HomeSuara Korban"Saya Harus Bangkit"

“Saya Harus Bangkit”

Sabtu, 12 Oktober 2002, sekitar pukul 22.30 WITA terjadi ledakan bom di Jalan Legian Raya, Kuta, Bali. Malam itu menjadi bencana bagi keluarga Hayati Eka Laksmi. Pasalnya, sang suami, Imawan Sardjono,  yang sedang bekerja mengantarkan wisatawan menjadi salah satu korban aksi terorisme itu. Eka, panggilan akrabnya, malam itu tak tahu menahu telah terjadi peristiwa besar di Pulau Dewata. Seperti hari-hari biasa malam itu dia sedang menemani tidur dua buah hatinya yang masih kecil, Alif (3) dan Iqbal (2).

Eka mengetahui kejadian tersebut keesokan harinya. Pagi-pagi, perwakilan dari kantor suaminya datang dan mengabarkan bahwa mobil yang dikendarai Imawan Sardjono ditemukan di lokasi ledakan bom. Kepedihan tak terperi pun menggelayuti hati. Tangis haru menyeruak dari keluarga dan orang-orang dekat.

Dua hari sebelum kejadian, Eka bermimpi melihat pohon pisang berbuah emas, lalu dia diajak oleh anak kecil ke sebuah bandar udara. Sampai di sana dia menyaksikan ada air bah yang sangat besar. Dia kemudian melihat di dalam sebuah pesawat ada dua anaknya tapi tak terlihat sang suami tercinta. Selain mimpi  tersebut, Eka juga merasakan firasat lain. Sebelum berangkat bekerja pada hari kejadian, sang suami menelepon ibu mertuanya, mengatakan bahwa dia menitipkan istri dan anak-anaknya.

Pagi itu usai mendengar kabar musibah yang menimpa suami, Eka bergegas mencari keberadaan dan kejelasan nasibnya. Dia berusaha mencari hingga ke kantor tempat suaminya bekerja serta ke penginapan tamu wisatawan yang diantar oleh suaminya, namun hasilnya nihil. Tamu wisatawan yang diantar oleh suaminya ternyata juga belum kembali ke penginapan.

Dia kemudian disarankan untuk mencari suaminya di seluruh rumah sakit di Denpasar. Eka pun mengikuti saran itu. Sebanyak 13 rumah sakit telah dia telusuri tetapi sosok yang dicari belum juga diketemukan. Tepat sepekan setelah kejadian, jenazah Imawan Sardjono akhirnya teridentifikasi di Rumah Sakit Sanglah Denpasar dengan kondisi tak utuh lagi.

Meskipun sangat sedih Eka berusaha tegar menerima cobaan berat kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Dalam kesedihan yang teramat sangat itu cobaan yang dia terima bertambah. Alif, si sulung, meskipun masih kecil tapi tampaknya sangat terpukul. Dia sempat tidak mempercayai ayahnya telah meninggal dunia dan jenazahnya terbakar.

Secara perlahan Eka berusaha menenangkan buah hatinya dan mencoba mengabarkan bahwa ayahnya telah tiada. “Ini Bapak, Nak,” ucap Eka berusaha menenangkan Alif. Dari sentuhan itu barulah sang anak menjadi tenang dan mulai menangis.

Hari-hari setelah kepergian almarhum, kesedihan masih menyelimuti Eka dan keluarga. Dia mengaku semangat hidupnya sempat merosot karena ditinggal suami saat putra-putranya masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Lambat laun Eka mencoba mengikhlaskan kepergian sang suami. Dia berusaha menyadarkan diri sendiri bahwa hidup harus terus berjalan.

Eka mengatakan bahwa dua buah hatinyalah yang menjadi alasan dia bangkit mengalahkan semua kepedihan masa lalu. Dia yakin bahwa dengan berusaha keras dia akan mampu untuk membimbing anak-anaknya. Eka pernah merenung, jikalau dirinya sakit, siapa yang merawat anak-anak. Jikalau dirinya rapuh, bagaimana anak-anaknya dapat tumbuh dengan baik.

“Saya harus bangkit, saya harus membesarkan anak-anak,” kata dia dalam kegiatan kampanye perdamaian yang diinisiasi Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMK Karya Wisata Pandeglang, Kamis (3/11/2016).

Eka bersyukur keluarga dan sahabat terus mendukungnya untuk bersemangat merawat dan mendidik dua buah hatinya. Sepeninggal suami, dia mencari pekerjaan sebagai sumber penghidupan bagi diri dan keluarganya. Dia diterima bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Denpasar. Mendidik para siswa dia rasakan seperti mendidik anak sendiri. Bekerja di lingkungan pendidikan dengan banyak siswa membuatnya merasa nyaman seolah berada dalam keluarga yang sangat besar.

Ketabahan hati Eka semakin kuat setelah bersama para korban Bom Bali 2002 mendirikan Yayasan Isana Dewata, perkumpulan isteri, suami dan anak korban Bom Bali. Dalam organisasi tersebut Eka dan rekan-rekan sesama korban Bom Bali saling menguatkan mental agar tetap tabah menjalani kehidupan. Dia bersyukur saat ini telah berhasil merawat putra-putranya, dan bertekad akan terus mendidik mereka hingga jenjang pendidikan tertinggi. [AM]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...