Home Berita Menguatkan Semangat Basudara dengan Ketangguhan Korban
Berita - 16/03/2017

Menguatkan Semangat Basudara dengan Ketangguhan Korban

Sebuah Monumen berbentuk gong di jantung kota Ambon menjadi saksi kekaraban Tim Perdamaian, yang terdiri atas penyintas dan mantan pelaku aksi terorisme, sore itu. Mahanani, Albert dan ISwanto menyempatkan diri mengunjungi tempat bersejarah itu di sela kegiatan safari kampanye perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) akhir Agustus lalu. Sesuai namanya, Gong Perdamaian Dunia, monumen itu meneguhkan semangat Tim Perdamaian untuk membangun Indonesia lebih damai.
Di ibu kota Provinsi Maluku, Aliansi Indonesia Damai (AIDA) melakukan safari kampanye perdamaian di lima sekolah di kota Ambon, yaitu MAN 1, MAN 2, MA Al-Fatah, SMAN 3, dan SMAN 13 Ambon. AIDA mengajak 250 siswa dari lima sekolah tersebut untuk menumbuhkan semangat perdamaian melalui kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”.
Di setiap sekolah, kegiatan Dialog Interaktif menyuguhkan materi yang mendorong para peserta memiliki semangat ketangguhan, tak mudah menyerah menghadapi masalah serta menutupi kesalahan masa lalu dengan kebaikan. Salah satunya adalah materi yang disampaikan oleh Tim Perdamaian.
Anggota Tim Perdamaian, Albert Christiono, dalam kesempatan Dialog Interaktif di SMAN 3 Ambon berbagi pengalaman dengan para peserta tentang kisah hidupnya sebagai penyintas teror Bom Kuningan 2004. Ia mengisahkan, saat mobil boks berisi bom meledak di Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta pada tahun 2004, ia sedang dalam perjalanan membantu pekerjaan orang tuanya di bidang ekspedisi. Dari ledakan itu logam pipih sepanjang 5 cm menancap di kepalanya.
“Selama beberapa bulan saya sempat trauma kalau melihat mobil boks, saya khawatir jangan-jangan ada ledakan lagi. Kepala saya harus dioperasi dan bekasnya sekarang terasa agak benjol,” ujar Albert.
Masa-masa sulit akibat ledakan bom dia lalui dengan tabah. Ia mengaku tak mendendam para pelaku aksi teror dan tak ingin membalas keburukan yang ditimpakan kepada dirinya. Sebab, ia menjunjung tinggi ajaran saling mengasihi yang sangat dianjurkan dalam agamanya. Dia mengajak generasi muda untuk hidup berkasih sayang serta menjauhi kekerasan kepada sesama.
Senada dengan Albert, anggota Tim Perdamaian, Mahanani Prihrahayu, berbagi kisah di hadapan para pelajar peserta Dialog Interaktif di MAN 1, MAN 2, dan MA Al-Fatah Ambon. Suaminya, alm. Slamet Heriyanto, adalah korban Bom JW Marriott 2003. Sepeninggal suami, Mahanani merawat dan membesarkan dua putranya seorang diri.
“Anak saya yang kecil sekarang bersekolah seusia dengan adik-adik semua. Saya ingin berpesan, adik-adik harus menghormati orang tua, jangan sia-siakan pengorbanan dan usaha mereka dalam mendidik kalian,” kata dia.
Sementara itu, anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku kekerasan, Iswanto, menyampaikan imbauan kepada peserta Dialog Interaktif agar tidak terhasut ajakan orang untuk melakukan kekerasan. Dari pengalamannya tergabung dengan jaringan teroris, Iswanto menyadari kekeliruan kelompoknya di masa lalu. Ia didoktrin untuk melakukan kekerasan dengan dalih ajaran agama. Selain itu, ia dipaksa membatasi hubungan dan interaksi dengan keluarga. Bahkan, saat anggota keluarganya meninggal dunia, ia tidak dikabari apalagi diperkenankan pulang.
Iswanto membaca kembali kitab-kitab rujukan tentang jihad hingga menyadari begitu jauh kelompok itu menyalahgunakan ajaran agama untuk berbuat kekerasan. Ia semakin mantap untuk meninggalkan kelompok itu setelah gurunya menganjurkan untuk menjauhi aksi kekerasan.
Ia juga mengimbau para siswa peserta Dialog Interaktif melestarikan semangat basudara (bersaudara) yang sudah menjadi tradisi masyarakat Ambon untuk menjaga kedamaian. “Saya dipertemukan dengan para korban, ada yang luka bakar, ada yang sampai cacat sumur hidup. Saya sering tidak kuat mendengarkan kisah mereka menjadi korban bom. Saya sudah minta maaf kepada para korban dan alhamdulillah saya dimaafkan. Sekarang kami menjadi sahabat, bersama-sama mengampanyekan perdamaian kepada adik-adik semua,” kata dia dalam Dialog Interaktif di MAN 2 Ambon.
Dalam penyelenggaraan Dialog Interaktif di MA Al-Fatah Ambon, seorang peserta menyampaikan kesan dan pesannya selama mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan sering menjumpai berbagai bentuk ajakan kekerasan dengan dalih keagamaan yang banyak disebarkan di dunia maya. Siswa itu juga mengaku sempat menyetujui ide kelompok teror asal Timur Tengah melakukan kekerasan di berbagai belahan dunia.
“Tapi, setelah mendengarkan cerita dari Ibu Mahanani dan Bapak Iswanto saya jadi tahu kekerasan tidak boleh terjadi. Agama kita sendiri tidak mengajarkan kekerasan,” ungkapnya.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, pada akhir kegiatan menyampaikan pesan kepada para pelajar peserta Dialog Interaktif tentang kiat menjadi generasi yang tangguh. Generasi tangguh, kata dia, adalah yang mampu memadukan pembelajaran dari korban dan mantan pelaku. Dari korban terorisme peserta mendapatkan hikmah agar tidak membalas kekerasan dengan kekerasan lainnya. Dari mantan pelaku, lanjutnya, para siswa dapat mengambil pelajaran bahwa ketidakadilan mesti tidak dibalas dengan ketidakadilan lainnya.
“Generasi tangguh adalah yang berjiwa besar memberi maaf kesalahan orang lain. Generasi tangguh adalah yang mau mengakui kesalahan masa lalu dan mampu memperbaiki kesalahan itu,” Hasibullah menandaskan. (MLM) [SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi X Oktober 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *