HomeInspirasiSelamat Jalan Sahabatku: Hanzolah

Selamat Jalan Sahabatku: Hanzolah

Pagi itu matahari baru beranjak naik. Antum dan istri turun dari stasiun Depok. Cadar yang dikenakan sang istri menunjukan siapa engkau dari sisi luar. Seorang muslim taat yang hati-hati dalam menafsirkan Quran-Hadis dan menjalankan amalan Islam. Tak lama kemudian kita sampai di rumahku: kontrakan kecil yang sempit.
“Mohon maaf rumahnya kecil Om!” sambut istriku sambil memeluk istrinya. “Oh tidak apa, yang penting hati penghuninya luas, maka segalanya terasa gembira dan bahagia,” sambungnya sambil tersenyum sumringah dan memandangku.
Itu kalimat terindah yang pernah aku dengar darimu. Dan itu menjadi pondasi terkuat dari hubungan kita sahabatku. Bukan cuma hubungan kerja, tapi juga hubungan pribadi dan hubungan keluarga kita.
Beberapa kali kau tidur di rumah kami yang sempit itu. Karena hanya satu kamar, maka engkau tidur
di ruang tamu. Setiap kali kamu datang, setiap kali itu pula istriku mengatakan, mohon maaf belum
bisa pindah. Dan kau menyambutnya dengan perkataan yang disambung dengan senyum yang manis, “Oh tidak apa, saya pernah tidur di hutan, trotoar bahkan di lantai tanpa alas.”
Saban malam kamu diganggu Kunan, kucing Persia putih betina yang genit dengan pria ganteng sepertimu. Ia kerap menjilat atau bersandar di kakimu yang selalu kuat berjalan di Jalan Allah (jihad fi sabilillah).
Kita masih punya rencana indah. Aku dan istri akan ke Solo, bertandang dan menginap di rumahmu.
Anak-anak kita akan bermain bersama. Istriku akan memperkenalkan anakku kepada putramu
Tolhah, bocah kecil yang hafiz Quran nan merdu suaranya, agar ia terinspirasi dan belajar dari Tolhah. Anakku belum fasih membaca Quran, enggan menghafal dan sepertinya ia merasa tidak ada motivasi dari saya orangtuanya. Kau dan Tolhah akan membantunya ke jalan itu: jalan yang dirindukan para orang tua, anak-anak yang hafal Quran kelak akan memberikan mahkota surga di kepala orang tuanya.
Dialog Mantan Pelaku dan Korban Terorisme
Lebih dari itu, kita punya mimpi bersama: membangun masyarakat muslim yang cerdas menghadapi
konflik apalagi isu terorisme. Kita punya cita-cita kecil membuat sekolah/pelatihan transformasi
konflik untuk para ikhwan dan mantan kombatan.
“Sekolah” yang tidak bermaksud melunturkan semangat jihad mereka, namun yang menyalurkan semangat tersebut berdasar pada pemahaman Quran dan Sunnah yang benar, yang sesuai dengan syarat-syarat serta rukun jihad itu sendiri. Bukan karena semangat balas dendam, atau membalas kekerasan dengan kekerasan, serta melawan ketidakadilan dengan ketidakadilan. Jihad yang bukan kekerasan apalagi terorisme.
Dan dengan semangat itulah, kau membuka hatimu sedari lama, sejak perjumpaan kita pertama di
Lapas Cipinang Jakarta Timur tahun 2013 silam. Aku tahu, tidak mudah bagimu membuka diri, namun aku juga membuka diri untuk beberapa pandanganmu tentang Islam. Namun kita merasa tidak ada yang berubah dari diri kita masing-masing.
Kita sedang sama-sama berjalan bergandengan tangan di jalan kebenaran: Islam untuk perdamaian dan rahmat bagi Indonesia. Aku masih muslim peziarah kubur (kau pernah mengantarku ke makam Habib Anis al Habsi di Solo) dan kau masih selalu disipilin dengan sholat 5 waktu.
O ya, suatu hari kau menelponku hanya untuk menasihati, “Akhiy, mohon maaf jangan tersinggung. Ana menyampaikan ini karena antum, ana anggap sebagai saudara. Tolong sholatnya dijaga, dipelihara, insyaallah rezekinya lancar dan segala urusan akan dimudahkan.” Aku benar-benar menyukaimu sahabatku.
Kita masih punya mimpi bersama yang banyak, termasuk mempertemukan korban terorisme dan
mantan pelaku melalui kegiatan-kegiatan di AIDA. Agar terbangun rekonsiliasi kecil-kecilan untuk
Indonesia yang lebih damai. Dan antum sudah memulai dari diri sendiri, dengan seorang Kristiani
Mas Albert, korban Bom Kuningan, serta dengan korban terorisme yang lain.
Matamu berkaca-kaca waktu menceritakan ulang kisah Mas Albert dan perjumpaanmu dengannya. Dan aku makin yakin, hatimu terlalu mulia untuk aksi kekerasan. Suatu hari kau berkata dengan nada yang kuat, “Semestinya kami para mantan pelaku yang harus meminta maaf kepada para korban dan keluarganya. Tanpa atau dengan AIDA, adalah kewajiban kami untuk mengunjungi para korban, karena kami harus mempertanggungjawabkan setiap darah yang tertumpah pada peristiwa Bom Bali, Kuningan dan Marriott serta aksi terorisme yang lain. Allah tidak akan memaafkan kami sebelum para korban atau keluarganya memaafkan kami.”
Niatmu itu baru sedikit jalan di Solo dan Klaten atau di kantor AIDA, tatkala kau berjumpa dengan Sudirman, Sudarosono dan beberapa korban lain. Kau membuat apa yang dilakukan AIDA punya arti teologis dan bermakna sakral: pertobatan mantan pelaku dan pemaafan dari korban adalah wujud dari keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Adil.
Engkau cahaya perdamaian, yang datang dari masa lalu yang kala itu diluapi cinta jihad di Moro,
Poso dan Ambon, dan i’dad asykary yang akhirnya mempertemukan kita pertama kali di Lapas
Cipinang. Tapi kau tidak cuma berempati, melainkan juga melakukannya dan membantu kegiatan
kampanye damai para korban.
Kini kau menghadap sang ilahi. Pesan WA dari Pak Hasib jam 12.30, Sabtu kemarin 16 Juli 2015
menggetarkanku, lalu suara Umi Tolhah membuatku gelisah tidak menentu. Jam 14.00-an aku benar-
benar gelisah. Pukul 14.25, pesan Pak Solah seakan meruntuhkan duniaku. Baru kali ini rasanya
kehilangan sahabat terbaik. Sahabat untuk urusan dunia dan akherat sekaligus. Sahabat untuk
perdamaian di bumi dan kebahagiaan di langit. Ini rasa hilang yang benar-benar pilu: nelongso yang
dalam Om!
Selamat jalan sahabatku: Joko Purwanto alias Hanzolah alias Abin alias Abu Tolhah. Sahabat-
sahabatmu di Aliansi Indonesia Damai (AIDA), turut berduka dan kehilangan dengan kepergianmu.
Begitu juga sahabat-sahabatmu di lembaga lain.
Oleh: Laode Arham, Deputi Direktur AIDA

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...