HomeBeritaPesan Penyintas kepada Korban...

Pesan Penyintas kepada Korban Bom Samarinda

Perempuan berambut terurai itu mulai menangis saat menjawab pertanyaan wartawan. Pertanyaan yang mengharuskannya untuk mengingat kembali kejadian yang membuatnya terluka hingga membekaskan trauma pada percikan api, bahkan yang kecil sekalipun seperti percikan korek api.

Namanya Dwi Siti Romdhoni. Saat kejadian, dia sedang duduk santai bersama teman-temannya menikmati kopi di sebuah kedai di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Kamis, 14 Januari 2016. Saat sedang bercengkerama, tiba-tiba terdengar dentuman yang memekakkan telinga. Ledakan itu menghasilkan kepulan asap panas disertai gelombang kuat yang menghantamnya hingga membuatnya terpental.

Wiki, sapaan akrabnya, menceritakan kisahnya itu di hadapan sejumlah wartawan yang mengerumuninya usai acara Konferensi Pers Solidaritas Bom Samarinda dari Keluarga Korban Terorisme di Hotel Sofyan Betawi Menteng, Jakarta, Kamis (17/11/2016). Acara tersebut diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) sebagai aksi solidaritas kepada para korban aksi teror di Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.

Sesaat setelah terkena ledakan bom di Thamrin, Wiki ditolong oleh masyarakat dan dilarikan ke Rumah Sakit YPK Mandiri, Menteng. Setelah pemeriksaan, ia dinyatakan hanya menderita lebam atau memar di tubuhnya dan tidak perlu menjalani rawat inap. Biaya pengobatan Wiki di RS YPK Mandiri ditanggung seluruhnya oleh pemerintah.

Beberapa hari setelah itu Wiki sering mual dan muntah, serta merasakan sakit yang luar biasa di kepala dan tengkuk. Atas bantuan seorang teman, ia dibawa ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Hasil dari diagnosa dokter menyebutkan bahwa tulang belakangnya mengalami pergeseran atau gangguan akibat benturan saat terkena ledakan bom di Thamrin.

Mendengar kabar itu wajah pualam Wiki semakin pucat. Di rumah sakit itu tulang belakang bagian lehernya dipasangi gip. Ia sempat menjalani rawat inap selama beberapa hari. Setelah kondisinya mulai membaik, ia diizinkan pulang.

Sepulang dari rumah sakit Wiki merasakan trauma yang mendalam. Dia mengaku tidurnya sering tidak nyenyak. Ruangan gelap membuatnya bingung ketakutan. “Saya merasa seolah ada kepulan asap hitam yang menyeliputi saya saat kejadian bom waktu itu,” ujarnya kepada wartawan. Nafasnya tersengal tak beraturan, suaranya tercekat, tangisnya memecah saat menceritakan ini. “Percikan korek api juga masih membuat saya takut, masih trauma,” lanjutnya.

Setelah menjalani rawat jalan kondisinya sedikit membaik meski beberapa kali masih muntah. Wiki kembali ke RS Medika Permata Hijau untuk melakukan perawatan lanjutan atau dalam dunia medis masyarakat mengenalnya dengan istilah kontrol. Akan tetapi, Wiki mengurungkan niatnya untuk melakukan kontrol lantaran pihak RS mengingatkan di awal bahwa biaya untuk kontrol tidak lagi ditanggung oleh pemerintah.

Dalam kondisi itu Wiki menghubungi YPI, perkumpulan para penyintas terorisme di Indonesia, untuk meminta bantuan. Ia disarankan untuk berobat ke RS Polri, dan dia pun setuju. YPI berkoordinasi dengan AIDA untuk mendampingi Wiki mendapatkan pengobatan di RS Polri. Keesokan harinya Tim AIDA dan YPI membawa Wiki menjalani pemeriksaan di tiga poli, yakni Poli Ortopedi (Tulang), Poli Saraf dan Poli Kejiwaan di RS Polri.

Pemeriksaan di tiga poli tersebut menyatakan Wiki hanya perlu mengkonsumsi obat dan menjalani rawat jalan. Setelah pemeriksaan, pihak pimpinan RS Polri menemui Wiki untuk memberikan dukungan moral dan meyakinkannya bahwa seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah.

“Saya masih trauma lewat jalan Thamrin. Lebih baik memutar jauh daripada lewat jalan itu,” katanya mengungkapkan rasa trauma yang masih dirasakannya.

Pengalaman Wiki menjadi penyintas terorisme menarik perhatian para wartawan yang meliput acara Konferensi Pers Solidaritas Bom Samarinda siang itu. Saat ditanya tentang pesannya kepada para korban teror di Samarinda, ia sempat menghirup napas panjang. Ia mengaku sempat terpukul saat mendengar kabar ada kejadian teror lagi di Indonesia. Sebagai sesama korban aksi teror, ia meminta para korban Bom Samarinda dan keluarganya segera mengikhlaskan kejadian itu dan tetap optimistis menjalani kehidupan.

“Ikhlas dengan masa lalu adalah permulaan yang baik dalam berdamai dengan diri sendiri. Menyimpan dendam dan amarah hanya menghasilkan kesengsaraan dalam hidup,” tuturnya memungkasi. (AM) [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....