HomeBeritaGuru Menjadi Duta Perdamaian

Guru Menjadi Duta Perdamaian

Riuh tepuk tangan menggema saat dua orang yang duduk di kursi pemateri berjabat tangan erat. Sebelumnya, keduanya mengisahkan pengalaman hidup masing-masing. Ali Fauzi berkisah seputar keterlibatan hingga proses keluarnya dari jaringan kelompok kekerasan. Sementara Tita Apriyantini bertutur tentang pengalaman pahitnya menjadi korban bom di Hotel JW Marriott Jakarta tahun 2003.

Pemandangan itu muncul dalam kegiatan Training of Trainer (ToT) “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bukittinggi, Sumatera Barat, pertengahan April lalu. Di hadapan dua puluh guru delegasi dari SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, dan SMAN 5, Tita bertutur tentang pengalaman pilu 13 tahun silam saat menjadi korban teror bom. “Sebagian kulit saya terbakar sehingga harus menjalani beberapa kali operasi penyembuhan,” katanya. Kendati sempat terpuruk akibat peristiwa itu, Tita mampu bangkit untuk beraktivitas seperti sedia kala. Walau sempat marah terhadap para teroris, kini Tita mampu memaafkan mantan pelaku dan mengikhlaskan masa lalunya.

Para pelaku teror yang melukai Tita tak lain adalah rekan sejaringan dengan Ali Fauzi dahulu. Karena itu, dalam kesempatan tersebut Ali memohon maaf kepada para korban bom, disimbolkan bersalaman dengan Tita. Ali mengakui salah satu faktor yang mendorong dirinya keluar dari jalan kekerasan adalah perkenalannya dengan para korban terorisme. Kini Ali bersama dengan Tita tergabung dalam Tim Perdamaian.

Selain dari korban dan mantan pelaku terorisme, dalam pelatihan selama dua hari itu, peserta juga mendapatkan materi dari sejumlah narasumber dan pakar. Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi,  dalam sambutannya mengatakan pelatihan ini bertujuan membangun sinergi dengan para guru dalam rangka melindungi pelajar dari pengaruh negatif, terutama radikalisme-ekstremisme.

Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Purwadi Sutanto, menyambut baik upaya AIDA mendorong para guru di Bukittinggi menjadi duta perdamaian. Dalam sambutannya yang diwakili Kasi Pengembangan Bakat dan Prestasi, Asep Sukmayadi, disebutkan radikalisme-ekstremisme telah menjadi ancaman nyata terhadap generasi muda Indonesia.

Seorang peserta dari SMAN 1 yang juga Pembina organisasi ekstrakurikuler keagamaan di sekolahnya menyatakan, selama ini pihaknya cukup ketat mengawasi kegiatan para siswa di sekolahnya, salah satunya dengan menyeleksi mentor yang akan membimbing anak didiknya.

Pemateri lain, peneliti Pusat Kajian Teroris medan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin, mengungkapkan radikalisme di kalangan pelajar adalah fakta yang harus diantisipasi sedini mungkin. Ia membeberkan sejumlah kasus pidana terorisme yang melibatkan siswa SMA, di antaranya kelompok ightiyalat yang ditangkap polisi pada tahun 2011. Kelompok yang melibatkan sejumlah siswa SMK itu berupaya mengebom beberapa tempat di Klaten dan Solo, kendati gagal. Pada tahun 2012, sejumlah remaja ditangkap karena berpartisipasi dalam pelatihan perakitan bom, dan sebagian lainnya terlibat dalam penembakan polisi.

Menurut dia, Bukittinggi bukan daerah yang betul-betul steril dari ancaman radikalisme.Tahun 2015, dua orang warga Bukittinggi yang berprofesi sebagai pedagang ditangkap oleh polisi karena terlibat kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). “Keduanya belajar agama di salah satu masjid di Bukittinggi, secara perlahan mengalami proses radikalisasi. Dalam perkembangannya, mereka bersimpati kepada ISIS dan meyakini bahwa hijrah ke Syria berhukum wajib. Haram menetap di negeri kafir seperti Indonesia ketika khilafah sudah ditegakkan. Mereka juga membantu teman-temannya untuk berangkat hijrah ke Syria,” Solahudin menjelaskan.

Sejumlah peserta mengaku sangat senang mengikuti kegiatan ini lantaran mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang tantangan-tantangan perdamaian, termasuk isu radikalisme-ekstremisme. Seorang guru dari SMAN 2 Bukittinggi menyatakan, dari materi-materi yang didapatkannya dalam kegiatan tersebut, ia memahami ancaman radikalisme dan faktor-faktor penyebab keterlibatan seseorang dalam kelompok radikal-ekstrem. Menurut dia, sebagai sosok yang digugu dan ditiru oleh anak didik, guru harus menjadi teladan perdamaian, baik dalam materi pelajaran maupun perilaku sehari-hari, baik dalam lingkungan sekolah, kehidupan keluarga maupun sosial. “Kita hidup di Indonesia harus menyebarkan perdamaian di mana pun berada. Apa pun yang kita cita-citakan akan tercapai kalau di sekitar kita ada ketenteraman dan kedamaian,” ujarnya. (MSY) [SWD]

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi IX Juli 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...