HomeSuara KorbanCita-cita yang Tertunda

Cita-cita yang Tertunda

Rencana Nanda Olivia Daniel menyelesaikan skripsi dan lulus sarjana pada semester akhir masa kuliahnya pupus setelah peristiwa yang sangat tak terduga tiba-tiba terjadi. Ia tak menyangka hari ke-9 di bulan September tahun 2004 saat itu akan menjadi penggalan waktu yang akan selalu terkenang sepanjang hidupnya.

Saat itu hari Kamis sekitar jam 10 pagi, seperti biasa Nanda sedang berada di dalam bus kota menuju kampusnya, STIE Perbanas, yang terletak di kawasan Kuningan Jalan HR. Rasuna Said Jakarta. Waktu itu dia bermaksud menyerahkan setumpuk dokumen yang tak lain adalah skripsinya ke pihak kampus, sebagai syarat wisuda. Saat bus kota sudah hampir sampai di Halte Karet Kuningan, seberang kantor Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, tiba-tiba ledakan super keras mengejutkan Nanda beserta semua orang di sepanjang Jalan HR Rasuna Said Kuningan.

Ledakan itu berasal dari bom mobil yang melintas tepat di depan Kedubes Australia. Meskipun posisi bus kota yang ditumpangi Nanda dengan mobil pembawa bom cukup berjarak, namun dampak ledakan yang ditimbulkan sangat terasa. Selain kaca-kaca pecah dan badan bus ringsek, sejumlah penumpang di dalamnya terluka, termasuk Nanda. Dia dan tiga penumpang lain terlempar keluar bus kota hingga jatuh ke jalan.

“Bom itu mendesing di telinga, bunyinya sangat menyakitkan. Yang saya ingat orang-orang teriak Allahu Akbar, ada yang menjerit meminta tolong,” ujar Nanda dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Medan, Sumatera Utara awal Agustus tahun lalu.

Dari ledakan tersebut Nanda harus menahan rasa sakit luar biasa dengan luka menganga di bagian tangan. Beberapa saat setelah ledakan usai dan gumpalan asap putih akibat bom yang menyelimuti pandangan agak menipis, perempuan berkaca mata itu ditolong beberapa orang yang peduli untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Nanda mengalami patah tulang jari telunjuk, kerusakan serius di jaringan tulang tangan serta kerusakan di gendang telinga.

Setelah menjalani beberapa kali operasi di dua rumah sakit di Jakarta, Nanda ditawari pihak Kedubes Australia untuk mendapatkan perawatan lanjutan di negeri kangguru. Dia pun menyetujui tawaran tersebut dengan harapan mendapatkan kesembuhan dari cedera yang dialami. Bersama orang tua, suami dan anaknya, Nanda dibawa ke Australia untuk menjalani pengobatan dan perawatan selama 8 bulan sampai dinyatakan benar-benar sembuh.

Setelah delapan bulan perawatan ia kembali ke Tanah Air. Meski telah dinyatakan sembuh, fungsi dan bentuk fisik jari tangannya tak kembali sempurna seperti sebelum terkena bom. Kepercayaan dirinya sempat menurun drastis selama beberapa waktu menerima kenyataan itu. Seiring waktu berjalan Nanda berupaya membangkitkan kepercayaan dirinya. Kini Nanda yang telah menjadi ibu dari tiga orang anak tegar menjalani tantangan kehidupan kendati trauma akibat ledakan bom terkadang masih dirasakan.

Ia selalu berusaha untuk percaya diri menghadapi orang lain yang belum mengetahui kondisi fisik tangannya yang tak sempurna akibat ledakan bom. Dia juga memberanikan diri untuk aktif berperan menyuarakan perdamaian di masyarakat dengan berbagi pengalaman sebagai penyintas terorisme melalui berbagai kegiatan yang diprakarsai AIDA.

Nanda tak mau terus terpuruk dan meratapi takdir yang diberikan Tuhan kepada dirinya bahwa kondisi fisiknya tak lagi sempurna, dan bahwa cita-citanya lulus kuliah tertunda. Salah satu yang membuatnya kuat adalah ajaran agama yang diyakininya. “Saya percaya bahwa Allah tidak akan memberi ujian kepada manusia yang manusia tersebut tidak sanggup untuk memikulnya,” kata dia dalam kegiatan di Medan. Dengan prinsip hidup yang diyakininya itu Nanda kini sanggup menjalani berbagai tantangan kehidupan, termasuk membesarkan dan mendidik ketiga buah hatinya. (F) [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....