HomeInspirasiAspirasi DamaiNetizen: 2017 Indonesia Lebih...

Netizen: 2017 Indonesia Lebih Damai

Nurul Rachmawati

Tidak terasa, 2016 telah berlalu dengan meninggalkan beberapa rangkaian peristiwa dan kejadian. Sebagian dari kita mungkin masih ingat sejumlah peristiwa yang sempat singgah di tahun 2016. Dimulai dengan serangan Bom Thamrin yang mengguncang pusat kota Jakarta pada awal tahun lalu, dan ditutup dengan booming-nya isu yang bernuansa konflik agama dan politik di Indonesia pada akhir tahun lalu.

Dari serangkaian peristiwa tersebut, respon masyarakat pun tumpah baik secara lisan maupun tulisan yang disampaikan melaui berbagai media, termasuk di media sosial. Tidak sedikit dari para netizen (pengguna sosial media) yang menyudutkan suatu golongan yang dirasa bertanggung jawab atas terjadiya peristiwa tertentu. Riuh dunia maya yang meributkan berbagai isu yang sensitif tak pelak menimbulkan konflik di antara para netizen.

Lepas dari 2016, tahun 2017 tiba menjelang. Memang banyak yang masih melanjutkan perseteruan terkait isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), tetapi banyak pula masyarakat yang membawa doa serta harapan yang baik-baik. Selain dalam kehidupan nyata, harapan ini banyak juga diungkapkan oleh masyarakat melalui media sosial, salah satunya Twitter.

Dari sekian banyak kicauan yang dibuat netizen, sepertinya harapan agar perdamaian di Indonesia terwujud dan terpelihara masih menjadi yang diidam-idamkan bagi para netizen. Berdasarkan pantauan di Twitter melalui keywords “Resolusi Damai” dan “Resolusi Indonesia Damai”, beberapa kicauan akun membanjiri timeline Twitter. Mulai dari pengujung tahun 2016 hingga pergantian tahun 2017, tidak sedikit netizen yang menyampaikan doa serta harapannya tentang perdamaian di 2017 melalui Twitter.

“Resolusi 2017 semoga kehidupan bernegara tetap saling menjaga kesatuan Indonesia, tidak bercerai-berai. Damai itu indah.”, tulis pemilik akun @ThantryRitha. Hal senada juga disampaikan oleh pemilik akun @Sheronsap, “Di tahun 2017 semoga tidak ada lagi konflik yang membuat pecah antara rakyat dengan pejabat tinggi negeri & rakyat selalu hidup damai.”

Di antara para netizen yang menyampaikan resolusi damainya melalui Twitter, umumnya mereka mengharapkan tidak ingin adanya perpecahan dalam bermasyarakat. Konflik bernuansa SARA yang akhir-akhir ini booming di media sosial sepertinya menjadi alasan utama netizen menyampaikan harapan mereka untuk Indonesia yang lebih damai di tahun 2017. Situasi terbelahnya bangsa tampaknya sudah mulai terasa di mana setiap hari netizen disuguhi twit-war atau perang ocehan di Twitter. Tak terbatas di Twitter, masyarakat sering dijejali dengan berbagai informasi palsu dan bernuansa fitnah (hoax) yang beredar liar seolah tanpa kontrol.

Adapun isu-isu yang mengandung provokasi tidak sedikit yang dengan sengaja dibuat-buat oleh berbagai akun provokatif yang mencari keuntungan bagi mereka sendiri. Masih dari pengamatan di Twitter, akun-akun yang hobi menyebarkan isu-isu provokatif, umumnya memiliki pengaruh (influence) yang cukup tinggi. Dari jumlah pengikut (follower) yang besar, mereka mampu dengan mudah mendapat perhatian khusus dari para netizen. Bagi netizen yang hobi membaca informasi secara online, terutama dari media sosial bukan dari media massa yang kredibilitasnya dikenal luas, tanpa mencari tahu keakurasian isu tersebut, akan sangat mudah terprovokasi.

Seorang pendiri akun portal media sosial dengan akun Twitternya @postmetroinfo, secara gamblang menyatakan bahwa melalui medianya tersebut dia memang berkepentingan untuk menyebarkan isu-isu demi urusan politik. Dia juga menjelaskan alasan mengapa medianya itu kerap memposting isu provokatif. “Saya pilih oposisi, makanya saya provokatif mengkritik pemerintah. Ada kepuasan menyampaikan kritik. Perang informasi di internet bagi saya seru.” Demikian Hamdi Mustapa, pemilik akun postmetro.info mengatakan kepada Majalah Tempo, (8/1/2017).

Kita tidak tahu ada berapa banyak situs yang sengaja dibuat untuk menimbulkan konflik. Namun, dari ucapan Hamdi tersebut, semestinya kita bisa mulai membentengi diri kita terhadap pihak-pihak yang memang sengaja menggoyangkan kerukunan kita dalam bermasyarakat. Seperti para netizen yang mengharapkan Indonesia menjadi lebih damai pada tahun 2017, mestinya kita sebagai masyarakat juga berusaha keras sesuai kemampuan masing-masing untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat yang bhinneka dari sisi agama, suku, ras, bahasa dan budaya. (NR) [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...