Home Berita Menggali Makna Ketangguhan dari Kisah Tim Perdamaian
Berita - 01/02/2017

Menggali Makna Ketangguhan dari Kisah Tim Perdamaian

Pekan terakhir bulan Januari 2017 Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan safari kampanye perdamaian di Bandung, Jawa Barat. Selama sepekan penuh AIDA menyapa para pelajar sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Bandung Raya untuk senantiasa menumbuhkan semangat cinta perdamaian.

Di wilayah yang terkenal dengan makanan khas peuyeum AIDA melakukan safari kampanye perdamaian kelima sekolah, yaitu SMAN 1 Padalarang, SMAN 1 Baleendah, SMAN 1 Katapang, SMAN 1 Ngamprah dan SMAN 1 Dayeuhkolot. Kegiatan di masing-masing sekolah dikemas dalam Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”.

Nilai perdamaian dan ketangguhan di kalangan pelajar penting terus dilestarikan untuk menghadapi tantangan kehidupan. Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, berpandangan bahwa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat banyak tantangan yang bila tidak disikapi secara hati-hati dapat menjerumuskan pelajar ke hal-hal yang tidak mendukung visi misi pendidikan dan perdamaian.

“Oleh karena itu kita penting untuk belajar tentang semangat ketangguhan ini agar bisa melakukan penyikapan yang tepat, akurat dan bermaslahat. Dalam agama kita diajarkan sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi umat manusia,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Baleendah, Selasa (24/1/2017).

Dalam melakukan safari kampanye perdamaian, AIDA menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri atas korban dan mantan pelaku kekerasan sebagai narasumber. Pada kesempatan Dialog Interaktif di lima sekolah di Bandung, anggota Tim Perdamaian yang dihadirkan adalah Suyanto (penyintas Bom Bali 2002), Tita Apriantini (penyintas Bom JW Marriott 2003) dan Ali Fauzi (mantan anggota kelompok teroris).

Di tiap-tiap sekolah Tim Perdamaian berbagi pengalaman dengan para siswa tentang hakikat ketangguhan. Suyanto mengisahkan bagaimana dia berjuang menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan akibat bom. Saat kondisinya lemah dan hampir menyerah, dia teringat akan anak-anaknya yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang. Setelah sembuh dari luka dia kembali bekerja keras agar dapat menyekolahkan buah hatinya.

“Saya ingin anak-anak saya itu lebih baik hidupnya dari pada saya, makanya saya dukung mereka untuk sekolah setinggi-tingginya. Alhamdulillah, anak saya yang pertama sudah lulus sarjana, dan yang kedua insya Allah tahun ini akan wisuda magister S2,” kata Suyanto dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Katapang, Rabu (25/1/2017).

Anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku, Ali Fauzi, juga membagi pengalaman hidupnya kepada para peserta kegiatan Dialog Interaktif. Dia membeberkan bahwa dirinya dahulu bergabung dengan kelompok teroris lantaran doktrin dari saudara-saudaranya yang ingin membalas ketidakadilan di suatu wilayah dengan cara membuat ketidakadilan lainnya di tempat baru. Setelah sekian lama berkecimpung dalam dunia kekerasan dia menyadari bahwa perjuangan yang ditempuh kelompoknya tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang agama. Dia mengakui salah satu faktor yang membuatnya sadar untuk meninggalkan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban terorisme.

“Para korban adalah orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan para teroris. Ada yang cuma sekadar lewat atau sedang bekerja mencari nafkah tiba-tiba bom meledak di dekatnya. Saya sungguh meminta maaf kepada kawan-kawan korban bom atas aksi-aksi yang dilakukan kelompok saya dulu,” kata dia dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Padalarang.

Suyanto dan Tita sebagai korban terorisme telah memaafkan kekeliruan masa lalu Ali Fauzi. Kini mereka bersatu menjadi satu tim dan bergerak bersama untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat. Rangkaian kegiatan Dialog Interaktif di Bandung mendapatkan sambutan positif dari para peserta.

Seorang peserta dari SMAN 1 Dayeuhkolot mengatakan mendapatkan pelajaran berharga dari penuturan kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Dari kisah korban dia mengambil pelajaran bahwa kekerasan yang ditimbulkan perbuatan orang lain tidak baik bila dibalas dengan kekerasan pula. “Kalau dari mantan pelaku, Pak Ali Fauzi, pelajaran yang dapat diambil adalah jangan membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan,” ujarnya. (MLM)[SWD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *