HomeBeritaMenolong Korban dan Mantan...

Menolong Korban dan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Aksi-aksi kekerasan terorisme masih menjadi ancaman bagi perdamaian Indonesia. Di kalangan pelakunya, sebagian dari mereka sejatinya mungkin berniat baik karena ingin membantu saudara sesamanya yang dizalimi di belahan wilayah lain. Hanya saja, cara yang mereka gunakan keliru fatal sehingga menimbulkan korban yang tak bersalah. Kedua belah pihak, baik korban dan pelaku, perlu ditolong untuk mewujudkan Indonesia yang lebih damai.

Pernyataan itu disampaikan Fikri, perwakilan AIDA, saat memberikan sambutan dalam acara Diskusi Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di Madrasah Aliyah Sunan Gunung Jati, Losari Cirebon, akhir Maret lampau. Ia mengutip salah satu hadis Nabi Saw yang memerintahkan untuk membantu pertobatan orang yang berbuat salah dan mendampingi korbannya. “Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang dizalimi’,” ujarnya.

Baca juga Menjaga Perdamaian di Cirebon

Atas dasar itulah AIDA menghadirkan kisah-kisah pertobatan mantan pelaku dan kisah ketangguhan korbannya kepada generasi pelajar. Menurut Fikri, peran kedua belah pihak dapat berkontribusi besar bagi terwujudnya perdamaian di Indonesia. “Kita akan menyerap hikmah dari kisah-kisah mereka. Harapannya perdamaian di Indonesia, bahkan dunia bisa terus terpelihara. Tidak ada lagi korban dan tidak ada lagi pelaku ekstremisme dan terorisme,” katanya.

Master Ilmu Politik Universitas Indonesia itu menekankan pentingnya menegakkan perdamaian. Sebab, peristiwa terorisme tidak hanya menimbulkan ketakutan-ketakutan, tetapi juga kerugian dan penderitaan bagi para korbannya. “Para korban adalah mereka yang tidak punya salah apa-apa, tidak punya masalah dengan pelakunya. Mereka sedang bekerja, sedang belajar, tetapi tiba-tiba terkena pengeboman dan harus menerima dampak kerugian,” ungkap Fikri.

Baca juga Suara Damai Generasi Tangguh Indramayu

Ia lantas menceritakan pengalaman para tokoh-tokoh perdamaian yang mendirikan AIDA untuk menyuarakan kisah-kisah korban dan titik balik pertobatan pelakunya. “Jadi pada tahun 2013 para pendiri AIDA bertemu dengan salah satu korban bom di Jakarta. Dari itu, hasil pemikiran beliau-beliau, AIDA dibentuk sebagai lembaga kemasyarakatan yang fokus pada kampanye perdamaian lewat suara korban dan mantan pelakunya,” ujarnya.

Fikri menegaskan pentingnya kesadaran kolektif untuk mendampingi korban terorisme sekaligus pelakunya. Harapannya, kedua belah pihak dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan perdamaian di Indonesia. “Korban harus ditolong, pelaku harus ditolong. Kita selamatkan agar dapat bangkit dan mereka (pelaku) tidak tersesat lagi,” ujar Fikri memungkasi sambutannya. [AH]

Baca juga Belajar Tak Terbatas Dinding Kelas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...