HomeBeritaGuru Ujung Tombak Perdamaian...

Guru Ujung Tombak Perdamaian di Sekolah

Pendidikan karakter merupakan modal utama dalam pembentukan generasi emas bangsa Indonesia. Peran guru dalam mendidik dan membimbing siswa agar memiliki keunggulan sangat diharapkan. Dunia pendidikan nasional belum aman dari momok praktik-praktik kekerasan di lingkungan sekolah. Guru sebagai elemen penting jalannya roda pendidikan dituntut memiliki semangat perdamaian guna menangkal aksi kekerasan.

Itulah yang mendasari Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Cirebon, 27-28 Februari 2016. Dalam kegiatan ini, 19 orang guru dari lima sekolah di Kabupaten Cirebon mendapatkan pelatihan tentang apa dan bagaimana menumbuhkan budaya cinta damai di sekolah, terutama kepada anak didik mereka. Kegiatan didesain dengan pendekatan partisipatoris.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), menyambut baik program AIDA tersebut. Direktur Pembinaan SMA Kemdikbud, Purwadi Sutanto, menyebut inisiatif AIDA sebagai gerakan positif upaya pembentukan karakter bangsa. Dalam sambutannya pada pembukaan ToT, yang diwakili Kepala Seksi Bakat dan Prestasi, Asep Sukmayadi, pihaknya menilai gerakan seperti ini sangat penting untuk menyongsong generasi emas 100 tahun Indonesia merdeka. Menurutnya, guru adalah ujung tombak perdamaian di sekolah.

Dalam ToT, semua pihak bersinergi mendorong guru agar mampu mendidik siswa tentang nilai perdamaian sekaligus menghindarkan mereka dari ajaran prokekerasan. Para peserta pun aktif berpartisipasi pada setiap sesi ToT.  Mereka terlihat antusias menerima materi belajar perdamaian dari pengalaman korban dan mantan pelaku kekerasan.

Dwi Welasih, korban kekerasan aksi terror bom di Hotel JW Marriott Jakarta 5 Agustus 2003, berkisah kepada peserta ToT tentang semangatnya bangkit dari penderitaan akibat peristiwa itu. Dari aksi bom itu dia mengalami luka bakar serius di tangan dan kaki. Lama menjalani perawatan, Dwi sempat mengalami trauma terhadap panas, api, asap, bau mesiu serta takut keluar rumah apalagi pergi ketempat keramaian. Seiring waktu, kondisinya pulih dan dia bersilaturahmi dengan sesame korban teror di Indonesia. Para  sahabat mendorongnya untuk bangkit dan pantang menyerah dari aksi terorisme. “Sekarang kami, para korban bom, bersatu membentuk Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) untuk mengampanyekan perdamaian bersama mantan pelaku dan AIDA,” ujarnya.

Kisah Dwi menyentuh perasaan guru-guru peserta ToT. Sebagian mereka terharu hingga menitikkan air mata menyimak pengalaman hidup Dwi. Seorang peserta mengaku kagum dengan kebesaran hati Dwi yang mampu memaafkan mantan pelaku kekerasan dan kini melangkah bersama untuk mengampanyekan perdamaian.

Sementara itu, mantan pelaku kekerasan, Iswanto, dalam ToT menceritakan sepak terjang hidupnya dari awal bergabung dengan kelompok ekstremis hingga tersadar dan menjadi duta perdamaian. Dia menyebut keputusannya terlibat dalam kelompok itu sebagai tindakan yang keliru. Titik balik yang menyadarkannya untuk meninggalkan jalan kekerasan adalah factor pendidikan.

“Keluar dari jaringan itu, saya melanjutkan studi yang sempat terbengkalai. S-1 saya lewati dan saya melanjutkan ke S-2. Berbaur dengan banyak teman di kampus membuat saya berpikiran terbuka dan berwawasan luas. Sekarang saya berjualan sandal bersama istri. Sandal itu empuk. Dulu saya berdekatan dengan benda-benda dan pemikiran yang mengajak ke jalan kekerasan, tapi sekarang tidak lagi,” kisahnya.

Selain dari korban dan mantan pelaku kekerasan, peserta ToT mendapatkan materi dari narasumber lain. Di antaranya adalah materi bertajuk memahami doktrin yang dipahami prokekerasan yang disampaikan oleh cendekiawan muslim sekaligus anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanul Haq. Para guru juga menjadi terbuka wawasannya ketika menerima materi tentang peta radikalisme di kalangan pelajar di wilayah Cirebon, yang disampaikan oleh peneliti IAIN Syeh Nurjati, Marzuki Wahid.

Pada sesi malam, peserta ToT bergerak aktif dalam diskusi kelompok tentang analisis sebab kekerasan dan radikalisme di sekolah, serta cara pencegahannya. Para guru menyadari mereka memainkan peran penting dalam upaya melindungi pelajar dari pengaruh paham pro kekerasan. Mereka pun berkomitmen untuk semakin kuat menanamkan budaya cinta damai di lingkungan sekolah baik dalam proses pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler.

“Setelah mengikuti pelatihan, saya akan mencoba membuat suatu cara yang kreatif untuk menyampaikan nilai perdamaian serta bahaya aksi kekerasan kepada siswa dalam berbagai pembinaan kesiswaan,” ujar peserta dari SMAN 1 Sumber. Hal senada muncul dari gagasan guru MAN Ciwaringin. “Dibutuhkan sumbangsih guru untuk membangun perdamaian. Kita bisa bersama-sama mewujudkan Indonesia damai,” ucapnya.

ToT “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” adalah kegiatan yang tak terlepas dari program kampanye perdamaian AIDA di sekolah-sekolah. Sebelum penyelenggaraan ToT untuk guru, AIDA telah melaksanakan safari kampanye perdamaian dalam bentuk kegiatan dialog interaktif dengan siswa di lima sekolah di Kabupaten Cirebon. (AS) [SWD]

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA edisi VIII, April 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...