HomeBeritaKebesaran Jiwa Korban Memaafkan...

Kebesaran Jiwa Korban Memaafkan Mantan Pelaku

Dok. AIDA – Kebersamaan antara korban dengan mantan pelaku terorisme setelah mengikuti Pelatihan Tim Perdamaian di Kota Tasikmalaya (24-25/9/2017)
Atot berdiri dari tempat duduknya dan bergegas menjulurkan tangan kepada Iswanto yang berada di sampingnya untuk berjabat tangan. Seketika Iswanto pun menyambutnya dan mereka bersalaman. “Saya telah memaafkan Bapak,” ujar Atot.
Atot Ruhendar adalah korban terorisme di Hotel JW Marriott Jakarta, 5 Agustus 2003, sementara Iswanto mantan anggota jaringan terorisme yang telah bertobat. Momen itu terjadi dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, akhir September lalu.
Meski Atot mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuh akibat ledakan bom terorisme dan dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan, tapi ia tidak dendam pada mantan pelaku. Justru dengan lapang dada dan ikhlas ia telah memaafkan mantan pelaku. Pria kelahiran Tasikmalaya, 4 Desember 1947, ini mengemukakan dirinya memaafkan mantan pelaku lantaran menyadari bahwa memaafkan sesama merupakan perbuatan mulia.
“Setelah saya mendengarkan kisah Bapak (Iswanto) kembali ke jalan yang benar dan jalan perdamaian, saya telah memaafkan Bapak. Sesama manusia hendaknya kita saling memaafkan. Saya sudah ikhlas atas apa yang terjadi pada saya, itu sudah takdir Allah SWT,” ujar Atot.
Sikap serupa juga ditunjukkan dua korban lainnya yakni Didik Hariyono dan Sutarno. Sama seperti Atot, Didik korban Bom JW Marriott 2003, sedangkan Sutarno ialah korban aksi teror di Jl. HR. Rasuna Said Kuningan, Jakarta pada 9 September 2004. Didik dan Sutarno juga telah ikhlas menerima takdir Tuhan yang menimpa dirinya belasan tahun silam dan kini telah memaafkan mantan pelaku.
Akibat ledakan bom terorisme, Didik mengalami luka bakar cukup parah. Ia menjalani beberapa kali operasi dan dirawat di rumah sakit selama 11 bulan. Akibat musibah itu ia harus kembali belajar berjalan, belajar menggenggam sesuatu, belajar bicara hingga belajar makan dan menulis. Sementara itu, Sutarno mengalami luka-luka di punggungnya karena tertimpa “hujan kaca” dari sebuah gedung di kawasan Kuningan yang rusak akibat ledakan bom. Ia mendapatkan beberapa jahitan di punggung dan menjalani perawatan selama sebulan.
Sebelumnya, dalam kegiatan itu, mantan pelaku, Iswanto, telah menuturkan kisah hidupnya. Saat berkisah ia menyampaikan permohonan maaf kepada para korban yang hadir. Ia mengaku sangat prihatin melihat kondisi para korban yang mengalami luka-luka, cacat fisik atau meninggal dunia akibat kejahatan terorisme. Meski tidak terlibat aksi terorisme yang menimpa Atot, Didik dan Sutarno, Iswanto tetap meminta maaf kepada mereka. “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para korban. Permohonan maaf ini bukan hanya sekadar ucapan di mulut tapi dari lubuk hati saya yang paling dalam,” tuturnya.
Dalam kegiatan itu Iswanto juga membeberkan masa lalunya tatkala bergelut dalam jaringan terorisme dan dunia konflik. Setelah masa tertentu, ia memutuskan untuk keluar dari jaringan kelompoknya. Pertobatan dan kembali ke jalan perdamaian yang dialami Iswanto tidak instan dan mudah, melalui proses yang panjang bahkan sempat dikucilkan oleh teman-temannya dahulu. Namun, tekadnya kuat dan istrinya selalu menguatkan dan mendukung keterlibatannya dalam kegiatan misi perdamaian.
Sementara itu, mantan pelaku lain yang hadir sebagai observer, Kurnia Widodo, mengaku sangat terharu mendengarkan kisah para korban. Ia takjub dengan kebesaran jiwa dan keikhlasan para korban yang memaafkan mantan pelaku, termasuk dirinya. “Melihat Bapak-bapak (Atot, Didik dan Sutarno) yang begitu ikhlas memaafkan mantan pelaku, saya merasa bersalah meski bukan pelaku yang terlibat dalam kejadian yang menimpa Bapak-bapak,” ucap dia.
Baik Iswanto maupun Kurnia mengaku sangat senang mengikuti Pelatihan Tim Perdamaian karena bisa bersilaturahim dengan korban. Melalui kegiatan ini mereka mengaku mendapatkan pengalaman sekaligus teman baru. Mereka pun dapat berteman tanpa ada rasa takut dan curiga. Kebersamaan dan kekeluargaan di antara mereka yang telah menjadi Tim Perdamaian begitu terasa. Mereka siap bekerja sama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih damai.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengatakan Pelatihan Tim Perdamaian merupakan proses pembentukan sebuah tim yang terdiri dari korban dan mantan pelaku terorisme. Melalui kegiatan ini korban dan mantan pelaku didorong untuk terbuka membagi kisah masa lalu agar bisa saling mengenal, memahami dan menguatkan.
“Setelah korban dan mantan pelaku bisa saling mengenal dan mengerti satu sama lain maka diharapkan mereka mampu saling memaafkan atau berekonsiliasi. Mereka akan menjadi satu tim untuk misi perdamaian,” kata dia.
Lebih lanjut Hasibullah menjelaskan Tim Perdamaian akan melakukan kampanye perdamaian dengan membagi pengalaman hidupnya kepada tunas-tunas bangsa di lima sekolah di Kota Tasikmalaya. Diharapkan setelah mendengarkan kisah Tim Perdamaian, para tunas bangsa menyadari pentingnya hidup damai dalam bermasyarakat. (AS) [SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XI Januari 2017

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...