Home Suara Korban “Saya Harus Bangkit”
Suara Korban - 15/03/2017

“Saya Harus Bangkit”

Sabtu, 12 Oktober 2002, sekitar pukul 22.30 WITA terjadi ledakan bom di Jalan Legian Raya, Kuta, Bali. Malam itu menjadi bencana bagi keluarga Hayati Eka Laksmi. Pasalnya, sang suami, Imawan Sardjono,  yang sedang bekerja mengantarkan wisatawan menjadi salah satu korban aksi terorisme itu. Eka, panggilan akrabnya, malam itu tak tahu menahu telah terjadi peristiwa besar di Pulau Dewata. Seperti hari-hari biasa malam itu dia sedang menemani tidur dua buah hatinya yang masih kecil, Alif (3) dan Iqbal (2).

Eka mengetahui kejadian tersebut keesokan harinya. Pagi-pagi, perwakilan dari kantor suaminya datang dan mengabarkan bahwa mobil yang dikendarai Imawan Sardjono ditemukan di lokasi ledakan bom. Kepedihan tak terperi pun menggelayuti hati. Tangis haru menyeruak dari keluarga dan orang-orang dekat.

Dua hari sebelum kejadian, Eka bermimpi melihat pohon pisang berbuah emas, lalu dia diajak oleh anak kecil ke sebuah bandar udara. Sampai di sana dia menyaksikan ada air bah yang sangat besar. Dia kemudian melihat di dalam sebuah pesawat ada dua anaknya tapi tak terlihat sang suami tercinta. Selain mimpi  tersebut, Eka juga merasakan firasat lain. Sebelum berangkat bekerja pada hari kejadian, sang suami menelepon ibu mertuanya, mengatakan bahwa dia menitipkan istri dan anak-anaknya.

Pagi itu usai mendengar kabar musibah yang menimpa suami, Eka bergegas mencari keberadaan dan kejelasan nasibnya. Dia berusaha mencari hingga ke kantor tempat suaminya bekerja serta ke penginapan tamu wisatawan yang diantar oleh suaminya, namun hasilnya nihil. Tamu wisatawan yang diantar oleh suaminya ternyata juga belum kembali ke penginapan.

Dia kemudian disarankan untuk mencari suaminya di seluruh rumah sakit di Denpasar. Eka pun mengikuti saran itu. Sebanyak 13 rumah sakit telah dia telusuri tetapi sosok yang dicari belum juga diketemukan. Tepat sepekan setelah kejadian, jenazah Imawan Sardjono akhirnya teridentifikasi di Rumah Sakit Sanglah Denpasar dengan kondisi tak utuh lagi.

Meskipun sangat sedih Eka berusaha tegar menerima cobaan berat kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Dalam kesedihan yang teramat sangat itu cobaan yang dia terima bertambah. Alif, si sulung, meskipun masih kecil tapi tampaknya sangat terpukul. Dia sempat tidak mempercayai ayahnya telah meninggal dunia dan jenazahnya terbakar.

Secara perlahan Eka berusaha menenangkan buah hatinya dan mencoba mengabarkan bahwa ayahnya telah tiada. “Ini Bapak, Nak,” ucap Eka berusaha menenangkan Alif. Dari sentuhan itu barulah sang anak menjadi tenang dan mulai menangis.

Hari-hari setelah kepergian almarhum, kesedihan masih menyelimuti Eka dan keluarga. Dia mengaku semangat hidupnya sempat merosot karena ditinggal suami saat putra-putranya masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Lambat laun Eka mencoba mengikhlaskan kepergian sang suami. Dia berusaha menyadarkan diri sendiri bahwa hidup harus terus berjalan.

Eka mengatakan bahwa dua buah hatinyalah yang menjadi alasan dia bangkit mengalahkan semua kepedihan masa lalu. Dia yakin bahwa dengan berusaha keras dia akan mampu untuk membimbing anak-anaknya. Eka pernah merenung, jikalau dirinya sakit, siapa yang merawat anak-anak. Jikalau dirinya rapuh, bagaimana anak-anaknya dapat tumbuh dengan baik.

“Saya harus bangkit, saya harus membesarkan anak-anak,” kata dia dalam kegiatan kampanye perdamaian yang diinisiasi Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMK Karya Wisata Pandeglang, Kamis (3/11/2016).

Eka bersyukur keluarga dan sahabat terus mendukungnya untuk bersemangat merawat dan mendidik dua buah hatinya. Sepeninggal suami, dia mencari pekerjaan sebagai sumber penghidupan bagi diri dan keluarganya. Dia diterima bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Denpasar. Mendidik para siswa dia rasakan seperti mendidik anak sendiri. Bekerja di lingkungan pendidikan dengan banyak siswa membuatnya merasa nyaman seolah berada dalam keluarga yang sangat besar.

Ketabahan hati Eka semakin kuat setelah bersama para korban Bom Bali 2002 mendirikan Yayasan Isana Dewata, perkumpulan isteri, suami dan anak korban Bom Bali. Dalam organisasi tersebut Eka dan rekan-rekan sesama korban Bom Bali saling menguatkan mental agar tetap tabah menjalani kehidupan. Dia bersyukur saat ini telah berhasil merawat putra-putranya, dan bertekad akan terus mendidik mereka hingga jenjang pendidikan tertinggi. [AM]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *