HomeBeritaTiada Dendam Mencengkeram Hati

Tiada Dendam Mencengkeram Hati

PADA 9 September 2004 sekitar pukul 10.00 WIB, Iwan Setiawan melewati Jalan HR Rasuna Said Kuningan. Ia mengantar istrinya yang tengah hamil delapan bulan untuk mengecek kehamilan di rumah sakit di kawasan Manggarai.
Saat melintas di depan Gedung Plaza 89 dengan motornya, tiba-tiba Iwan dan istri terpelanting ke arah trotoar. Saat itu bom dari mobil boks meledak di depan Kedutaan Besar Australia.
Iwan panik menyelamatkan istrinya yang sedang hamil tua. Ia berniat untuk menuju rumah sakit terdekat, RS MMC, di kawasan Kuningan. Namun, menyadari mahalnya biaya di sana, Iwan mengurungkan niat. Ia kembali ke motornya, tetapi mesin tidak bisa menyala.
“Saat itu saya berkata dalam hati ‘Ya Allah kalau Engkau sayang beri hamba kesempatan untuk hidup dan kesempatan untuk menjaga amanat, istri dan anak saya di kandungan’, dengan kalimat takbir ‘Allahu Akbar’ motor saya nyala,” tutur Iwan saat mengutarakan pengalamannya pada acara pelatihan media tentang terorisme, di Jakarta, kemarin.
Ketika kembali mengendarai motor, tiba-tiba pandangan Iwan kabur. Ia dan istri terjatuh. Seseorang menghampiri dan membawa mereka ke rumah sakit mata Aini Kuningan. Saat itu istrinya terlihat baik-baik saja.
Sang istri lalu dibawa ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan karena tengah kontraksi. Keesokan harinya ia mendengar kabar bahagia, anak keduanya bernama Rizki Nur Hidayat atau Bombom telah lahir. Akan tetapi, di hari yang sama, ia mendapat kenyataan pahit dari dokter bahwa bola mata kanannya yang terkena serpihan bom tidak dapat diselamatkan.
Dua tahun setelah kejadian bom, istri Iwan meninggal dunia. Meski saat kejadian bom terlihat baik-baik saja, istrinya mendapatkan luka di kepala, telinga, dan tulang belakang akibat kejadian tersebut.
Tidak hanya itu, Iwan kehilangan pekerjaannya sebagai pekerja bank. Ia mencoba melamar di berbagai tempat, tetapi tidak mendapat respons positif. Akhirnya, Iwan membuka usaha komputer bernama Bombom Computer di kawasan Pondok Cina Depok.
Berbeda dengan Iwan, Sri Hesti kehilangan anaknya yang berprofesi sebagai satpam. Rudi, anaknya, merupakan korban dari bom Hotel JW Marriot 2003. Anaknya yang saat itu masih berusia sekitar 18 tahun merasa tidak enak ketika hendak berangkat bekerja. Rudi mengeluh motornya bermasalah.
Berdasarkan cerita yang ia dapat dari teman-teman Rudi, pada pukul 12.30 WIB Rudi akan berganti sif bersama tiga teman lainnya. Saat hendak makan, Rudi dipanggil karena ada mobil bak terbuka yang mencurigakan. Saat ia mengejar mobil tersebut, bom tiba-tiba meledak dari mobil bak terbuka tersebut. Rudi pun terpental.
Hingga beberapa tahun pascabom, Sri masih trauma dan enggan melewati kawasan Lingkar Mega Kuningan. Dalam menggelar acara peringatan bom pun, para korban dan keluarga memilih lokasi lain.
Meski kehilangan dan menanggung trauma mendalam, para korban terorisme memutuskan tidak memupuk dendam terhadap pelaku. Iwan dan Sri memutuskan untuk memaafkan dan berdamai dengan mereka.
Iwan mengaku mengikhlaskan kejadian yang sudah merenggut masa depannya. Ia merasa itu sudah takdir Allah sekaligus mengingatkan bahwa mata, istri, serta pekerjaan hanya titipan-Nya.
Sementara itu, Sri dalam tahun-tahun awal kehilangan anaknya merasa dendam terhadap pelaku teror. Hal itu berubah saat ia bergabung dengan Aida.
“Dulu ada rasa dendam, tetapi saya pikir sudah tua kalau dendam akan menyiksa badan sendiri. Saya berpikir yang sudah ya sudah,” kata Sri. (Erandhi H Saputra/P-1) [SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Harian Media Indonesia edisi 7 April 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....