HomeSuara KorbanBelajar Mensyukuri Hikmah di...

Belajar Mensyukuri Hikmah di Balik Musibah

Menceritakan kembali pengalaman memilukan di masa lalu bukanlah suatu hal yang mudah bagi kebanyakan orang. Demikian halnya dirasakan oleh Sudirman A. Thalib, penyintas teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 9 September 2004, saat berbagi kisah dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA).
Saat mengalami kesulitan semacam itu, Sudirman berusaha mengingat besarnya hikmah di balik ujian kehidupan yang dia alami. Dia merasakan cara itu cukup efektif mengusir keraguan dan trauma ketika mengisahkan pengalamannya terkena ledakan bom di Jl. HR Rasuna Said, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan 13 tahun silam.
Dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan di Bandung pada awal Agustus 2016, Sudirman mengisahkan saat kejadian dia sedang bertugas menjaga kemanan Keduataan Besar Australia, tepatnya di gerbang masuk gedung Kedutaan. Dia mengatakan tidak begitu tahu pasti bagaimana mobil bak tertutup pembawa bom berjalan, tiba-tiba saja tubuhnya terhempas beberapa meter dari lokasi awal dia berdiri.
Sesaat setelah ledakan Sudirman mendengar orang-orang berteriak, “Bom!” Dia melihat begitu banyak luka di tubuhnya dengan darah yang mengucur. Beberapa waktu kemudian dia ditolong seorang petugas kebersihan dan tukang kebun dan dilarikan ke rumah sakit.
Selama masa perawatan di rumah sakit, Sudirman tak ingat berapa kali dia harus menjalani operasi pengangkatan logam serpihan bom atau benda asing lainnya dari tubuhnya. Setelah tiga bulan dia diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.
Akan tetapi, ujian ternyata tidak cukup sampai di situ. Setahun kemudian, dia merasakan matanya membengkak dan berair. Dia kembali ke rumah sakit dan hasil pemeriksaan dokter mengatakan bahwa di bola mata kirinya masih ada serpihan bom. Dia dirujuk ke rumah sakit di Singapura untuk operasi pengangkatan bola mata kiri.
Usai indra penglihatan hilang sebelah, ujian lain mendatangi Sudirman. Dia didiagnosa mengalami trauma otak sehingga harus mengonsumsi obat setiap hari sampai batas waktu yang tak dapat ditentukan. “Saya harus bergantung dengan obat seumur hidup saya. Ini bagian yang sangat berat,” ujarnya. Sedikitnya 7 butir obat harus dia konsumsi setiap hari untuk memulihkan kesehatannya. “Saya pernah ngeyel tidak mau minum obat tapi pas lagi jalan tiba-tiba jatuh, pingsan,” kata dia.
Kondisi kesehatan Sudirman yang diharuskan mengonsumsi obat menunjukkan fakta bahwa aksi teror telah berlalu lama namun dampaknya masih sangat dirasakan oleh korban. Pemuda kelahiran Bima itu mengharapkan kepedulian pemerintah agar menjamin pemulihan kesehatan korban terorisme.
Meskipun dilanda kepedihan yang bertubi-tubi, Sudirman selalu berusaha tabah dan bersemangat menjalani kehidupan. Sambil bekerja sebagai petugas kemanan Kedutaan Besar Australia, Sudirman melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas hidup. Pada tahun 2016, dengan tekadnya yang sangat kuat, Sudirman akhirnya bisa mewujudkan impiannya, yaitu lulus menjadi sarjana di salah satu universitas di Jakarta. “Saya bersyukur bahwa di balik musibah ada hikmah yang luar biasa dari Allah SWT,” ujarnya. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...