HomeBeritaSuara Damai Generasi Tangguh...

Suara Damai Generasi Tangguh Indramayu

Aliansi Indonesia Damai- Pandemi bukan alasan untuk berhenti menyuarakan perdamaian bagi generasi muda di Indonesia. Di era kebiasaan baru, kampanye perdamaian kembali digelar AIDA secara tatap muka di sejumlah sekolah di Indramayu, Jawa Barat. Meski kegiatan digelar dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, siswa-siswi tampak antusias belajar bersama dan berkomitmen menyuarakan perdamaian bagi masyarakat luas.

Pagi itu, Senin (14/2/2022), Aula SMK PGRI Jatibarang, Indramayu, dipenuhi puluhan siswa-siswi dari berbagai jurusan. Hari itu berlangsung acara “Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang difasilitasi Deputi Direktur AIDA, Laode Arham.

Baca juga Belajar Tak Terbatas Dinding Kelas

Selain menjadi ajang diskusi bersama, acara itu juga menjadi momen tampilnya sejumlah generasi muda untuk menyampaikan pandangan terhadap perdamaian di Indonesia. Belajar dari kisah-kisah pertobatan pelaku terorisme dan ketangguhan dari para korbannya, generasi muda diharapkan mampu memerkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai perdamaian bagi lingkungannya masing-masing.

Menurut Laode, suara perdamaian dari generasi muda amat penting. Sebab, ancaman kekerasan masih terus ada dan menyasar kalangan muda. Karena itu, lewat acara tersebut generasi muda diharapkan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan mampu berkontribusi bagi pembangunan perdamaian Indonesia. “Keahlian kita harus digunakan untuk kemanfaatan, bukan untuk menebar kebencian dan permusuhan,” ungkap Laode.

Baca juga Menjadi Tangguh di Era Disinformasi

Ketika menyaksikan kisah pertobatan pelaku terorisme, seorang siswa mengaku kagum atas perubahan berani mereka. Tidak hanya mengakui kesalahan di masa lalunya, tetapi juga dengan berani meminta maaf kepada para korbannya. Dalam hematnya, sikap demikian layak dicontoh karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan yang harus diakui dan diminta pemaafannya kepada orang-orang yang dirugikan.

“Mendengar kesaksian Pak Kurnia Widodo (mantan pelaku), yang dengan sepenuh hati bertobat dan mengakui kesalahannya, saya jadi berpikir bahwa setiap kita pasti pernah salah. Dan bila ada orang yang salah, kita harus saling memaafkan, karena sikap seperti itu yang dibutuhkan untuk membangun persatuan dan perdamaian kita,” ujar salah seorang siswa.

Baca juga Menumbuhkan Ketangguhan Generasi Muda Indramayu

Ia pun mengakui, faktor pertemanan, lingkungan dan orang-orang terdekat sangat memengaruhi pertumbuhan pemikiran generasi muda. Kisah para pelaku yang terpapar paham ekstrem sedikit banyak lantaran salah memilih pertemanan dan dipengaruhi oleh keluarganya. “Mereka ekstrem karena pengaruh keluarga, sahabat teman, dan orang sekitar. Karena itu kita harus bersama-sama saling merangkul mereka yang salah,” tuturnya.

Selain dari kisah mantan pelaku, kisah-kisah ketangguhan hidup dari para korbannya juga dinilai mengandung inspirasi ketangguhan bagi generasi muda. Seorang siswa kagum atas ketabahan dan keluasan hati korban yang mau memaafkan kesalahan pelakunya. Padahal mereka harus kehilangan orang tercinta karena meninggal dunia, dan sebagian yang lain harus menderita lantaran luka yang harus ditanggung bertahun-tahun.

Baca juga Kepala SMAN 1 Kroya Indramayu Ingatkan Persatuan Indonesia

“Mereka memaafkan pelaku. Itu luar biasa. Saya belajar dari korban, kalau kita terus menyimpan dendam, maka perdamaian itu tidak akan terwujud. Menyimpan dendam juga bukan ajaran agama. Kita sesama umat manusia ini sama. Sama-sama diciptakan dengan tubuh yang sama, maka memaafkan adalah yang terbaik, tidak boleh menyimpan dendam,” tuturnya.

Menurut dia, sikap pemaaf dan mengakui kesalahan harus dipupuk sejak usia muda. “Kalau ada teman kita yang berbuat kesalahan, lalu ia meminta maaf dan mengakui kesalahannya, maka kita harus memaafkannya. Kenapa hal itu harus dilakukan, karena perdamaian dimulai dari kita sendiri,” ucap seorang siswa memungkasi. [AH]

Baca juga Menyemai Perdamaian di Kalangan Pelajar Indramayu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...