HomeBeritaBelajar Ikhlas dari Penyintas

Belajar Ikhlas dari Penyintas

Deburan ombak Pantai Losari dan keramahan para daeng menyambut kedatangan Tim Perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di negeri angin mamiri, Makassar, Sulawesi Selatan. Di bumi pelaut pencipta perahu phinisi itu Tim Perdamaian bersilaturahmi dengan para tokoh agama guna membangun Indonesia yang lebih damai. Silaturahmi antara Tim Perdamaian dan para dai di Makassar tersaji dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama pada 30 s.d. 31 Agustus 2016.

Dalam kegiatan itu, anggota Tim Perdamaian, Iwan Setiawan berbagi pengalaman hidup sebagai korban ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta, 9 September 2004. Di hadapan para peserta, ia berusaha tegar menuturkan kisahnya sambil beberapa kali mengusap air mata.

Pada saat kejadian, Iwan sedang mengendarai motor memboncengkan istrinya, Chalyla Seroja Daulay, untuk periksa kandungan anak kedua mereka ke rumah sakit. Akibat ledakan besar Iwan dan istri terjatuh dari motor. Dalam kondisi tubuh terguncang dan berdarah-darah, Iwan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan menyalakan motornya kembali.

“Berkali-kali saya coba menstarter tapi motor tidak bisa menyala. Lalu saya coba menstarter lagi dengan sekali takbir Allahu Akbar, motor langsung menyala,” ujarnya.

Akibat teror Bom Kuningan 2004, Iwan kehilangan indra penglihatan sebelah kanan. Dua tahun pascateror, sang istri, Chalyla, meninggal dunia karena luka di tulang belakang akibat ledakan bom yang sama. Meski cobaan demi cobaan datang mendera, Iwan tegar dan ikhlas menjalani kehidupan.

“Setiap salat kita membaca ayat inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam). Semua yang ada pada diri kita itu milik Allah, jadi saya ikhlaskan semua yang telah diambil oleh-Nya,” kata dia sambil menahan isak tangis.

Para tokoh agama peserta pelatihan terpana menyimak penuturan kisah Iwan. Di tengah situasi ketakberdayaan, keimanan Iwan tak goyah bahkan justru menguat. Bagi para peserta, ketangguhan Iwan dalam menghadapi musibah sangat menginspirasi. Kisahnya mengilhami mereka untuk terus menyampaikan nasihat perdamaian serta pencegahan aksi kekerasan dan terorisme kepada masyarakat.

Selain Iwan, dalam pelatihan itu Sucipto Hari Wibowo (korban Bom Kuningan 2004) juga berbagi kisah. Saat bom meledak, Sucipto terlempar sejauh empat meter. Ia bersyukur tidak tertabrak bus kota yang sedang melintas. Seketika asap putih membubung dan menghalangi pandangan. Yang tampak di penglihatan Sucipto saat itu hanyalah kerusakan di mana-mana.

“Di tengah kepanikan orang-orang, hanya satu yang saya pikirkan, yaitu harus bangkit dan menyelesaikan tugas mengantarkan dokumen kantor tempat saya bekerja. Saya berusaha profesional, saya tidak mau dipecat, saya harus menghidupi keluarga saya, saya harus antarkan dokumen itu,” ujarnya.

Ia mengabaikan luka dan sakit di sekujur tubuhnya demi sebuah profesionalisme. Beberapa hari pascakejadian, dia baru dibawa ke rumah sakit setelah merasa kesakitan di bagian kepala. Setelah melalui pemeriksaan CT scan, diketahui beberapa jaringan saraf Sucipto mengalami kerusakan serta indra pendengarannya terganggu akibat ledakan. Butuh waktu sebulan perawatan sebelum kondisinya membaik.

Korban Bom JW Marriott 2003, Vivi Normasari, juga hadir dan berbagi kisah dalam pelatihan di Makassar. Seorang mantan pelaku aksi kekerasan, Ali Fauzi, turut membagi pengalamannya kepada para peserta. Para korban dan mantan pelaku telah berekonsiliasi dan kini bersatu mengampanyekan perdamaian.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam pelatihan menyampaikan harapan agar kisah korban dan mantan pelaku menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi tokoh agama. “Dari kisah korban, kita tahu dampak destruktif aksi teror dan kita diajarkan untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, pengalaman mantan pelaku menunjukkan betapa bahayanya paham ekstremisme dan terorisme, serta mengajarkan agar tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan.

Selain bersilaturahmi dengan korban, dalam pelatihan para peserta mendapatkan materi Meng-counterDoktrin-doktrin Ekstremisme dari KH. Helmi Ali Yafie, serta Memahami Ideologi dan Jaringan Terorisme dari pakar terorisme Universitas Indonesia, Solahudin.

Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama diikuti oleh 28 orang dai dari organisasi Darul Dakwah wal Irsyad (DDI). Peserta berasal dari kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Barru dan kota-kota lain di Sulawesi Selatan. Para peserta mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut.

“Korban begitu hebat memaknai dan mengamalkan dalil-dalil agama. Ini luar biasa. Kami berkomitmen untuk mengajak masyarakat menjauhi paham-paham yang sifatnya ekstrem, menjauhi aksi-aksi kekerasan apalagi sampai melakukan teror. Kita harus bersama-sama mengarahkan masyarakat menuju perdamaian,” kata salah satu peserta. (MLM)[SWD]

 

Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA Edisi X Oktober 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...