HomeBeritaPenyintas dan Tokoh Agama...

Penyintas dan Tokoh Agama Bersatu Bangun Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Makasar, 30 s.d. 31 Agustus 2016 lalu. Sebanyak 28 peserta dari ormas Islam Darud Dakwah wal Irsyad mengikuti kegiatan tersebut. Pelatihan selama dua hari, bertujuan untuk mensinergikan tokoh agama dan penyintas terorisme guna membangun Indonesia yang lebih damai.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi Meng-counterDoktrin-doktrin Ekstremisme dari narasumber KH. Helmi Ali Yafie. Di hadapan para peserta, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar DDI itu menekankan bahwa segala bentuk terorisme yang terjadi di dunia sarat akan kepentingan politik, bukan semata-mata memperjuangkan ideologi atau agama tertentu.

Setelah jeda shalat asar, pelatihan berlanjut dengan sesi materi Memahami Ideologi dan Jaringan Terorisme dengan narasumber pakar terorisme Universitas Indonesia, Solahuddin. Dalam pemaparannya, Solahudin menjabarkan ideologi ekstrem yang disebarkan para pendukung kelompok teror ISIS yang ada di Indonesia. Paham berbahaya yang dimaksud adalah jihadi-takfiri. Paham tersebut, kata Solahudin, dengan mudah menyematkan identitas kafir atau murtad bagi umat Islam yang tidak sejalan dengan pemahaman mereka, menganggap pemerintah sebagai taghut, dan memerangi siapa pun yang tidak mengakui ISIS sebagai khilafah Islam.

Masih pada hari yang sama, pada sesi malam peserta mendapatkan materi Silaturrahmi dengan Korban Terorisme dengan narasumber Sucipto (korban Bom Kuningan 2004) dan Vivi Normasari (korban Bom JW Marriott 2003). Sucipto dan Vivi secara bergantian menuturkan kisah menjadi korban terorisme. Melalui silaturahmi ini, para tokoh agama didorong untuk semakin akrab mengenal para penyintas aksi terorisme. Diharapkan, kisah korban menjadi inspirasi para tokoh agama untuk menyampaikan dakwah yang menebar perdamaian di masyarakat.

“Dari kegiatan ini diharapkan tokoh agama memainkan peran penting untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya paham ekstremisme serta dampak deskruktif aksi terorisme” kata Hasibullah Satrawi, Direktur AIDA dalam pelatihan, Selasa (30/8).

Pada hari kedua pelatihan, peserta menerima materi Belajar dari Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku. Narasumber dalam sesi ini adalah Iwan Setiawan (korban Bom Kuningan 2004) dan Ali Fauzi (mantan pelaku). Di hadapan para peserta, Iwan dan Ali berbagi pengalaman tentang masa lalu yang menimpa mereka. Ali telah meninggalkan kelompok teroris yang dahulu digelutinya, serta meminta maaf kepada para korban teror. Iwan telah bangkit dari keterpurukan akibat bom dan memaafkan mantan pelaku.

Pada akhir kegiatan, para peserta menyampaikan saran dan evaluasi. Berbagai tanggapan positif muncul dari peserta. Sebagian peserta meminta AIDA menyelenggarakan kegiatan serupa di kota-kota lain di Sulawesi Selatan. Salah satu tindak lanjut dari kegiatan ini adalah membuat forum grup diskusi di media sosial untuk mempererat komunikasi demi pembangunan Indonesia yang lebih damai. [AM]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....