HomeBeritaKetika Mantan Teroris Bertemu...

Ketika Mantan Teroris Bertemu dengan Korban

Melawan ketidakadilan bukan dengan ketidakadilan juga. Pun melawan kekerasan juga bukan dengan kekerasan juga bukan dengan aksi kekerasan serupa. Hal itu menjadi pelajaran penting tatkala mentan terries dengan korban bom bertemu pada sebuah acara, Minggu (23/10).

Mantan teroris Ali Fauzi Manzi (45), duduk satu bangku dengan korban bom JW Marriot, Vivi Normasari (46). Keduanya memberikan kesaksian tentang-tanduk aksi terror serta pergulatan batin bangkit dari keterpurukan setelah mengalami luka fisik dan psikis akibat ledakan bom.

Penuh emosi, kedua orang yang harusnya bermusuhan ini menceritakan pengalaman-pengalamannya dengan sikap penuh kedamaian bak seorang sahabat akrab.

Ali Fauzi merupakan ahli perakit bom dari Jemaah Islamiah (JI) yang juga adik kandung dari Ali Imron dan Amrozi. Aksi terror bom di Indonesia mulai dari 1999 hingga 2004, ada peran Ali Fauzi di sana. Ali Fauzi adalah perakit bom nomor wahid se-Asia Tenggara yang selain merakit, juga mengajarkan teroris membuat bom berdaya ledak tinggi atau setara dengan kekuatan mikronuklir.

Kemampuan Ali didapat setelah menjalani pelatihan militer di Afghanistan dan akademi militer Moro Islamic Liberation Front (MLF).

Ali memaparkan sepak terjangnya ketika masih aktif menyebar terror, hingga akhirnya memutuskan keluar dan malah membantu Polri terkait seluk beluk organisasi teroris.

Vivi Normasari duduk santai mendengarkan orang yang secara tak langsung telah membuatnya cacat fisik dan trauma psikis hebat ini berbicara di forum. Vivi mengatakan awalnya sangat dendam kepada Ali saat kali pertama bertemu setahun lalu.

Rasa dendamnya sangat beralasan, kedua tangannya mengalami cacat permanen. Pun trauma psikis rasa malu tak berkesudahan selama bertahun-tahun dialaminya.

“Waktu pertama bertemu, semua sumpah serapah saya ke alamtkan kepada Pak Ali. Pikiran saya saat itu orang ini telah merenggut kebahagiaan saya hingga membuat saya cacat dan merasa rendah diri dari kecacatan saya itu,” kata Vivi pada sebuah acara yang digagas LSM Aliansi Indonesia Damai (AIDA) Jakarta, di Hotel Santika Jemursari, Surabaya.

Perlahan, semuanya berubah. Vivi mulai bisa menerima Ali Fauzi dan keadaan dirinya. Vivi menuturkan ingin kembali merasakan kedamaian. Namun, ia tak akan bisa merasakan damai jika dirinya sendiri tak mampu berdamai dengan musuh dan keadaannya.

Vivi menyatakan kekerasan tidak akan bisa dilawan dengan kekerasan juga.

“Saya ikhlas memaafkan Pak Ali. Yang lebih penting lagi, saya ikhlas memaafkan diri saya sendiri. Pada detik ini, saya akhirnya bisa merasakan damai,” sambungnya.

Ali pun menyatakan penyesalannya yang mendalam kepada Vivi. Kesalahan perjalanan hidupnya telah membawa petaka tak hanya kepada Vivi, tapi juga ke korban lainnya. (irwan)[SWD]

 

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Pagi Surya edisi 24 Oktober 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...