HomeBeritaMembumikan Dakwah Perdamaian dari...

Membumikan Dakwah Perdamaian dari Kisah Korban

“Korban memiliki kekuatan luar biasa untuk memberikan sugesti kepada masyarakat agar tidak melakukan aksi kekerasan atau teror sebab merekalah yang merasakan langsung dampak aksi teror. Karena itu, korban merupakan satu kekuatan yang sangat berpengaruh untuk membangun Indonesia yang lebih damai.”
Demikian ungkap seorang peserta Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (6/8/2016). Dalam kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Pusat Layanan Psikologi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, para aktivis dakwah dari organisasi Al-Washliyah di wilayah Medan dan sekitarnya bersilaturahmi dengan tiga penyintas terorisme, Nanda Olivia Daniel (korban Bom Kuningan 2004); Warti dan Hayati Eka Laksmi (korban Bom Bali 2002).
Dalam kesempatan itu, para penyintas berbagi kisah hidupnya yang berubah drastis akibat aksi terorisme. Ledakan bom di kawasan Legian, Kuta, Bali, telah merenggut nyawa suami Warti dan Hayati Eka Laksmi yang sedang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga tercinta.
“Saya menangis histeris tatkala mengetahui suami meninggal menjadi korban Bom Bali. Anak masih berusia empat tahun, dan saya tidak punya siapa-siapa di Bali karena hanya ikut suami. Saya sempat sedih, resah bagaimana merawat dan membesarkan anak kami seorang diri,” Warti berkisah diselingi isak tangis.
Menyambung rekannya, Eka menceritakan pengalamannya menjadi korban terorisme di hadapan peserta pelatihan. Ia mengaku bersedia membagi kisah hidupnya kepada tokoh agama karena ingin mengingatkan masyarakat tentang dampak terorisme yang dialami diri dan rekan-rekannya, dan berharap tidak ada lagi korban lain. “Cukuplah kami yang merasakannya. Kami ingin menyadarkan masyarakat dengan keadaan kami,” kata Eka.
Sementara itu, akibat bom di depan Kedutaan Besar Australia Kuningan, Jakarta, 9 September 2004, Nanda mengalami cacat permanen pada jari-jari tangan. Dalam pelatihan, ia menuangkan kepedihan lantaran merasa kepedulian pemerintah dalam memberikan layanan medis saat dirinya terdampak ledakan bom sangat lambat.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam forum pelatihan menyampaikan saat ini pihaknya melakukan advokasi agar revisi UU Antiterorisme yang sedang dibahas Dewan Perwakilan Rakyat memuat aturan jaminan pemerintah atas biaya pengobatan korban terorisme pada masa kritis. Dengan aturan itu diharapkan tidak ada lagi pengalaman pahit seperti yang menimpa Nanda.
Selain itu, Hasibullah juga menyatakan bahwa masyarakat bisa mengambil pembelajaran dari kisah korban bahwa betapa pentingnya perdamaian dalam kehidupan. Ia mengimbau para tokoh agama menyampaikan dakwah kepada masyarakat dengan memuat pembelajaran dari penyintas terorisme dan diperkuat dengan dalil-dalil keagamaan.
“Kita ingin mendorong para tokoh agama untuk menyadarkan masyarakat tentang bahaya penggunaan aksi kekerasan, sekaligus menjelaskan dampak destruktif aksi teror terhadap korban dan keluarganya yang nota bene umat beragama,” kata dia.
Di samping korban terorisme, pelatihan juga menghadirkan narasumber pakar, yaitu pengamat jaringan ekstremisme, Sofyan Tsauri, dan Rois Syuriah PBNU, KH. Masdar Farid Mas’udi. Sofyan menilai kelompok jihadi-takfiri telah mereduksi ajaran agama dan salah memahami ayat-ayat Alquran, terutama tentang jihad. Menurut dia, kelompok ekstremis telah seenaknya sendiri mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka, dan memangkas makna jihad menjadi perang semata.
“Karena itu para mubalig harus bisa meluruskan makna ayat-ayat itu, dan menjaga keamanan serta ketertiban agar tidak terjadi konflik sosial di masyarakat. Sebab, konflik sosial bisa menjadi pemantik bagi kelompok jihadis untuk melakukan aksi terorisme,” ujarnya.
Sementara itu, Kiai Masdar berpendapat paham ekstremisme bisa muncul dari segala macam ideologi, termasuk agama. Ia mengungkapkan ekstremisme dapat dicegah dengan cara beragama yang moderat, yaitu melaksanakan ajaran agama sebaik-baiknya disesuaikan dengan konteks zaman dan tempat.
Dalam pelatihan itu para peserta juga mendapatkan pembelajaran dari rekonsiliasi korban dan mantan pelaku aksi kekerasan. Narasumber pada sesi ini adalah Albert Christiono (korban Bom Kuningan 2004) dan Iswanto (mantan anggota jaringan terorisme).
Iswanto telah melepaskan diri dari kelompok teroris dan telah meninggalkan jalan kekerasan. Ia mengaku salah satu faktor yang menyebabkan dirinya menyadari kekeliruan ajaran kelompok teror adalah perjumpaannya dengan para korban terorisme. “Mereka mengalami sakit yang luar biasa karena aksi teman-teman saya dulu. Saya betul-betul minta maaf kepada para korban,” kata dia.
Sementara itu, Albert mengaku tidak pernah menyimpan dendam kepada para pelaku aksi teror. Dalam agamanya, ia dididik untuk mengasihi manusia. Tulus dari dalam hati ia telah memaafkan mantan pelaku. Di hadapan para peserta pelatihan, Albert dan Iswanto berjabat tangan sebagai simbol rekonsiliasi dan persatuan antara korban dan mantan pelaku untuk menyuarakan perdamaian.
Para peserta mengaku mendapatkan sudut pandang baru tentang dakwah dan perdamaian setelah mengikuti pelatihan. Mereka mengapresiasi para korban yang mampu mengambil peran menyuarakan perdamaian di masyarakat. “Kami akan membumikan pesan-pesan perdamaian dalam kegiatan dakwah dan kehidupan sosial,” ujar salah seorang peserta. (AS) [SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA ” Suara Perdamaian” edisi X Oktober 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...