HomeBeritaIkrar Damai dari Bima

Ikrar Damai dari Bima

Dengan senyum mengembang dua individu berhati damai berjabat tangan erat disaksikan puluhan pasang mata siswa dan guru SMAN 1 Bolo Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka adalah Tumini, korban aksi teror Bom Bali 2002, dan Ali Fauzi, mantan pelaku aksi kekerasan. Saat berjabat tangan, Tumini dan Ali mengucapkan ikrar damai.
Peristiwa tersebut terjadi dalam forum “Dialog Interaktif Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 1 Bolo pada 30 Oktober 2015. Kegiatan itu merupakan rangkaian safari kampanye perdamaian AIDA di lima sekolah di NTB, yakni SMAN 1,SMAN 3, SMAN 4 Kota Bima, SMKN 2 Kota Bima, dan SMAN 1 Bolo, Kabupaten Bima.
Dengan segala kerendahan hati mantan pelaku kekerasan, Ali Fauzi, meminta maaf kepada korban atas kekeliruan kelompoknya pada masa silam. Sebagai korban aksi kekerasan, Tumini berjiwa besar memaafkan kekhilafan mantan pelaku yang telah mencederai fisik dan mentalnya pada masa lalu, meski proses pemaafannya membutuhkan waktu yang panjang. “Sebagai korban, seratus persen saya ikhlas memaafkan pelaku yang telah melukai badan saya,” ujarnya.
Salah satusiswi SMAN 1 Bolo yang menjadi peserta kegiatan sempat tak yakin dengan kalimat tegas Tumini. “Ibu menyatakan, saat ini sudah berdamai dengan masa lalu, tetapi memaafkan itu butuh proses, bagaimana proses memaafkanitu dan seberapa lama?” dia bertanya.
Menanggapi hal itu, Tumini mengakui memaafkan orang yang menyakiti dirinya sangat tidak mudah, butuh waktu bertahun-tahun. Apalagi aksi brutal para teroris telah membuatnya kehilangan pekerjaan, padahal saat itu ia merupakan tulang punggung keluarga.
Pada masa-masa awal setelah peristiwa Bom Bali, Tuminisangat marah dan tidak dapat memaafkan kejahatan para pelaku. Namun, seiring berjalannya waktu ia memilih untuk berdamai dengan masa lalu dan enggan membalas kekerasan yang menimpanya dengan kekerasan serupa. “Lama kelamaan saya berpikir, manusia hidup pasti ada salahnya. Kalau kekerasan dilawan dengan kekerasan maka tidak akan pernah ada ujungnya,” katanya.
Usai cedera fisiknya sembuh, Tumini sempat ditolak saat melamar kerja di pelbagai tempat. Bekas luka bakar di tubuhnya akibat bom menjadi alasan penolakan itu. Namun, semangatnya tak kendur. Enggan larut dalam kesedihan berkepanjangan, ia memutuskan berjualan nasi bungkus di bandara Ngurah Rai, Denpasar. “Alhamdulillah, Tuhan kasih saya rezeki melimpah hingga saya bangkit kembali dan kini dipertemukan dengan AIDA untuk mengampanyekan perdamaian,” terang dia.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menyambut positif ikrar damai Tumini dan Ali dalam kegiatan siang itu. Permintaan maaf dari mantan pelaku dan pemberian maaf dari korban, kata dia, merupakan wujud kerja sama sinergis berbagai elemen bangsa dalam upaya pembangunan perdamaian di Indonesia.
Hasibullah juga mengajak para siswa meneladani ketangguhan Tumini. Selain mampu bangkit dari keterpurukan, perempuan 40 tahun itu mampu berdamai dengan kenyataan masa lalunya, serta mengikhlaskan kesalahan yang diperbuat saudara sebangsanya. “Kalau dulu ibu kita Kartini, maka sekarang ada yang baru, ibu kita Tumini,” ujarnya berkelakar yang disambut riuh tawa para siswa.
