HomeBeritaDERADICALIZATION: Ex-terrorists, Victims Spread...

DERADICALIZATION: Ex-terrorists, Victims Spread Peace

Again radicalisme: Former terrorist Ali Fawzi (left) speaks recently about the importance of peace, accompnied by Vivi, a victim of the 2002 JW Marriot bomb attack in Jakarta. The two have reconciled and have been participating together in seminars aimed ant curbing radicalisme among youth.

What could possibly happen when a repentant terrorist meets with a badly traumatized victim years after a deadly attack?

A real former terrorist, Ali Fawzi, and one of his real victims, Vivi Normasari, have a real answer: At first, they would suspiciosly stare at each other and engange in name-calling until they exhausted their negative energy before the ex-terrorist became overwhelmed by guilt and unable to fight back tears.

Ten they would hug – emotionnaly.

“I hated him. I was very angry because he kept smiling when telling the audience how he made bombs and how to use them. Ithought he was the most notorius man I had ever met,” said Vivi (40), recalling her first encounter with Ali in a joint forum at a high chool in Tangerang, Banten, two years ago.

Vivi, then a multinational bank employee, suffered serious injuries to her legs and hand in the JW Marriot bombing ini 2003, which killed 12 people and wounded another 150. She said she has found psychological trauma far more difficult to over come than her phisical injuries.

They met again in Jakarta this week as friends and fellow peace campaigners. A bomb making guru, Ali belonged to the Jamaah Islamiyah, and international terror network under Abu Bakar Ba’asyir. Police identified Ali as mentor of the JW Marriot attackers.

Vivi remember she would spend her days in solitude in her rooms after she los her job following the tragedy. She lost her appetite and could hardly sleep for many days. The most devastating moment was when she had to cancel her planned wedding that was at the time only four months away.

“We had been together for 11 years. I was too worried about my [disfigured] handa and fingers,” she said. “I couldn’t imagine shaking hands with my guest.”

Obviously, bringing together terror perpetrators and victims as part of a wider reconciliatory effort, like the one initiated by the Indonesian Peace Alliance (AIDA), is not easy because of the absence of trust between them.

Vivi recounted how she trembled with fear and anger the first time she faced off with Ali, even though she had tried hard to keep calm. He is a brother of Ali Imron and Amrozi, who were executed for their role in the 2002 Bali bombing, which killed 202, mostly Australians.

Ali was known as the mentor of not onli the JW Marriot bombers, but alsi a trainer of jihadists involved in the sectarian strife that claimed thousands of lives in Ambon and Poso in the late 1990s and early 2002. In 2004, he was arrested by the Philippines as he fought alongside Moro Islamic Liberation Front (MILF) rebels. He was repatriated to Indonesia in 2006. Repentant, he was recuited by the police to help them with with their counter-terrorisme strategy.

Just like Vivi , in fact Ali was equally scared the first time he confronted terrorist victims. He said he was hounded by guilt that grew out of the overwhelming regret that the victims were mostly innocent people and not the intended targets.

“Yes, I felt guilty. I could hardly sleep for weeks after I heard the survivors stories. The word ‘sorry’ wasn’t enough to express my regrets,” Ali said.

He felt miserable and wished to escape from the meeting room when survivors began to blame him for their mistery. So deep were his guilty feelings that he sipped several reconciliation meetings.

initially, Vivi did not believe Ale regretted the crimes he had committed, but her heart melted when she saw him weep during a meeting. The hugged.

A crying terrorist was a strange sight indeed. So I could believe ini his sincerity and forgive him, although it is still difficult to forget his crime,” Vivi said.

Now, they feel comfortable to sit side-by-side and share stories. The laugh and tearse each other.

“Being together with [terrorism] survivors convinces me that what we [terrorist] did was wrong and that those survivors are innocent people who have to unduly carry burdens resulting from our misdeeds,” Ali says.

A similarly thouching story was told by Sucipto, a survivor of the 2004 Australian embassy bombing, who befriended Iswanto, one of Ali’s trainees. Peacful coexistence has greatly helped them heal trauma.

“We would spend hours chatting and sharing stories never told before,” Sucipto says, recalling the days following their reconciliation meetings.

AIDA coordinator Hasibullah Satrawi is a proponent of reconciliation between ex-terrorist and victims. The NGO is and ardent critic of the laws that favor ex-terrorist and under the pretext of deradicalization programs, but neglect victims.

Unlike the government, which only recruits (former) terrorisme convicts in its deradicalization campaigns, AIDA alsi involves victims.

“Our peace campaign are targeting school students because at their tender age, they are highly vulnerable to radical ideologies,” Hasibullah said. [TS]

 

Sumber: Berita ini diambil dari harian The Jakarta Post, edisi Saturday May 28, 2016. hal, 2, ditulis oleh Nani Afrida.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...