dan bahan peledak sehingga bertahun-tahun harus mendekam di dalam penjara.

Seorang siswi mengaku kagum atas ketangguhan hidup penyintas. Pasalnya, di saat harus kehilangan tulang punggung bagi keluarganya, Rasni masih mampu bangkit dan dapat menghidupi anak-anaknya yang saat itu masih kecil. Meski bertahun-tahun harus menderita dengan persoalan hidup dan trauma yang tak mudah hilang, Rasni justru membuka lembaran baru dengan memaafkan pelakunya.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Surakarta dengan Penyintas Bom Kuningan

“Ketabahan dan ketegaran Ibu Rasni menghadapi ujian seberat apapun. Dia berusaha tidak menyalahkan siapapun dalam takdir yang sudah ditentukan, bahkan berusaha bangkit,” ujar salah seorang siswi.

Menurut seorang siswa, pembelajaran yang tak kalah penting dari kisah Rasni adalah tentang kokohnya keimanan. “Dari kisah Ibu Rasni yang saya dapatkan adalah pelajaran bahwa apapun yang terjadi, tetaplah berserah pada yang Maha Kuasa karena hanya Dia yang dapat membantu kita. Sedih tidak apa-apa, tetapi jangan berlebihan dan berkepanjangan karena akan berpengaruh pada diri kita kedepannya dan tentunya juga orang-orang di sekitar kita juga,” ucapnya.

Baca juga Ketangguhan Penyintas di Mata Siswa SMAN 2 Surakarta

Kisah Rasni juga mengundang decak kagum seorang siswi, terutama ketangguhannya sebagai seorang perempuan. Tak pernah mudah melanjutkan hidup ketika permasalahan itu teramat berat. Menurutnya, salah satu kunci ketangguhan hidup Rasni adalah karena kekuatan cinta terhadap keluarga. “Pembelajarannya adalah berusaha, berjuang, bersemangat, dan bangkit dari keterpurukan untuk keberlangsungan hidup dan untuk orang-orang tercinta di sekitar kita,” katanya.

Tak hanya itu, kegigihan tekad dan keberanian Sumarno untuk bertobat dan mengakui kesalahan serta meminta maaf juga dinilai layak menjadi pembelajaran bagi generasi muda. Seorang siswi mengatakan, dari kisah Sumarno generasi muda mesti pandai memilih teman yang baik yang tidak menjerumuskan pada ajakan-ajakan dan paham kekerasan.

Baca juga Menyemai Bibit Perdamaian di SMAN 4 Surakarta

“Pembelajaran yang saya dapat dari kisah Bapak Sumarno adalah kita harus lebih selektif memilih teman dan dalam memilih ajakan orang lain. Dengan kata lain kita harus memiliki filter dalam diri sendiri agar tidak mudah terpengaruh dan terjerumus pada hal yang tidak baik dan merugikan,” katanya. [AH]

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...