HomeOpiniMenyemai Nalar Kritis Cegah...

Menyemai Nalar Kritis Cegah Terorisme

Edisi Senin 19/12, koran SP menulis beberapa artikel yang mengingatkan bahaya penyebaran paham radikalisme terorisme di kalangan remaja sekolah menengah. Topik ini memang harus disuarakan kepada public sebagai lampu kuning. Khususnya kepada orang tua, praktisi pendidikan dan pemerintah. Berdasarkan fakta mutakhir bom gereja Katolik Santo Yosep Medan, Agustus silam, dilakukan langsung oleh remaja 18 tahun berinisial IAH yang baru lulus SMA.

Empat tahun silam, Agustus 2012, polisi menembak mati F. Remaja 19 tahun yang melakukan serangkaian teror pos polisi di Solo itu melawan dengan senjata api saat penangkapan. Sebelumnya, sekelompok remaja 17-20 tahun divonis bersalah karena meletakkan bom di delapan tempat berbeda di Surakarta dan Klaten pada rentang Desember 2010- Januari 2011. Salah satu pelaku berinisial AW yang kala itu masih berstatus siswa sebuah SMK di Klaten, mengaku terpengaruh buku Osama bin Laden yang menghalalkan pembunuhan orang kafir. Pada Juli 2009, Dani Dwi Permana (18 tahun) yang baru saja lulus SMA di Bogor dengan suka rela menjadi pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriot.

Selain fakta tersebut, penelitian tentang radikalisme agama di kalangan pelajar pun menghasilkan kesimpulan mengkhawatirkan. Dalam survei Maarif Institute pada Desember 2015, Dari 98 responden pelajar SMA yang mengikuti Jambore Maarif Institute, 48 persen di antaranya mengaku bersedia menyerang individu atau kelompok yang dianggap menghina Islam. Selain itu sebanyak 6,12 persen menyatakan setuju bahwa pengeboman yang dilakukan Amrozi, cs merupakan perintah agama.

Fakta dan temuan riset di atas menunjukkan, banyak remaja usia sekolah yang suka rela melakukan aksi kekerasan atas nama agama, termasuk teror, demi status syahid (istisyhad). Hal ini tentu menggelisahkan. Sistem pendidikan kita memang tidak pernah memproduksi terorisme, karena seperti dalam kasus IAH, AW, dan Dani, mendapatkan doktrin jihad salah kaprah (terorisme) dari luar sekolah. Namun sistem pendidikan kita memang tidak cukup berhasil menumbuhkan nalar kritis sehingga mampu menyaring informasi dan pemahaman negatif. Sebagai contoh, di era murah digital kini, pengguna gawai begitu mudahnya membagikan informasi dan artikel-artikel yang tingkat akurasi dan kebenarannya sangat rendah, baik di media sosial maupun chat group, tanpa cek dan ricek terlebih dulu.

Dalam hemat saya, salah satu akar penyebab radikalisme adalah minimnya critical thinking (bernalar kritis). Anak didik takut berbeda pandangan dengan guru, orang takut salah jika mengambil sikap berbeda atas apa yang diajarkan kepadanya, khawatir “tersesat” jika mempelajari sesuatu yang bertentangan dengan apa yang mereka peroleh selama ini. Sikap tersebut lantas melahirkan fanatisme terhadap doktrin dan klaim kebenaran tunggal (truth claim). Muaranya adalah antiperbedaan dan keragaman. Jika pikiran demikian sudah menggumpal di kepala remaja, maka ajaran-ajaran kekerasan atas nama agama sangat mudah diterima, diresapi, dan lantas diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ditambah dengan tontonan video-video konflik komunal berbasis SARA, sepertikonflik Ambon dan Poso, gairah remaja kian meletup.

