Dok. AIDA - Nanda Olivia Daniel
Home Suara Korban Cita-cita yang Tertunda
Suara Korban - 16/02/2017

Cita-cita yang Tertunda

Rencana Nanda Olivia Daniel menyelesaikan skripsi dan lulus sarjana pada semester akhir masa kuliahnya pupus setelah peristiwa yang sangat tak terduga tiba-tiba terjadi. Ia tak menyangka hari ke-9 di bulan September tahun 2004 saat itu akan menjadi penggalan waktu yang akan selalu terkenang sepanjang hidupnya.

Saat itu hari Kamis sekitar jam 10 pagi, seperti biasa Nanda sedang berada di dalam bus kota menuju kampusnya, STIE Perbanas, yang terletak di kawasan Kuningan Jalan HR. Rasuna Said Jakarta. Waktu itu dia bermaksud menyerahkan setumpuk dokumen yang tak lain adalah skripsinya ke pihak kampus, sebagai syarat wisuda. Saat bus kota sudah hampir sampai di Halte Karet Kuningan, seberang kantor Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, tiba-tiba ledakan super keras mengejutkan Nanda beserta semua orang di sepanjang Jalan HR Rasuna Said Kuningan.

Ledakan itu berasal dari bom mobil yang melintas tepat di depan Kedubes Australia. Meskipun posisi bus kota yang ditumpangi Nanda dengan mobil pembawa bom cukup berjarak, namun dampak ledakan yang ditimbulkan sangat terasa. Selain kaca-kaca pecah dan badan bus ringsek, sejumlah penumpang di dalamnya terluka, termasuk Nanda. Dia dan tiga penumpang lain terlempar keluar bus kota hingga jatuh ke jalan.

“Bom itu mendesing di telinga, bunyinya sangat menyakitkan. Yang saya ingat orang-orang teriak Allahu Akbar, ada yang menjerit meminta tolong,” ujar Nanda dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Medan, Sumatera Utara awal Agustus tahun lalu.

Dari ledakan tersebut Nanda harus menahan rasa sakit luar biasa dengan luka menganga di bagian tangan. Beberapa saat setelah ledakan usai dan gumpalan asap putih akibat bom yang menyelimuti pandangan agak menipis, perempuan berkaca mata itu ditolong beberapa orang yang peduli untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Nanda mengalami patah tulang jari telunjuk, kerusakan serius di jaringan tulang tangan serta kerusakan di gendang telinga.

Setelah menjalani beberapa kali operasi di dua rumah sakit di Jakarta, Nanda ditawari pihak Kedubes Australia untuk mendapatkan perawatan lanjutan di negeri kangguru. Dia pun menyetujui tawaran tersebut dengan harapan mendapatkan kesembuhan dari cedera yang dialami. Bersama orang tua, suami dan anaknya, Nanda dibawa ke Australia untuk menjalani pengobatan dan perawatan selama 8 bulan sampai dinyatakan benar-benar sembuh.

Setelah delapan bulan perawatan ia kembali ke Tanah Air. Meski telah dinyatakan sembuh, fungsi dan bentuk fisik jari tangannya tak kembali sempurna seperti sebelum terkena bom. Kepercayaan dirinya sempat menurun drastis selama beberapa waktu menerima kenyataan itu. Seiring waktu berjalan Nanda berupaya membangkitkan kepercayaan dirinya. Kini Nanda yang telah menjadi ibu dari tiga orang anak tegar menjalani tantangan kehidupan kendati trauma akibat ledakan bom terkadang masih dirasakan.

Ia selalu berusaha untuk percaya diri menghadapi orang lain yang belum mengetahui kondisi fisik tangannya yang tak sempurna akibat ledakan bom. Dia juga memberanikan diri untuk aktif berperan menyuarakan perdamaian di masyarakat dengan berbagi pengalaman sebagai penyintas terorisme melalui berbagai kegiatan yang diprakarsai AIDA.

Nanda tak mau terus terpuruk dan meratapi takdir yang diberikan Tuhan kepada dirinya bahwa kondisi fisiknya tak lagi sempurna, dan bahwa cita-citanya lulus kuliah tertunda. Salah satu yang membuatnya kuat adalah ajaran agama yang diyakininya. “Saya percaya bahwa Allah tidak akan memberi ujian kepada manusia yang manusia tersebut tidak sanggup untuk memikulnya,” kata dia dalam kegiatan di Medan. Dengan prinsip hidup yang diyakininya itu Nanda kini sanggup menjalani berbagai tantangan kehidupan, termasuk membesarkan dan mendidik ketiga buah hatinya. (F) [SWD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *