HomeBeritaGuru Agen Perdamaian

Guru Agen Perdamaian

Training of Trainer “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai”, Bukittinggi Jumat dan Sabtu, 15-16 April 2016.

Dua puluh orang guru dari lima sekolah di Bukittinggi, Sumatera Barat, mengikuti kegiatan Training of Trainer (ToT) “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai”, pada Jumat-Sabtu, 15-16 April 2016. Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Hotel Royal Denai Bukittinggi itu, lima sekolah mengirimkan delegasinya, yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, dan SMAN 5.

Sejumlah peserta menyampaikan apresiasinya kepada AIDA karena mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang tantangan-tantangan perdamaian, termasuk isu radikalisme-ekstremisme. Seorang guru dari SMAN 5 Bukittinggi mengungkapkan, sebelumnya ia kerap berprasangka negatif terhadap orang-orang yang berpenampilan berbeda dari kebanyakan orang Indonesia, seperti berjenggot panjang dan bercelana congklang.

“Dulu saya salah paham. Ternyata penampilan orang tak bisa dijustifikasi, yang salah itu ajarannya,” ujarnya.

Ia mengajak rekan-rekannya sesama guru agar menjadi pengayom yang peduli atas permasalahan anak-anak didiknya. Menurut dia, guru harus menjadi mitra diskusi yang menyenangkan sehingga peserta didik mau berkonsultasi secara terbuka terkait permasalahan apa pun, termasuk kegiatan-kegiatan yang diikutinya. Dalam kegiatan tersebut, para guru belajar strategi agar pesan perdamaian dan nilai-nilai kebaikan sukses tersampaikan kepada siswa.

Sementara itu, peserta ToT dari SMAN 2 Bukittinggi menyatakan, dari materi-materi yang didapatkannya dalam kegiatan tersebut, ia memahami tantangan radikalisme dan faktor-faktor penyebab keterlibatan seseorang dalam kelompok radikal-ekstrem.

“Sebagai guru, kita harus bisa lebih mendekatkan diri kepada anak-anak didik, sehingga bisa berdialog, menggali informasi, dan membantu mereka terlepas dari ajaran tersebut,” katanya.

Menurut dia, sebagai sosok yang digugu dan ditiru oleh anak didik, guru harus menjadi teladan perdamaian, baik dalam materi pelajaran, maupun perilaku sehari-hari, baik dalam lingkungan sekolah, kehidupan keluarga maupun sosialnya. “Kita hidup di Indonesia harus menyebarkan perdamaian di mana pun berada. Apa pun yang kita cita-citakan akan tercapai kalau di sekitar kita ada ketenteraman dan kedamaian,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan pelbagai materi, antara lain Radikalisme di Kalangan Siswa SMA yang disampaikan oleh peneliti senior, Farha Ciciek dan Mengenali Gerakan Ekstremisme oleh pakar terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin. [MSY]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...