HomeBeritaTabur Bunga Bom Thamrin,...

Tabur Bunga Bom Thamrin, Jangan Lupakan Hak Korban

Korban peringati setahun bom Thamrin

Memperingati setahun peristiwa Bom Thamrin yang terjadi pada 14 Januari 2016, para korban dan relawan menggelar doa dan tabur bunga. Berbagai harapan kepada pemerintah dan kepolisian mereka ungkapkan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Sekitar 20-an orang yang tergabung dalam Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) dan Sahabat Thamrin menggelar tabur bunga di sekitar pos polisi Jalan MH Thamrin dan membentangkan spanduk aksi damai mereka di depan gerai kopi Starbucks.

Aksi damai tersebut sempat menarik perhatian para warga dan pengendara yang melintas di sekitar lokasi. Aksi tersebut tidak mengganggu lalu lintas di sekitarnya. Sejumlah polisi juga berjaga dan mengatur lalu lintas.

Direktur AIDA, Hasibullah, mengatakan aksi tabur bunga ini untuk memperingati peristiwa bom Thamrin. Menurutnya, selama ini, dia dan para relawan saling menguatkan terhadap para korban.

“Kita ingin saling menguatkan antara teman korban, sahabat Thamrin yang saling inspirasi,” katanya di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu, 14 Januari 2017.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diawali dengan tabur bunga dan pembacaan pernyataan sikap para relawan dan korban yang selamat dalam tragedi tersebut.

Pernyataan sikap dibacakan bergiliran oleh para relawan yang mengenakan kaos putih ini. Mereka saling berjabat tangan menunjukkan kebersamaan mereka. Berikut pernyataan lengkap sikap mereka:

1. Kami mengajak masyarakat luas untuk mengantisipasi terjadinya aksi terorisme. Tanpa kesigapan dan peran dari semua pihak, aksi terorisme bisa terjadi kapan pun dan menimpa siapa pun

2. Kami mendukung kepolisian melakukan pencegahan dini agar tidak terjadi aksi terorisme sehingga tidak ada lagi yang menjadi korban

3. Kami mengajak semua pihak untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan

4. Kami mengajak semua pihak untuk tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan

5. Kami mendesak negara untuk lebih memberikan perhatian lebih besar dan konkret terhadap korban terorisme dengan seluruh dampak yang dialami

6. Kami mendesak negara untuk mengalokasikan anggaran negara yang memadai untuk memulihkan kondisi korban dalam jangka waktu yang memadai

7. Kami mendesak seluruh instansi terkait yang berwenang untuk membenahi koordinasi dalam memberikan bantuan dan pemulihan kepada korban

8. Kami mendesak pemerintah dan DPR untuk segera mengesahkan RUU Anti terorisme dengan memasukkan ketentuan yang menjamin pemenuhan hak-hak korban, yaitu:

a. Pencantuman secara tegas tentang definisi korban terorisme bagi para pihak yang menjadi korban tindak pidana terorisme.

b. Adanya pasal yang mengatur jaminan pembiayaan medis oleh negara bagi korban terorisme pada masa-masa kritis.

c. Pemberian kompensasi tidak melalui putusan pengadilan (seperti dalam UU No. 15 Tahun 2003) namun melalui putusan lembaga negara yang berwenang dengan assessment

9. Kami mendorong semua pihak agar senantiasa menjaga ketenteraman dan kedamaian serta menjunjung tinggi sikap saling menghormati dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. (ase) (AM)

 

 

sumber: viva.co.id

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...