HomeBeritaTidak Membalas Kekerasan dengan...

Tidak Membalas Kekerasan dengan Kekerasan

“Saya memaafkan pelaku karena ajaran agama yang saya anut mengajarkan begitu. Allah saja mengampuni umat-Nya yang berdosa asalkan dia mau bertobat. Menurut saya, kekerasan yang dibalas dengan kekerasan itu tidak ada gunanya, bahkan merugikan diri sendiri, atau bahkan menimbulkan masalah bagi kita dan orang di sekitar kita.”
Kalimat itu diucapkan Didik Hariyono, penyintas Bom JW Marriott 2003, dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMKN 6 Pandeglang, Banten, awal November lalu. Didik termasuk salah satu korban Bom JW Marriott 2003 yang mengalami luka bakar paling parah. Selain luka bakar di sekujur tubuh, setiap sendi tulang di sisi kiri badannya mengalami kerusakan akibat benturan keras.
Meski ditimpa musibah yang tragis, semangat hidupnya tak meredup. Didik ikhlas menjalani masa pengobatan dan pemulihan selama empat tahun. Ia bersyukur saat ini sudah dapat beraktivitas normal walau pada saat-saat tertentu luka akibat bom masih terasa sakit. Kendati terluka akibat serangan teror, ia memilih untuk tak mendendam kepada pelaku. “Sifat dendam dan benci secara kejiwaan hanya akan membuat kita tidak tenang. Rugi sendiri kita kalau dendam,” ujarnya.
Kegiatan Dialog Interaktif di SMKN 6 adalah bagian dari safari kampanye perdamaian AIDA di Pandeglang. Selama sepekan pada awal November Tim Perdamaian AIDA yang terdiri atas korban dan mantan pelaku terorisme bersafari ke lima sekolah di ujung barat Pulau Jawa untuk mengajak generasi muda bangsa menumbuhkan budaya cinta damai serta menjauhi aksi kekerasan. Selain di SMKN 6, Tim Perdamaian juga berkampanye di SMK Dwi Putra Bangsa, SMA Mathlaul Anwar, SMK Karya Wisata, dan SMAN 1 Pandeglang.
Selain kisah Didik, pengalaman hidup Hayati Eka Laksmi, penyintas Bom Bali 2002, juga menjadi bagian dari kampanye perdamaian di Pandeglang. Dalam kesempatan Dialog Interaktif di SMA Mathlaul Anwar, Eka menuturkan perjuangannya menghadapi tantangan hidup setelah suaminya meninggal dunia akibat ledakan bom di kawasan wisata Legian, Bali. Tragedi itu sangat mengguncang jiwanya lantaran beban membesarkan dua buah hati tanpa kehadiran suami selalu terbayang.
Dalam sesi tanya jawab, seorang siswa peserta Dialog Interaktif terdorong untuk menggali lebih dalam kehebatan Eka menghadapi musibah. “Saya ingin bertanya ke Ibu Eka…” kata siswi berhijab itu. Pertanyaannya tertahan sebab dia tak kuasa menahan tangis sedu setelah mendengar kisah Eka. “Bagaimana caranya Ibu menghadapi itu semua?” lanjutnya menuntaskan pertanyaan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Eka menjelaskan bahwa mengikhlaskan masa lalu adalah kuncinya. Eka memilih untuk optimistis melanjutkan hidup dengan segala tantangannya ke depan ketimbang mengungkit-ungkit masa lalu, apalagi menyimpan dendam kepada orang lain yang pernah berbuat salah.
Ia juga berpesan kepada para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya dan tidak terprovokasi ajakan kekerasan. “Jihad adalah berjuang sekuat tenaga untuk menafkahi keluarga, mengayomi anak dengan sungguh-sungguh, bukan apa yang mereka (teroris) lakukan. Itu bukan jihad, itu jahat,”ungkapnya.
Anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku terorisme, Iswanto, juga berbagi kisah kepada siswa-siswi peserta Dialog Interaktif. Secara runut dia menceritakan sepak terjangnya bergabung dengan kelompok prokekerasan hingga akhirnya meninggalkan jaringan itu dan kini bersama korban terorisme mengampanyekan perdamaian. Ia juga menjelaskan salah satu penyebab dirinya dahulu terjerumus ke dalam kelompok prokekerasan adalah ketidakterbukaan dengan keluarga. Dia diperintah oleh orang-orang yang merekrutnya untuk merahasiakan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya dari keluarga.
Dari pengalamannya itu Iswanto berpesan kepada para peserta Dialog Interaktif agar patuh dan terbuka kepada orang tua, serta membentengi diri dari ajakan kekerasan dengan ilmu yang cukup. Menurutnya, banyak anak muda yang ilmunya belum begitu mumpuni lalu membaca atau mendengar ajakan dari seseorang untuk bergabung dengan kelompok prokekerasan, dan dengan mudahnya mengikuti. “Saya sarankan kepada adik-adik, apa pun kegiatan adik-adik di luar sekolah, harus atas sepengetahuan orang tua,” kata dia.
Salah satu siswa peserta Dialog Interaktif di SMK Dwi Putra Bangsa menyampaikan pembelajaran yang didapat dari kegiatan tersebut. Dia mengaku beruntung setelah mengetahui fakta bahwa aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama adalah suatu kekeliruan. “Jujur, dulu saya pernah mendapatkan pelajaran yang mengarah ke radikalisme dan kekerasan dari guru saya. Saya diberitahu kalau kita sedang salat lalu ada orang lewat di depan kita, kita boleh membunuh dia. Saya juga diajari untuk membenci orang yang beragama lain. Menurut saya itu tidak benar, dan setelah mengikuti acara ini saya jadi semakin yakin ajaran-ajaran kekerasan begitu tidak benar,” dia menuturkan.
Siswa lain dari SMK Karya Wisata menyampaikan kesannya setelah mengikuti Dialog Interaktif. Menurutnya kegiatan AIDA perlu diperluas hingga merambah semua sekolah di Indonesia sehingga terbentuk generasi yang mencintai perdamaian dan tidak suka dengan kekerasan. “Seperti yang dicontohkan Rasulullah yaitu tidak membalas kejelekan yang ditimpakan orang, justru kita harus bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan hati yang mulia,” ujarnya.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, pada akhir kegiatan menyimpulkan tentang makna ketangguhan. Generasi tangguh, kata dia, adalah yang mampu memadukan pembelajaran dari korban dan mantan pelaku, bahwa kekerasan jangan dibalas dengan kekerasan, dan ketidakadilan tidak mesti dibalas dengan ketidakadilan lainnya. Generasi tangguh adalah yang berjiwa besar memberi maaf atas kesalahan orang lain. Generasi tangguh adalah yang mau mengakui kesalahan masa lalu dan mampu memperbaiki kesalahan itu. [AM]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XI Januari 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...