HomeBeritaBangkit Bersama Suarakan Perdamaian

Bangkit Bersama Suarakan Perdamaian

Suatu pagi di sebuah kedai kopi di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Nurman Permana datang dengan tangan gemetar. Raut mukanya penuh ketegangan dan matanya nampak berkaca-kaca. Beberapa rekannya mencoba menenangkan pemuda 25 tahun itu. Permana, begitu sapaan akrabnya, adalah salah satu korban Bom Thamrin satu tahun silam.

Meskipun satu tahun telah berlalu namun masih jelas dalam ingatan salah satu korban Bom Thamrin itu saat-saat ketika nyawanya terancam dalam ledakan bom dan baku tembakan para aparat keamanan dan kelompok teroris. Mendatangi kembali lokasi di mana dia mengalami aksi terror bagi Permana memerlukan keberanian yang ekstra besar.

Saat kejadian setahun yang lalu, Kamis 14 Januari 2016 sekitar pukul 10 pagi, dia tengah melintas di Jalan MH Thamrin bersama saudara angkatnya, Agus Kurnia. Mereka tidak menyangka serangan aksi brutal bom bunuh diri akan meledak di pos polisi yang terletak di tengah perempatan Mall Sarinah dan Gedung Cakrawala.

Ledakan itu membuat punggung Permana berdarah akibat terkena serpihan. Tak hanya itu, lengan kirinya mengalami fraktur atau patah tulang. Agus pun tak luput dari cedera. Ia mengalami kerusakan di gendang telinga dari ledakan bom yang terjadi hanya beberapa meter dari tempatnya berada saat itu.

Tepat setahun berlalu, Permana berusaha tegar bersama rekan-rekannya sesama korban Bom Thamrin menyelenggarakan aksi damai untuk memperingati peristiwa teror yang memakan 4 korban jiwa dari warga sipil itu.

Beberapa jam sebelum hadir di tempat aksi, Permana sempat mengurungkan niatnya turut serta dalam Peringatan 1 Tahun Bom Thamrin pagi itu. Tak mudah baginya mendatangi kembali sebuah tempat terjadinya peristiwa yang menggoreskan luka dalam sejarah hidupnya. Terlebih lagi, trauma akibat serangan terror terkadang masih dirasakannya hingga sekarang.

Dengan penuh pertimbangan Permana mencoba mengumpulkan segenap keberaniannya sehingga dapat hadir bersama kakak dan rekan-rekannya dalam komunitas Sahabat Thamrin, wadah pemersatu para korban aksi teror di Jalan MH Thamrin Jakarta. “Walaupun kejadian itu sudah satu tahun yang lalu, namun saya masih takut jika harus melewati lokasi kejadian tersebut,” ia mengungkapkan.

Pagi itu, 14 Januari 2017, berbeda dengan pagi satu tahun silam yang ramai dengan bising tembakan, ledakan bom, jerit ketakutan masyarakat dan rintihan para korban. Meski mendung dan sedikit gerimis, suasana keakraban di antara orang-orang yang pernah mengalami dampak aksi terorisme pagi itu membangkitkan semangat Permana dan rekan-rekan untuk bangkit dari kesedihan dan keterpurukan.

Sahabat Thamrin bersama Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), lembaga perkumpulan para korban terorisme, bergabung dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dalam menyelenggarakan aksi simpatik Peringatan 1 Tahun Bom Thamrin pagi itu. Selain melakukan tabur bunga dan doa bersama di lokasi kejadian, para peserta menyampaikan sejumlah pernyataan sikap.

Di antara butir pernyataan sikap tersebut adalah ajakan kepada masyarakat luas untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan serta tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. AIDA, YPI dan Sahabat Thamrin juga mendorong negara untuk memberikan perhatian lebih dalam pemenuhan hak-hak korban berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemerantasan Tindak Pidana Terorisme.

Dalam kesempatan tersebut peserta aksi juga mendorong semua pihak agar senantiasa menjaga ketenteraman dan kedamaian serta menjunjung tinggi sikap saling menghormati dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...