HomeBeritaRapat dengan Pansus DPR,...

Rapat dengan Pansus DPR, AIDA Usulkan Penguatan Hak Korban

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi (ketiga dari kiri), sedang menyampaikan aspirasi dalam RDPU dengan Pansus Revisi UU Antiterorisme di Jakarta, Selasa (31/5/2016). Hasibullah didampingi korban Bom Kuningan 2004, Sudarsono Hadi Siswoyo (kedua dari kiri).

Panitia Khusus (Pansus) RUU Perubahan UU Terorisme (RUU Terorisme) DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU), di Gedung Nusantara I Senayan, pada Selasa, 31 Mei 2016. Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bersama sejumlah kelompok sipil lain, di antaranya Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan OIC Youth hadir sebagai undangan dalam kegiatan tersebut.

Dalam RDPU ini, Direktur AIDA Hasibullah Satrawi, menyatakan, naskah revisi UU No. 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang diajukan oleh pemerintah ke DPR, sama sekali tidak mencantumkan penguatan hak-hak korban. “Yang diperkuat hanya soal penegakan hukum, mulai dari upaya pencegahan hingga penindakan aksi terorisme,” katanya.

Padahal dalam Bab VI Pasal 36-42 UU tersebut yang membahas soal hak-hak korban (kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi), terdapat beberapa kelemahan yang harus direvisi. Selain itu, dalam UU ini juga tidak mencantumkan definisi yang memadai tentang korban, kompensasi, dan rehabilitasi.

Beberapa hal penting yang dipersoalkan AIDA dari UU No. 15 Tahun 2003 adalah tidak adanya hak khusus mengenai bantuan medis yang bersifat segera pada masa kritis (sesaat setelah peristiwa teror) dan rumitnya prosedur pemberian kompensasi kepada korban.

Terkait jaminan masa kritis, hal itu untuk mengantisipasi adanya korban terorisme yang perawatan medisnya terabaikan. Dalam beberapa kasus selama ini, saat masa kritis, sebagian korban terorisme terabaikan perawatan medisnya akibat tidak adanya jaminan pembiayaan dari pemerintah, bahkan hingga beberapa hari usai peristiwa. Justru yang lebih banyak membantu adalah pihak swasta, NGO, maupun kedutaan besar negara asing.

Sementara terkait kompensasi, menurut UU, pemberian kompensasi bergantung pada putusan pengadilan yang diletakkan dalam proses peradilan pidana pelaku teror. Secara faktual, dari sekian kali persidangan kasus terorisme di Indonesia, baru satu amar putusan yang mengamanatkan kompensasi, yakni putusan atas terpidana pelaku teror Bom JW Marriot 2003 atas nama Masrizal alias Tohir. Namun amanat itu tak terlaksana karena tidak mencantumkan nama-nama korban yang berhak menerima.

Atas dasar itu, terkait RUU Terorisme AIDA mengusulkan beberapa pokok pikiran terkait penguatan hak korban, yaitu:

1. Pencantuman definisi korban dan kompensasi yang memadai
2. Adanya pasal yang mengatur jaminan pembiayaan medis korban terorisme sejak masa kritis.
3. Pemberian kompensasi tidak melalui mekanisme putusan Pengadilan Negeri, cukup dengan putusan lembaga negara yang berwenang dalam pelaksanaan perlindungan dan pemulihan korban terorisme.

Usulan AIDA lebih detail bisa dibaca dalam Daftar inventarisasi masalah (DIM) RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme terkait hak korban. Lihat juga beberapa usulan AIDA dalam Rekomendasi/Usulan Perubahan UU No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme [MSY]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...