HomeOpiniMeluruskan Makna Jihad

Meluruskan Makna Jihad

Dalam beberapa bulan belakangan, sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia, diguncang serangan teror bersenjata dan ledakan bom yang menyebabkan ratusan manusia tak bersalah kehilangan nyawa. Pada November 2015, tiga negara diterjang aksi brutal. Dimulai dari aksi bom bunuh diri di Beirut, Lebanon, yang merenggut 43 nyawa, menyusul setelahnya serangkaian teror di kota mode Paris, Perancis, dan berikutnyaserangan bom di Yola, Nigeria. Pada awal tahun 2016, giliran ibu kota Jakarta yang diserang teroris dalam aksi Teror Thamrin. Aksi brutal teroris paling mutakhir adalah Teror Brussels, Belgia, pada Maret lalu.

Aksi-aksi keji tersebut dikutuk nyaris serempak oleh warga dunia sekaligus memantik empati dan kepedulian global. Tragedi tak berperikemanusiaan itu dirasa janggal sebab terjadi di negara-negara damai, bukan negara yang sedang dilanda konflik bersaudara dan peperangan seperti Afghanistan, Irak, Suriah, dan Palestina. Bukan berarti warga dunia mengabaikan konflik dan peperangan yang menimpa negara-negara itu, tapi memperbandingkan aksi bom di wilayah damai (darus shulhi) dengan kawasan perang (darul harbi)tentu tak adil dan tak sebanding.

Sebagai muslim, yang memerihkan hati penulis adalah klaim para pelaku serangan bahwa aksi-aksinya merupakan jihad atas nama penegakan martabat Islam. Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS/ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan di Beirut, Paris, Jakarta, dan Brussels. Tindakan itu sebagai balas dendam lantaran milisi Hizbullah Lebanon dan militer Perancis menyerang pasukan ISIS di Suriah. Di Jakarta, belum terungkap motif penyerangan. Sementara di Nigeria, kelompok Boko Haram berulang kali melancarkan teror atas nama penegakan syariat Islam di semenanjung Afrika itu.

Aksi kekerasan seperti itu jelas ilegal dan bukan jihad. Apabila merujuk pada fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2004 tentang Terorisme, aksi-aksi seperti di atas masuk dalam kategori terorisme (irhabiyah), bukan jihad dalam makna perang (qital).

Lebih dari itu, aksi teror di Perancis dan Belgia juga sangat merugikan umat Islam di sana. Di Perancis dan Belgia, Islam merupakan agama terbesar kedua setelah Kristen. Saat populasi muslim terus bertumbuh, dakwah Islam berjalan pesat dan damai, aksi teror Paris dan Belgia justru sangat rentan memicu aksi diskriminasi dan intoleransi terhadap umat Islam lokal. Inilah yang tak (mau) dipahami oleh ISIS.

Jihad yang berakar dari kata Bahasa Arab jaahada, yujaahidu, jihaadan, artinya bersungguh-sungguh, mengerahkan segenap daya dan upaya untuk mencapai yang terbaik. Sedangkan terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban. Jihad, sekalipun dengan cara peperangan, bertujuan menegakkan agama Allah, membela hak-hak kelompok yang terzalimi, dan dilakukan secara ketat dengan mengikuti aturan syariat Islam.

Jihad dalam arti perang hanya dapat dilakukan jika tak ada lagi upaya diplomasi damai dalam menyelesaikan persoalan antarnegara. Itu pun sangat ketat aturannya, antara lain hanya bisa dilaksanakan di zona peperangan, tidak boleh diarahkan pada orang Islam atau nonmuslim yang bukan tentara (sipil), anak-anak, perempuan, pepohonan, dan tempat ibadah.

Meski menghalalkan perang, jihad yang sebenarnya sangat memegang teguh prinsip hak manusia atas ekonomi, sosial, dan lingkungan. Prinsip demikian selaras dengan salah satu poin dalam khutbah wada’ (pidato perpisahan) Nabi Muhammad SAW: “Inna dimaakum wa amwalakum wa a’radhakum haramun ‘alaikum fi yaumikum hadza wa baladikum hadza wa syahrikum hadza.” Terjemah bebasnya “Saat ini tak boleh ada lagi darah yang tumpah, harta yang dirampas, serta martabat yang ternoda di negeri kalian.”

Selain itu instruksi jihad (perang) hanya sah dideklarasikan oleh amirul mu’minin, yaitu panglima perang yang beriman dan legal secara konstitusional. Dalam konteks negara modern adalah kepala negara atau pemerintahan, yaitu Presiden, Perdana Menteri, atau Raja/Ratu. Tak sembarang orang dapat menginstruksikan perang.

Salah satu kesalahan besar lain dalam aksi-aksi teror atas nama jihad yang kerap terjadi belakangan ini adalah bom bunuh diri.  Tindakan ini masuk kategori dosa besar. Bunuh diri menunjukkan keputusasaan dan ketiadaan harapan. Padahal setiap muslim harus tetap memendam raja’ (optimisme) bahwa Allah MahaKasih terhadap hambaNya.

Para teroris mengklaim aksinya sebagai perlawanan terhadap imperialisme negara-negara Barat terhadap negeri-negeri muslim. Dalam hemat penulis, imperialisme dan ancaman yang paling konkret dirasakan oleh mayoritas muslim di dunia adalah kemiskinan, kebodohan, dan interaksikebudayaan. Maka sangat naif jika ancaman seperti itu dihadapi dengan perlawanan fisik.

Menengok masa keemasan peradaban Islam di masa lampau (misalnya era Dinasti Abbasiyah), selain ada struktur dan sistem politik pemerintah yang mendukung, kuncinya adalah pada ilmu pengetahuan. Maka dalam konteks sekarang, ijtihad, yang akar katanya sama dengan jihad, yang bermakna mengeluarkan segala upaya untuk mencari ketetapan hukum atau inovasi ilmiah, merupakan bentuk jihad yang paling tepat.

Salah besar jika pria-pria muslim dari pelbagai penjuru dunia berbondong-bondong berangkat ke Suriah untuk bergabung ISIS. Klaim mereka yang hendak membela saudara seagama yangsedang berperang di sanatak dapat diterima. Perang Suriah adalah konflikkomunal yang melibatkan antarumat muslim beda mazhab.Sementara di sisi lain,  mereka meninggalkan begitu saja keluarganya, istrinya, dan anaknya yang lebih membutuhkan “jihad” mereka dalam rangka membangun masa depan generasi keturunannya yang lebih cerah.

Tepat apa yang diungkapkan pemikir Islam dari Mesir, Jamal Al Banna, dalam bukunya al-Jihad. “Sesungguhnya jihad pada hari ini bukan untuk mati di jalan Allah melainkan untuk di hidup di jalan-Nya (anna al-jihad al-yawmi laysa huwa an namuta fi sabilillahi wa lakin an nahya fi sibilillahi).” Jihad disyariatkan untuk merawat kehidupan bukan untuk menyongsong kematian apalagi merusak peradaban. Wallahu a’lam.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...