Kegiatan dialog interaktif di SMAN 1 Bolo siang itu semakin hangat dengan antusiasme para siswa yang mengaku terinspirasi atas sikap hidup Tumini. Seorang siswa menilai sangat jarang ada orang bisa sabar, ikhlas, dan memaafkan orang lain yang telah menyakiti sampai membekaskan luka sepanjang hidup. “Ibu Tumini bisa memaafkan para pelaku, termasuk kepada Pak Ali Fauzi yang pernah menjadi bagian dari kelompok pelaku. Luar biasa mulianya,” ucap sang siswa di tengah acara.
Tak hanya Tumini yang membangkitkan jiwa damai dan ketangguhan para siswa di Bima. Iwan Setiawan,korban Bom Kuningan Jakarta 2004, juga menginspirasi generasi muda Bima untuk berhati damai dan tangguh. Dalam kegiatan dialog interaktif di SMKN 2 Kota Bima, ia menuturkan telah ikhlas menjalani kehidupan meski mengalami cacat permanen akibat bom. Ia tak maumenaruh dendam di dalam hati kepada pelaku kekerasan yang telah menyakitinya. Sarjana ilmu komputer itu memilih menguatkan diri dengan filosofi “tukang parkir”. Meski seharian menjaga ratusan mobil dan motor, tukang parkir selalu ikhlas ketika satu persatu kendaraan diambil pemiliknya. Dia menyadari bahwa semua yang ada padanya hanya titipan sementara.
Di hadapan kawula muda Bima, Iwan melantunkan petikan ayat suci Alquran, “Inna shalaty wa nusuky wa mahyaya wa mamaty lillahi rabbil alamin” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya milik Allah penguasa semesta alam). Ia terus berusaha mengimplementasikan ayat tersebutdalam hidupnya. “Jadi ketika sebagian nikmat saya diambil, mata kananhilang, istri meninggal, saya tetap harus kuat, harus ikhlas, karena semua itu hanya titipan Allah. Semua adalah kehendak dan suratan takdir. Qadha danqadar manusia di tangan Allah. Keikhlasan hati dan kasih sayang sesama manusia harus selalu ditanamkan di hati,” tuturnya.
Pengalaman hidup Iwan sangat menyentuh hati siswa-siswi dari beberapa sekolah di Kota Bima. Seorang siswa SMKN 2 mengaku termotivasi untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan setelah mendengar kisah pria asal Brebes, Jawa Tengah itu.
Sementara itu mantan pelaku aksi terorisme, Ali Fauzi, di depan para pelajar menyampaikan pesan pentingnya menghindari aksi kekerasan. Alasannya, kekerasan menimbulkan kerusakan dan kesengsaraan tanpa batas, seperti yang dialami Tumini dan Iwan, dua korban bom yang kini menjadi sahabatnya dalam Tim Perdamaian AIDA.
Ali mengakui pertemuannya dengan sejumlah korban bom terorisme semakin mengukuhkan tekadnya untuk meninggalkan jaringan kelompok kekerasan yang pernah dia ikuti. Menurut dia, “Korban adalah orang tak berdosa dari aksi kekerasan. Mengetahui atau mendengarkan kisah teman-teman korban tersakiti karena ledakan bom itu sungguh membuat saya sadar bahwa aksi teror itu sangat-sangat tidak bisa dibenarkan.”
Dampak buruk aksi kekerasan seperti terorisme menyadarkan para siswa peserta Dialog Interaktif di Bima bahwa kekerasan bukan solusi. Salah satu siswa SMAN 1 Kota Bima berkomentar bahwa aksi terorisme sangat dilarang dalam Islam. Seorang siswa SMAN 4 Kota Bima juga melontarkan pemikiran senada. Menurut dia, aksi kekerasan yang dilakukan kelompok tak bertanggung jawab telah membuat citra agama Islam menjadi buruk. Aktivitas mereka yang membunuh dan melukai manusia sungguh merupakan dosa besar. “Islam itu agama damai. Kalau mau memberantas kemaksiatan pun harus dengan cara damai. Memberantas kemaksiatan dengan kekerasan justru memicu malapetaka yang lebih besar,” tuturnya. (MSY) [SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi VII Januari 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...