Moral Karakter

Setelah beragam persoalan yang mendera kalangan pelajar; pornoaksi, tawuran, radikalisme, dan sebagainya, pemerintah lantas mencanangkan program pendidikan karakter. Program ini sangat tepat, sebab hakikatnya problem utama bangsa Indonesia kini bukan soal intelektualitas, melainkan moral yang berpangkal dari karakter. Problem moral seperti radikalisme dan terorisme bisa diatasi salah satunya dengan pedagogi kritis sebagai dasar konseptual dan praksis pendidikan karakter. Pedagogi kritis menentang metode pendidikan yang memerlakukan anak didik sebagai bejana kosong untuk dijejali dengan pengetahuan. Sebaliknya, guru memandang anak didik sebagai asisten produsen pengetahuan. Dan metode dialog adalah pola pembelajaran untuk membebaskan anak didik terlibat aktif menciptakan pengetahuan.

Tujuan utama pedagogi kritis adalah menumbuhkan nalar kritis pada anak didik (Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970). Dalam konteks problem radikalisme, yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa di lingkungan manapun kerap terjadi praktik penanaman nilai-nilai radikalisme seperti; Indonesia adalah negara kafir karena tidak menjalankan hukum Islam secara formal sehingga layak makar; kelompok yang berbeda pandangan keagamaan adalah kafir sehingga halal darahnya; dan semacamnya. Anak didik harus diajak mengkaji doktrin-doktrin semacam itu.

Dengan pendekatan ini, diharapkan kesadaran mereka menolak radikalisme tumbuh secara alamiah. Pada tataran praktis, salah satu konsep penting dalam penerapan pedagogi kritis ialah problem posing education (pendidikan menghadapi masalah).

Semisal ada kasus terorisme atas nama jihad, guru dapat melibatkan semua anak didik untuk mencari makna jihad yang tepat dalam konteks keindonesiaan dan membandingkannya dengan kasus-kasus radikalisme dan terorisme.

Dialog Demokratis

Anak didik diajak untuk merenungkan dampak negatif aksi-aksi tersebut. Bahwa aksi terorisme hanya memproduksi anak-anak yatim baru, baik yatim secara fisik karena kehilangan orangtuanya yang menjadi korban teror, atau secara sosial lantaran kehilangan kasih sayang dari orang tuanya yang menjadi teroris. Padahal seperti firman Allah dalam Qs. Al Ma’un ayat 1-2, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim.” Menghardik anak yatim saja disebut sebagai pendusta agama, apalagi orang yang dengan sengaja “meyatimkan” anak melalui aksi-aksi teror.

Melalui proses dialog yang demokratis tanpa ada pihak yang mengklaim paling benar, diharapkan nalar kritis anak didik akan terasah. Memiliki pemahaman yang cukup kuat dan tidak mudah untuk diindoktrinasi ajaran apa pun, termasuk ideologi jihad salah kaprah. Metode lain dalam pedagogi kritis antiradikalisme dan antiterorisme adalah pelibatan sosial, yakni dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam peristiwa teror, baik pelaku maupun korban. Hal ini dilakukan oleh AIDA, lembaga di mana penulis bekerja, yang melibatkan mantan pelaku dan korban terorisme mengampanyekan perdamaian di sekolah-sekolah.

Dari pelaku, anak didik bisa belajar tentang sebab-musabab keterlibatan mereka dalam kelompok kekerasan dan alasan pertaubatannya. Sementara dengan menyaksikan dampak kebrutalan teror yang tampak dalam diri korban, diharapkan muncul empati kemanusiaan dan pikiran kritis anak didik terhadap segala ajaran kekerasan, termasuk yang berbasis agama.

Tafsir-tafsir keagamaan yang bertentangan dengan kemanusiaan atau tak relevan dengan realitas tidak ditelan mentah-mentah. Semoga kelak tak ada lagi IAH, F, AW, dan Dani lagi.

Penulis adalah Peneliti Aliansi Indonesia Damai/AIDA.

*Artikel ini pernah dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan edisi 22 Desember 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...